Knives Out, Penebus Dosa Rian Johnson di Star Wars The Last Jedi

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Poster film Knives Out. Instagram

    Poster film Knives Out. Instagram

    TEMPO.CO, Jakarta - Dedaunan sedang bersulih warna menjadi merah dan jingga di ujung musim gugur yang basah. Sebuah rumah dengan arsitektur dan interior berselera berdiri damai dalam pelukan pohon-pohon cantik itu. Penghuni rumah baru saja terbangun di pagi berkabut setelah pesta yang riuh dan penuh dansa pada malam harinya.

    Mendadak saja, pagi itu rusak oleh sebuah pekikan. Harlan Thrombey (Christopher Plummer), pemilik rumah yang malamnya baru saja merayakan ulang tahun ke-85, ditemukan tewas berlumuran darah di sofa kamarnya. Lehernya koyak. Dia mati seperti para tokoh dalam novel-novel misteri laris yang dia tulis dan memberinya kekayaan tak terhingga.

    Tak lama, satu polisi serius (Lakeith Stanfield) dan satu polisi canggung yang kocak (Noah Segan) tiba di tempat terjadinya perkara. Benoit Blanc (Daniel Craig), seorang detektif swasta beraksen asing juga turut serta, duduk di sudut ruangan sambil iseng menceletuk pertanyaan ketika para tamu pesta yang tak lain adalah anak dan cucu Thrombey diinterogasi satu per satu.

    Mulai dari sini, sutradara Rian Johnson, yang bagi sebagian fans Star Wars telah berbuat kesalahan tak termaafkan saat mengarahkan The Last Jedi, menunjukkan kebolehannya meramu film pemecahan misteri ala Agatha Christie. Johnson mengemas film Knives Out dengan rapi, menegangkan, tanpa melupakan humor dan elemen empati yang menyentuh perasaan.

    Mula-mula kita diperkenalkan pada tiap karakter dengan alibinya masing-masing. Tentu saja setiap alibi satu per satu dipatahkan untuk mengajak kita menebak-nebak siapa yang kebohongannya paling besar dan paling mungkin jadi pelaku pembunuhan.

    Apakah pelakunya Walt (Michael Shannon), putra Thrombey yang mewarisi perusahaan penerbitan sukses ayahnya? Mungkinkah yang bersalah adalah Ransom (Chris Evans), cucu tampan Thrombey yang meninggalkan pesta setelah terdengar beradu argumen dengan kakeknya? Jangan-jangan pembunuhnya adalah Joni (Toni Collette), si menantu yang selalu bergantung pada belas kasihan Thrombey untuk menghidupi dirinya dan anak perempuannya.

    Film Knives Out. Instagram

    Di antara adegan-adegan interogasi, terlihat bahwa yang dipedulikan anak dan cucu Thrombey tak lain hanya kepada siapa rumah besar dan puluhan juta dolar aset Thrombey diwariskan. Motif yang cukup besar untuk menggerakkan siapa saja membunuh orang.

    Bagian paling menarik dari plot Johnson bertumpu pada seseorang yang berada di luar lingkar perebutan warisan itu. Dia lah Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat Thrombey yang terlihat paling merana karena kematian Thrombey. Selain itu, dia tak bisa berbohong. Benar-benar tak mampu.

    Dalam kelindan motif dan modus pembunuhan yang mengharuskan tiap karakter sedikit-banyak membelokkan kebenaran, keunikan Marta ini membuat plot Knives Out bergerak ke arah tak terduga. Marta juga menjadi kutub yang berseberangan dengan dominasi keluarga kulit putih Thrombey. Dia imigran dan pekerja keras.

    Lewat Marta, Johnson menyelipkan satir sosial tentang isu migran dan privilese kulit putih. Misalnya, bagaimana anak-cucu Thrombey yang selalu memuji Marta sebagai perawat yang baik dan bagian dari keluarga mereka ternyata tak benar-benar ingat dari negara Latin mana dia berasal. Atau komentar mereka tentang hanya imigran yang bekerja keras lah yang berhak menjadi bagian dari Amerika. Mudah bersimpati pada Marta. Tapi, apakah dia berperan dalam kematian tuannya? Kita akan terus bertanya-tanya.

    Knives Out menjadi tontonan yang memuaskan karena Rian Johnson piwai menjaga tempo narasinya. Tepat saat penonton merasa menemukan petunjuk atau dapat menebak dalang pembunuhan, Johnson melompat satu-dua langkah ke depan. Cukup untuk menjaga rasa penasaran. Namun, dia tak pernah melompat terlalu jauh hingga membuat kita hilang arah atau berkerut kening kebingungan.

    Selain itu, kehadiran karakter Detektif Blanc seolah sebagai representasi penonton di dalam film. Dia berbeda dengan Hercule Poirot dalam Murder on the Orient Express, misalnya, yang diam-diam mengumpulkan petunjuk, mencernanya sendiri, lalu memuntahkan hipotesis menakjubkan yang tak terduga di akhir sebagai konklusi cerita.

    Blanc menyelidik dalam kecepatan yang kurang-lebih sama dengan sebagian besar penonton. Dia menyingkap petunjuk sedikit-sedikit, dan ketika dia menemukan jawaban di akhir, kepuasan yang dia rasakan adalah kepuasan kita semua karena berhasil memecahkan kasus itu bersama-sama dengannya.

    Judul: Knives Out
    Sutradara: Rian Johnson
    Skenario: Rian Johnson
    Pemain: Ana de Armas, Daniel Craig, Chris Evans, Jamie Lee Curtis, Christopher Plummer


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.