Vokalis Seringai Tolak RUU Permusikan: Mengekang Kreativitas

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pada tahun 2002, Arian mendirikan band di Jakarta bersama Edy Khemod. Keduanya kemudian bertemu dengan Ricky Siahaan (gitaris) dan Sammy Bramantyo (basis) dan sepakat membentuk band yang diberi nama 'Seringai'. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Pada tahun 2002, Arian mendirikan band di Jakarta bersama Edy Khemod. Keduanya kemudian bertemu dengan Ricky Siahaan (gitaris) dan Sammy Bramantyo (basis) dan sepakat membentuk band yang diberi nama 'Seringai'. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Arian Arifin alias Arian 13 menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan. Vokalis band Seringai menilai RUU permusikan tidak diperlukan mengingat soal industri musik, hak cipta, dan perdagangan sudah ada undang-undangnya.

    "Apalagi dalam RUU permusikan banyak pasal-pasal karet yang mengekang kreativitas," kicau dia di lama Twitternya @aparatmati, Rabu, 30 Januari 2019.

    Selain itu, ada pasal yang bertentangan dengan pasal 28 Undang-undang Dasar 1945. Pasal tersebut ialah pasal 5 dan 50, yang menurut Arian malah membatasi seniman untuk berkarya.

    Di pasal itu, musisi dilarang untuk membawakan budaya asing yang negatif, merendahkan harkat dan martabat, menistakan agama, mengandung unsur pornografi dan provokatif.

    Selain itu, Arian juga mengkritisi pasal 42 UU Permusikan, di mana pasal tersebut mewajibkan pelaku usaha di bidang perhotelan, restauran, atau tempat hiburan lainnya untuk memainkan musik tradisional di tempat usahanya.

    "Berarti nanti kalau RUU ini sah, bar-bar dan klub-klub harus pasang musik tradisional saja, kalau nggak melanggau Undang-undang dan ditindak aparat. LOL (tertawa)," kata Arian.

    Sebelumnya, ketua DPR RI, Bambang Soesatyo, menjelaskan Undang-Undang Permusikan masih akan disempurnakan. Dia pun bertemu dengan perwakilan musisi untuk membicarakan hal ini.

    Baca: Seringai Bahas Tragedi 1965 di Album Barunya

    Bambang meminta para musisi memberi masukan atas pasal-pasal tersebut. Bahkan, dia meminta para musisi untuk merumuskan masalah dalam dua minggu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.