Mahasiswa Banyuwangi Kampanye Peduli Museum  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Museum Blambangan

    Museum Blambangan

    TEMPO Interaktif, Banyuwangi - Puluhan Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas 17 Agustus 1945, Banyuwangi, Jawa Timur, mendesak pemerintah setempat supaya lebih peduli pada Museum Blambangan. Sebab, keberadaan museum tersebut saat ini makin terancam karena sepinya peminat dan nihilnya anggaran dari pemerintah.


    Desakan itu disampaikan puluhan mahasiswa saat melakukan kampanye peduli Museum Blambangan, Selasa siang ini. Kampanye itu mereka sampaikan dengan melakukan lawatan ke Museum Blambangan, di Jalan Ahmad Yani, Banyuwangi.


    Menurut Ketua Mahasiswa Pendidikan Sejarah Shayu Pramestya, aksi kampanye peduli Museum Blambangan tersebut untuk memperingati Hari Museum se-Dunia yang jatuh hari ini. "Sekaligus menyambut program Tahun Kunjungan Museum yang dicanangkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata," kata Shayu kepada wartawan.


    Shayu mengatakan, mahasiswa prihatin karena sudah dua tahun ini alokasi anggaran untuk Museum Blambangan dan penambahan koleksi dihapus. Pemerintah juga dinilai tidak gencar melakukan promosi dan program untuk mendongkrak jumlah pengunjung. Dampaknya, jumlah pengunjung di tahun 2008 yang mencapai 3.202 orang turun menjadi 1.539 orang pada 2009. "Pemerintah Banyuwangi kurang mendukung program dari Pemerintah Pusat," katanya.


    Selain kepada Pemerintah Banyuwangi, Mahasiswa juga mendesak masyarakat dan lembaga pendidikan untuk menjadikan Museum Blambangan sebagai tujuan wisatanya.


    Museum Blambangan termasuk museum umum yang didirikan pada 1977. Hingga kini museum tersebut memiliki 560 koleksi dari jaman prasejarah, Kerajaan Blambangan, hingga Banyuwangi kontemporer.


    Kepala Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Setio Harsono mengatakan, pihaknya sudah mengajukan anggaran untuk museum tersebut dan penambahan koleksinya, namun dihapus saat pembahasan di DPRD.


    Meski begitu, Setio mengaku tidak tahu berapa anggaran yang diajukan karena saat itu dia belum memimpin Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. "Saya baru memimpin bulan Maret," katanya.


    Anggota Badan Anggaran DPRD Julissetyo Puji Rahayu justru mengaku sudah mengalokasikan anggaran untuk museum tersebut sebesar Rp 100 juta. "Kalau sekarang ternyata hilang, saya tidak tahu siapa yang menghapusnya. Pelaksanaan teknis justru di eksekutif," ujarnya.



    IKA NINGTYAS


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.