Monolog Anak Baru Gede

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nama aslinya Laila. Begitu jadi artis berganti jadi Thalita. Tapi malam itu tak habis-habisnya dia memasang muka cemberut di depan meja rias. Kadang memaki manajer, kadang memaki orang tuanya. Gadis yang berasal dari desa itu mulai merasa jenuh dengan semua kesuksesan yang dicapai.Pentas monolog berjudul Popularitas dan Kebohongan yang dimainkan Dara Yolanda dari Teater Nadi, Rabu malam lalu, itu mengisi acara Pekan Monolog SMA 2007. Acara bertajuk "Refleksi Kreativitas dan Kebersamaan" ini diadakan di Warung Apresiasi Bulungan pada 15-22 Januari.Menurut Ketua Umum Pekan Monolog Herry W. Nugroho, pentas yang diikuti 17 peserta dari 10 sekolah di Jakarta tersebut berawal dari kecemasan terhadap minimnya event seni itu. Juga, "Ruang bagi teater-teater SMA--sekolah menengah atas--untuk mengekspresikan diri," katanya kepada Tempo.Herry mengatakan acara itu sekaligus menjadi ajang silaturahmi antarkelompok seni anak baru gede. Ini bisa menciptakan hubungan yang baik antara satu dan lainnya sehingga mereka bisa sering berkumpul dan latihan bersama. Akhirnya, dari segi kualitas, permainan teater SMA menjadi merata.Kebanyakan, menurut Herry, kelompok seni itu membawakan monolog karya sendiri. Misalnya Wulandari dari Sanggar Bunga Bangsa, yang memainkan dan menyutradarai sendiri karyanya, Maunya. Tapi ada juga yang memakai karya budayawan terkenal macam Putu Wijaya.Karena monolog, kata Herry, terbilang baru bagi teater sekolah menengah atas. Sebulan sebelum pentas, mereka menjalani pelatihan. Tujuannya, "Agar teman-teman mengenal monolog yang sebenarnya," ujarnya. Mereka digembleng Ags. Arya Dipayana dari Teater Tetas dan Ucok (Institut Seni Indonesia Yogyakarta).Persiapan yang minim itu pula tampaknya yang membuat sebagian pemain kurang total memainkan perannya. Ini diakui Olivia Sandra dari Teater Enhakam, yang memerankan perempuan autis. "Latihannya cuma enam hari, juga kurang observasi," katanya. Membagi waktu antara belajar dan latihan menjadi kendala.SS KURNIAWAN

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.