Film Diary Santri Raih Penghargaan Film Pendek Terbaik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Probolinggo - Film Diary Santri yang disutradarai oleh Shinta Wina Maryani dari Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo, Jawa Timur meraih penghargaan film pendek terbaik dan sutradara terbaik dalam Festival Film Santri 2017.

    Shinta Wina Maryani mengaku senang dan bersyukur, karena jerih payah yang dilakuka bersama rekan-rekan santrinya membuahkan hasil yang maksimal. Bahkan tidak menyangka karya yang dibuat bersama rekan-rekannya bisa menyabet dua penghargaan sekaligus dalam lomba film pendek antarpesantren se-Indonesia.

    "Alhamdulillah, kami senang sekali dan semoga dengan film itu, orang-orang terinspirasi khususnya santri bisa jadi lebih maju," kata siswa kelas XI Madrasah Aliyah Zainul Hasan 1 Genggong dalam siaran pers yang diterima Antara di Probolinggo, Senin, 27 Maret 2017.

    Menurut dia, film Diary Santri bercerita tentang seorang santri perempuan bernama Ainun yang ingin menebar manfaat bagi lingkungan sekitarnya dan santri tersebut berasal dari desa terpencil yang kualitas sekolahnya sangat terbelakang, sehingga hatinya terketuk untuk membuat sekolah di desanya menjadi maju.

    "Ainun ingin bermanfaat untuk orang-orang yang ada di desa. Dia terinspirasi dari hadis yang diajarkan gurunya waktu di sekolah bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain," tuturnya.

    Untuk pembuatan film itu, Shinta mengaku membutuhkan waktu yang cukup singkat yakni sekitar dua minggu. Sebelumnya, untuk mengikuti lomba tersebut, Shinta dan teman-teman santri lainnya mengikuti workhsop perfilman yang diadakan pihak Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo.

    Salah satu Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong KH Hassan Ahsan Malik menuturkan film pendek Diary Santri merupakan jalan dakwah santri melalui dunia perfilman yang menjadi jalan ikhtiar dalam berjihad menyebarkan pesan-pesan moral anak bangsa.

    "Cita-cita mulia yang muncul dari ide-ide anak pesantren bisa dikemas dengan mengisi dunia hiburan. Harapannya, semoga nanti akan muncul sutradara-sutradara terbaik dari berbagai pesantren di Indonesia yang mampu memberi warna dakwah bil hal di layar kaca," kata kiai muda yang merupakan keponakan dari Ketua PWNU Jawa Timur KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah itu.

    Diary Santri berhasil unggul dari empat nomine lainnya yakni sutradara film "Alif" Edy Prasojo dari Pondok Pesantren Nurul Huda Pringsewu Lampung, sutradara film "A Light" Riski Hanifa dari Pondok Pesantren Al Ikhlas Putri Ciawigebang Kuningan Jawa Barat, sutradara film "Jujur = Pintar" Zaira Rizqiany Firdaus dari Perspective of Sineas SMK Al Wafa Bandung, serta sutradara film "96" Zafran Nabil Fauzan, dari Raru Production Pondok Pesantren Modern Rahmatul Asri Enrekang, Sulawesi Selatan.

    Penilaian dilakukan oleh tiga dewan juri yaitu Habiburrahman El Shirazi, Dani Sapawie dan Embi C. Noer. Sebelumnya, para juri telah menyeleksi secara ketat sebanyak 118 naskah yang diterima panitia penyelenggara lomba film pendek antarpesantren se-Indonesia.

    Para pemenang lomba film pendek antarpesantren se-Indonesia dengan tiga kategori yakni kategori penulis skenario terbaik, sutradara terbaik, dan film pendek terbaik telah diumumkan pada acara malam Anugerah Festival Film Santri 2017 di Jakarta, Sabtu, 25 Maret 2017. *

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?