Gemulai Kabuki

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Seorang gadis yang berlakon sebagai burung bangau tengah menari di tepi danau bersalju. Dengan Kimono merah nan anggun, Kyozo Nakamura, gadis itu melenggak-lenggokkan kepala dan badannya dengan lembut. Ia tengah mengutarakan kepedihan cinta dari lubuk hati. Teater tari tradisional Jepang Kabuki ini dipersaksikan di Gedung Kesenian Jakarta Minggu sore lalu. Pertunjukan berumur 400 tahun ini terdiri atas dua bagian cerita. Bagian pertama berjudul Sagi Musume atau Gadis Burung Bangau. Pada bagian ini, Nakamura berganti kimono di atas panggung. Prosesnya unik. Dengan dibantu rekan lain, ujung-ujung kain ditarik. Layaknya sulap, kimono itu berganti ungu tanpa mengubah ikatan dan bantalan di belakang punggung. Tarian lembut Nakamura membuat penonton tak menyangka kalau gadis tersebut diperankan oleh seorang laki-laki. Meski begitu, gagah gemulai Nakamura membuat penonton takjub. Lekukan tubuh maskulinnya tampak samar oleh balutan dua lapis kimono. Olesan wajah putih menutupi garis rahang yang sebenarnya kekar.Seorang penari seperti Nakamura ini biasa disebut Onnagata. Rahasia Onnagata dijelaskan di sela-sela pertunjukan itu. Nakamura memperagakan bagaimana menyulap tubuhnya menjadi tubuh perempuan. Kedua bahu ditarik ke belakang hingga membentuk garis lipatan. Lalu kakinya dibuat merapat dengan langkah yang hati-hati. Tak cuma itu, seniman yang sudah berkecimpung di dunia tari sejak 1982 ini memperagakan bagaimana seorang wanita bangsawan menangis, tertawa, dan bersikap malu-malu. "Itulah simbol-simbol figur wanita yang harus masuk ke dalam perasaan laki-laki," ujarnya. Cara merias wajah dan memakai kostum pun didemonstrasikan langsung. Kali ini rekan Kyozo, Matanosuke Nakamura, yang merias wajahnya. Ia hendak menjadi seekor barong atau singa dalam pertunjukan kedua nanti. Awalnya rambut ditutup, wajah dibalur alas bedak berwarna putih, kemudian dibentuk alis hingga bibir. "Riasan ini membuat otot wajah dan pembuluh darah naik," ujar Kyozo. Barong yang hendak dilakoninya adalah seekor singa yang berjuang di jalan kebenaran. Ia memilih madori atau garis muka berwarna merah. Untuk menampilkan kesan gagah, tubuhnya ditambal dengan busa dan balutan kain di perut. Layaknya singa, rambut barong itu putih jabrik panjang sampai lantai panggung. Entakan kakinya pasti, tanpa takut ekor rambutnya terinjak. Jika ia menganggukkan kepala, rambut poninya bergerak naik turun membikin penonton geli.Dalam pertunjukan terakhir, barong tersebut berduet dengan Kyozo yang berlakon sebagai kupu-kupu. Pada drama berjudul Syakkyo atau Jembatan Batu ini, dua binatang kontras itu menari. Karya ini mengekspresikan surga di antara bunga botan (bunga semak-semak) yang bermekaran, tempat kupu-kupu gemar melayang-layang. Adapun singa barong diidentikkan dengan binatang suci. Keindahan sayap kupu-kupu diwakili oleh kain kimono sutera bermotif oranye. Ketika Onnagata menggoyangkan ujung kain lengan kimono yang menjuntai panjang, itu tandanya si kupu-kupu tengah terbang. Sederhana, tapi bercita rasa tinggi.Kabuki, yang berarti seni menyanyi dan menari, ini telah ditetapkan menjadi salah satu dari 43 karya maestro warisan budaya dunia oleh Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) pada 2005. Dulu kesenian itu dimainkan hanya oleh para wanita, tapi kini malah dimainkan oleh Yaro Kabuki atau Kabuki laki-laki dewasa. l AGUSLIA HIDAYAH

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.