Tabuhan Ndjagong

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Tubuh penonton bergerak berirama tersirap tabuhan jimbe, gondang Batak, gong, simbal, dan drum yang dimainkan lima lelaki berpeluh di atas pentas. Para penonton yang memadati Warung Apresiasi Bulungan, Senin malam lalu, seolah mentransfer energi positif ke lima pemain perkusi kelompok Ndjagong itu.Ndjagong berasal dari kosakata bahasa Jawa yang berarti berkumpul-berdialog. Kelompok ini beranggotakan Hendrikus Wisnugroho, yang juga personel kelompok musik Rastafara; Darman, pendiri kelompok musik Djembe Merdeka; Kaunang; Andrie Setiawan; dan Nur Rahmat alias Kate. Lima nama terakhir berasal dari Sanggar Akar. Dalam pertunjukan lebih satu jam dalam rangka ulang tahunnya itu, kelompok ini menyajikan empat scene penampilan, masing-masing mengisahkan perjalanan kelompok musik yang terbentuk pada 5 Mei 2007 itu. Scene pertama menampilkan tiga repertoar simbolisasi terbentuknya kelompok Ndjagong. Setelah pertunjukan Kendang tunggal Hendrikus, muncul Kaunang, Andrie, dan Kate. Tiga pemain perkusi berumur 20-an tahun itu muncul dari tiga sudut berlainan. Mereka bergantian memukul jimbe dengan gaya teatrikal. Scene pertama diakhiri dengan permainan jimbe tunggal oleh Darman.Ansamble berupa drumcussion dan empat buah jimbe menjadi sajian sesi kedua. Dua komposisi berlabel Mendoan dan Hutan Kota dibawakan Ndjagong secara medley. Bagian ketiga dinamai Metrobus--terinspirasi oleh komedi bus kota yang karut-marut. Ini komposisi paling menawan yang mampu membawa penonton menggoyangkan kepala, tangan, dan kaki. Tak jarang penonton tertawa menyaksikan lima pemain yang seakan berebut memukul tiga gondang yang dijajarkan di bagian depan panggung. Secara bergantian para pemain mengambil kesempatan memukul bagian kulit dan tubuh gondang. Sambil bergeser teratur, kelimanya bergerak dan menghasilkan ritme yang makin lama makin cepat. Satu ketika, formasi pecah. Darman dan Hendrikus berpencar. Keduanya mundur lalu bersamaan memainkan drum dan simbal. Sedangkan Kaunang, Andrie, dan Kate secara bersamaan memukul gondang. Paduan tabuhan gondang, drum, simbal, jimbe, dan gong itu dihujani cahaya warna-warni yang bergantian berkejap dari setiap penjuru panggung. Kepulan asap dry ice membuat imajinasi penonton semakin dekat dengan keriuhan suasana terminal dan jalan raya yang disesaki bus kota. Kentongan bambu yang digantung di bagian belakang panggung pun tak lepas dimainkan. Alat musik tradisional Sumatera Barat, talempung, juga sempat dimainkan. Pertunjukan yang diselingi tanya-jawab bersama penonton selama sekitar 20 menit itu dipungkasi dengan komposisi Sunset Dialogue to Remember. Ndjagong mengaku komposisi itu terinspirasi oleh pedagang keliling yang menjadikan bunyi-bunyian sebagai alat untuk menarik perhatian pembeli. Ritme dan suasana komposisi terakhir ini tidak segarang sebelumnya. Penonton lebih diajak untuk bersantai menikmati bunyi-bunyian dan berkontemplasi dengan paduan bunyi yang melankolis. l KURNIASIH BUDI

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Angin Prayitno Aji dan Tiga Perusahaan yang Diperiksa KPK dalam Kasus Suap Pajak

    Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus suap pajak. Dari 165 perusahaan, 3 sedang diperiksa atas dugaan kasus itu.