Sajak Jenderal Nagabonar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: "Apa kata dunia?" Siapa yang tak kenal kata-kata milik Jenderal Nagabonar yang legendaris itu. Film yang menjadi perbincangan masyarakat pada 1980-an ini kembali muncul di layar lebar. Diputarnya kembali film uzur ini menyuguhkan suasana tersendiri begitu masuk studio bioskop. Serasa kembali ke zaman dulu. "Bujang, bujang, sudah kubilang jangan bertempur, kau bertempur juga. Matilah kau. Habis dimakan cacing," ucap Nagabonar (Deddy Mizwar) terisak, meratapi jenazah sahabat tercintanya, si Bujang. Dialog itulah yang diingat orang sampai sekarang. Belum usai kesedihannya, si Emak yang diminta meminang Kirana (Nurul Arifin) malah menjelekkan Naga. "Aku takut kau dirusaknya," ujar Emak. Berlatar perjuangan pada 1945, mantan copet yang jadi jenderal dadakan itu tengah memimpin pasukan gerilya melawan Belanda. Meski pasukannya cuma segelintir, mereka loyal kepada Naga. Berbalut rentetan peluru model Rambo, ditambah topi berjambul bulu merak, Naga sebenarnya tak jago bertempur. Di tiap adegan perang, ia hanya nampang sambil bersajak. Jangan salah, sajaknya itulah yang membangkitkan semangat tempur para pasukan. Bicara soal kualitas gambar, mungkin banyak yang menyangsikannya. "Filmnya masih bagus nggak ya (kondisinya)," ujar seorang calon penonton ketika antre beli tiket di bioskop ITC Bumi Serpong Damai, Tangerang. Don't worry, kondisi film ini jelas bagus. Soalnya, gambarnya sudah direstorasi, "dicuci" sehingga layak tonton. Sebanyak 250 ribu frame dibuat bagus. "Ada 144 ribu frame yang memang susah banget di-retouch," ujar Zairin Zein, produser restorasi Nagabonar. Biaya restorasi itu, tanpa menyebut angka, menurut Zairin memakan duit setara dengan pembuatan dua film horor. Meski begitu, adegannya 100 persen asli. Hanya, ada sentuhan digital di beberapa frame, seperti gambar bulan purnama, burung terbang, dan bendera merah putih yang sengaja dibuat ulang. "Karena saat itu syuting pakai bulan dan burung asli, jadi kecil banget nggak kelihatan," ujarnya. Meski asli, film ini ada perubahan. Beberapa pemain suaranya di-dubbing, seperti si Emak, Mustafa, dan Robert Syarif. "Perubahan suara itu lebih karena kondisi pemain, ada yang sudah uzur dan meninggal, jadi mau nggak mau dicari pengganti," ucap Zairin. Walhasil, aktor seperti Rudy Wowor dan Roy Karyadi digaet untuk mengisi suara Mayor Belanda. Selain itu, sampul poster dibuat ulang dengan gambar yang lebih menggelitik. Poster itu menampilkan kepala Nagabonar yang sedang mengintip. Hanya topi jambul meraknya yang kelihatan jelas. "Ini memang taktik pasar biar bikin penasaran, kayak apa sih tampang Nagabonar waktu muda," ujarnya. Di akhir film, lagu berjudul Melihat dengan Hati karya Eros Sheila On 7 dan lantunan suara Deddy Mizwar menyanyikan lagu ciptaan Melly Goeslaw pun ikut memberi warna. Kemunculan kembali film yang pernah meraih film terbaik pada Festival Film Indonesia 1987 ini tak seketika. Ada proses panjang di baliknya. "Berawal ketika Nagabonar Jadi 2 berkeliling ke 32 kampus. Di sana banyak mahasiswa tanya, kalau yang kedua seperti ini, lantas yang pertama seperti apa," katanta mengenang. Dari celah itulah, dan bertepatan dengan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, Nagabonar hadir sebagai film yang nasionalis. Sebuah film yang menggambarkan kecintaan kepada Tanah Air. AGUSLIA HIDAYAHJudul : Nagabonar Jenis : Drama komedi Sutradara : M.T. Risyaf Penulis : Asrul Sani Produser : Bustal Nawawi Produser restorasi : Zairin Zein Pemain : Deddy Mizwar, Nurul Arifin, Mustafa, Robert Syarif, Piet Pagau

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.