Jenazah Arswendo Atmowiloto Akan Dimakamkan di Sandiego Hill

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mendiang Arswendo Atmowiloto saat menghadiri rilis pencapaian film Keluarga Cemara yang telah ditonton lebih satu juta penonton di Jakarta, 14 Januari 2019. Film Keluarga Cemara merupakan film adaptasi dari film serial televisi pada tahun 90-an karya Arswendo Atmowiloto.  TEMPO/Nurdiansah

    Mendiang Arswendo Atmowiloto saat menghadiri rilis pencapaian film Keluarga Cemara yang telah ditonton lebih satu juta penonton di Jakarta, 14 Januari 2019. Film Keluarga Cemara merupakan film adaptasi dari film serial televisi pada tahun 90-an karya Arswendo Atmowiloto. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Wartawan senior Kompas, Arswendo Atmowiloto yang meninggal pada Jumat, 19 Juli 2019 petang akan dimakamkan besok di Sandiego Hill, Karawang, Jawa Barat, pada Sabtu, 20 Juli 2019. Jenazah akan dibawa ke tempat peristirahatan terakhir setelah digelar misa requiem sekaligus pelepasan jenazah di Gereja St. Matius Penginjil, Paroki, Bintaro, Pondok Aren pada pukul 10 pagi.

    Saat ini, jenazah Arswendo yang bernama lengkap Paulus Arswendo Atmowiloto itu, masih disemayamkan di Rumah Duka, Komplek Kompas B-2, Jalan Damai, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan.

    Wartawan senior Tempo dan juga sahabat baik Arswendo, Bambang Harymurti mengungkapkan kesedihannya atas wafatnya Arswendo Atmowiloto, penulis novel Keluarga Cemara ini. Menurut dia, Indonesia amat kehilangan dengan wafatnya tokoh pers nasional ini.

     “Saya sedih karena Indonesia, bahkan dunia, kehilangan seorang tokoh jenius. Seorang seniman yang amat kreatif dan punya kemampuan prima untuk menertawakan dirinya,” kata Bambang Harymurti yang akrab disapa BHM ini.

    Mantan Direktur Utama Tempo Media Group ini menjelaskan, Arswendo Atmowiloto selama hidupnya selalu optimistis dan kreatif. “Bahkan saat dipenjara, ia mendirikan sanggar yang banyak peminatnya,” ujarnya. Arswendo pernah dipenjara dalam kasus penistaan agama. 

    Salah satu murid di sanggar itu, kata BHM, bernama sama dengannya: Bambang. Bambang muridnya Arswendo Atmowiloto ini, kata BHM, yang dibui karena membunuh dalam tawuran anak muda, malah menjadi guru melukis anak muda yang biasa tawuran di kawasan Proklamasi/Manggarai. Ia bahkan berhasil mendekatkan dua kelompok tawuran dari seberang rel yang biasanya bermusuhan dan memilih menyalurkan energinya dengan melukis bersama.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.