The Rollies Belum Habis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • The Rollies. (TEMPO/Dimas Aryo)

    The Rollies. (TEMPO/Dimas Aryo)

    TEMPO Interaktif,  "Hari-hari...!" teriak para penonton. Entah memenuhi permintaan itu atau pas kebetulan saja, The Rollies lantas memainkan tembang lawas miliknya tersebut. Jimmy Manopo memberi ketukan lewat hi-hat lalu drum dengan tempo sedang. Hendro dan Benny Likumahua kemudian serempak menjeritkan suara trompet dan saksofon. "Hari-hari datang dan pergi," senandung Guswin, satu dari dua vokalis muda dalam formasi The Rollies terbaru. 

    Suaranya sontak mengingatkan pada sosok Gito Rollies (almarhum). Entah bagaimana, suara serak vokalis bernama asli Bangun Sugito itulah yang justru terngiang-ngiang di telinga. Begitu pula saat lagu Astuti bergema dan Burung Kecil mengalun syahdu. "Rentangkanlah sayapmu, nikmatilah kebebasanmu...." Boleh dibilang, jiwa Gito Rollies seakan belum lepas dari lagu-lagunya. 

    Konser bertajuk "Golden Memories with The Rollies" itu digelar di Bumi Sangkuriang, Bandung, Jawa Barat, Jumat malam lalu. Bermain di kota kelahirannya, grup musik yang terbentuk pada 1967 itu membuktikan diri masih bertenaga di hadapan 300-an penonton. Walau tinggal menyisakan pemain saksofon dan trompet Teungku Zulian Iskandar alias Iis Rollies, 61 tahun, dari formasi awal The Rollies, band itu masih diperkuat musisi-musisi gaek yang kenyang pengalaman bermusik. Sebut saja Benny Likumahua (trombon, saksofon, dan flute), Abadi Soesman (keyboard), Utje F. Tekol (bas), Jimmy Manopo (drum), serta Hendro (trompet). Sedangkan darah muda mengalir dari permainan Masri (gitar) serta Guswin dan Alfredo (vokal). Ya, The Rollies belum habis.

    Lagu This Time is Real dipilih sebagai nomor pembuka saat konser dimulai tepat pukul 21.00 WIB. Kaya suara alat musik tiup, lagu rock dari kelompok Tower of Power itu memanaskan suasana malam yang dingin dan basah oleh gerimis di kawasan Ciumbuleuit. "Selamat malam, Bandung," teriak Benny Likumahua di tengah lagu sambil tersenyum. Memainkan komposisi dengan rapi dan lepas, Utje F. Tekol terlihat ceria menari-nari dengan bas listriknya.

    Memasuki lagu ketiga, Benny mengajak hadirin, yang rata-rata berusia 50-60 tahun, menebak lagu. Penonton yang semula duduk tenang di kursi mulai riuh setelah musisi berdarah Ambon itu memainkan intro dari flute. Setelah penebaknya mendapat hadiah berupa kaus The Rollies, penonton lalu serempak menyanyikan Setangkai Bunga secara berjemaah. Selanjutnya, tiap jeda usai 2-3 lagu, Benny beberapa kali menggelar kuis dengan cara yang sama. 

    Pada saat rekan-rekannya mengambil napas panjang itulah Benny berkisah tentang sepenggal perjalanan panjang kelompok tersebut yang awalnya dibentuk Deddy Stanzah. Pendiri band Giant Step itu di kemudian hari mengajak Iwan Krishnawan (drum, vokal), Tengku Zulian Iskandar (gitar), dan Delly Djoko Alipin (gitar, organ, vokal) untuk mengibarkan bendera The Rollies. Sebelum membuat karya sendiri, mereka kerap memainkan lagu-lagu Rolling Stones dan The Beatles dari panggung ke panggung. 

    Dari musik rock 'n' roll, mereka beralih ke warna lain ketika rajin memainkan lagu-lagu milik Tower of Power, Chicago, dan kelompok Blood, Sweat, and Tears serta musik funk dan soul dari James Brown. Benny, yang kemudian ikut diajak bergabung, diminta mengajari personel lain memainkan alat-alat musik tiup, termasuk vokalis Gito Rollies.

    Peristiwa kecelakaan mobil yang menimpa personel The Rollies di Singapura pada 1970 ikut diceritakan. Namun semuanya selamat meski mengalami berbagai luka. Kecelakaan lainnya terjadi ketika tiga personel The Rollies mulai akrab berkawan dengan narkoba. "Mereka pernah jatuh di panggung Surabaya karena teler," ujar Benny, yang malam itu memakai jas merah. 

    Begitulah sekelumit kisah The Rollies pada tahun-tahun awalnya. Meski begitu, band itu cukup produktif hingga menelurkan belasan album. Dan koleksi karya mereka bakal bertambah, karena mulai 5 Januari 2011 The Rollies akan kembali masuk dapur rekaman. Mereka akan merekam lima lagu baru dan membuat aransemen ulang lima hitnya. Semua lagu itu kini masih digarap bersama, namun judulnya masih belum ditentukan. "Warna musiknya seperti yang dulu, campuran pop dan brass rock," kata Iis Rollies.

    Lantas apakah The Rollies akan berani memasukkan lagu Salam Terakhir, yang banyak dinanti penggemarnya setiap kali pentas dari Medan hingga Maluku. Entahlah. Yang jelas, Iis sendiri sebelum konser mengaku agak segan menyanyikan lagu itu karena mengingatkan tiga rekannya di Rollies yang telah wafat. 

    Tapi, untuk memenuhi keinginan penonton, malam itu Iis pun menyerah. "Tapi ujung lirik lagunya diubah," ujarnya. Agar terus hidup bersama, The Rollies menutup konsernya dengan lagu We've Got to Live Together.
     
    ANWAR SISWADI





     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.