Selasa, 24 September 2019

Cholil Efek Rumah Kaca: Soal Papua, di Luar Kemanusiaan

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cholil Mahmud, Vokal dan Bas Gitar Efek Rumah Kaca saat konser yang bertajuk Sinestesia di Teater Besar Jakarta, 13 Januari 2016. Sinestesia merupakan album baru Efek Rumah Kaca yang berisi enam lagu dengan judul war-warni pelangi. TEMPO/Frannoto

    Cholil Mahmud, Vokal dan Bas Gitar Efek Rumah Kaca saat konser yang bertajuk Sinestesia di Teater Besar Jakarta, 13 Januari 2016. Sinestesia merupakan album baru Efek Rumah Kaca yang berisi enam lagu dengan judul war-warni pelangi. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Jakarta - Vokalis Efek Rumah Kaca atau ERK, Cholil Mahmud menyayangkan adanya diskriminasi yang dilakukan kepada mahasiswa Papua. Tidak tanggung-tanggung, diskriminasi tersebut dilakukan juga oleh orang Indonesia, yang seharusnya menjadi saudara setanah air.

    "Menyedihkan, bagaimana kita mengutamakan kesatuan negara dibandingkan kemanusiaan. Menurut saya nomor satu kemanusiaan, jadi sama semua orang, mau berbeda apapun ya harus baik," ujar dia di kawasan Kemang, Rabu, 21 Agustus 2019.

    Cholil menilai, tidak sepatutnya sesama manusia melakukan diskriminasi, apalagi menyoal suku, ras, dan agama. Hal-hal yang dilakukan kepada Papua, kata dia, sudah di luar batas kewajaran. "Daerahnya dikeruk habis-habisan, masih diperlakukan seperti itu (diskriminasi), kayaknya di luar kemanusiaan," tuturnya.

    Atas diskriminasi yang dilakukan terhadap Papua, kata Cholil, ERK kemungkinan akan membuat lagu soal itu. Ia begitu marah dan geram atas hal-hal yang dilakukan terhadap warga Papua dan tidak menyangka saat ini masih ada saja hal-hal diskriminatif yang dilakukan.

    Kemarin, sekitar 60 orang yang mengatasnamakan Mahasiswa Papua Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme dan Militerisme berunjuk rasa di depan Kementerian Dalam Negeri dan Istana Negara. Selain menyerukan ujaran anti rasisme, para mahasiswa juga turut menyanyikan lagu dan membawa bendera Bintang Kejora.

    Pengunjuk rasa menuntut pemerintah memberikan hak penentuan nasib sendiri untuk mengakhiri rasisme dan penjajahan di Papua Barat. Mereka menegaskan perlunya penghapusan rasisme dan represi terhadap orang Papua.

    CHITRA PARAMAESTI|HALIDA BUNGA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.