Genre Komedi di Festival Sinema Prancis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • .

    .

    TEMPO Interaktif, Jakarta: Lucas (diperankan Vincet Lindon) adalah pengusaha kaya yang terbidik panah asmara. Ia spontan jatuh cinta kepada seorang seniman keramik yang sedang mempercantik kantornya, Elsa (Sandrine Bonnaire). Perempuan itu cantik dan pekerja keras. Namun, dalam usianya yang sudah matang, ia tetap menjomblo.

    Masih takut terhadap bayangan kegagalan pada masa lalu, pria ini pun menyewa jasa detektif untuk menyelidiki siapa Elsa mengenai rumahnya di mana, tinggal dengan siapa, apakah ia lesbian, lantas kenapa masih menjomblo. Kamera pengintai dipasang dan telepon disadap. Kelucuan terjadi saat pendekatannya selalu saja gagal.

    Film berjudul Je Crois Que Je L'aime ini salah satu dari sepuluh film bergenre komedi dan komedi romantis yang diputar dalam Festival Sinema Prancis, dari 17 April hingga 10 Mei 2009. Selebihnya ada Un Baiser S'il Vous Plait, Ce Soir Je Dors Chez Toi, Modern Love, Vilaine, Seuls Two, Ceux qui restent, La tete de maman, Naissance des pieuvres, dan Le premier jour du reste de ta vie.

    Di Jakarta, pesta film Prancis ke-14 ini bisa dinikmati hingga 26 April di Platinum XXI FX Plaza dan Blitz Megaplex Grand Indonesia. Festival ini juga berlangsung di Balikpapan (22-23 April), Yogyakarta (30 April-1 Mei), Bandung (2-3 Mei), Denpasar (9-10 Mei), dan Surabaya (9-10 Mei).

    Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini dari 20 film yang diputar separuhnya bergenre komedi. Tampaknya Prancis tengah menggeser identitasnya sebagai pencetak drama romantis. Kenapa? "Biar nggak bosan aja," kata Frederic Alliod, Atase Kerja Sama Audio Visual Kedutaan Besar Prancis.

    Alliod mengaku keputusannya itu diambil dari risetnya terhadap festival terdahulu. "Banyak penonton yang mencari komedi Prancis. Makanya saya boyong banyak," katanya. Penonton Indonesia memang ingin melihat wajah baru Prancis yang tak melulu drama romantis.

    Krisis global diakui Alliod cukup berpengaruh terhadap sinema Prancis. Jika tahun lalu panitia bisa memboyong 30 film untuk festival ini, kini hanya 20 film. "Memang krisis membuat kemampuan kami menyediakan film agak berkurang," katanya.

    Namun, mereka tetap menghadirkan film-film berkualitas. Tengok misalnya, Entre les murs (The Class), yang memenangkan Palme d'Or di Cannes Film Festival 2008, dan Tout est pardonnê, yang merupakan salah satu film Directors' Fortnight di Cannes 2007.

    Di luar genre komedi, festival ini menghadirkan 10 film beragam jenis. Ada dua film sejarah (Jean de la fontaine dan Les femmes de l'ombre), tiga film drama (La tête de maman, un secret, dan Ceuc qui restent), satu film fiksi (Entre les murs), serta empat film thriller (13 m2, Le nouveau protocole, Go Fast, dan L'heure zero).

    Salah satu film sejarah, Les Femmes De L'ombre (Female Agent), mengisahkan sosok Louise Desfountainers (diperankan Sophie Marceau) pada Perang Dunia II. Bersama empat wanita pejuang Prancis lainnya, ia terlibat dalam kelompok komando rahasia Prancis (SOE). Misinya menyelamatkan seorang agen Inggris (seorang ahli geologi) yang ditangkap Nazi--yang tengah menduduki Prancis.

    Konflik tak hanya muncul dari perang, melainkan juga intrik percintaan seorang kolonel Nazi bernama Karl Heindrich dengan Suzy, salah satu pejuang wanita Prancis.

    AGUSLIA HIDAYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.