Takdir Dewi Sri

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Solo: Fajar menyingsing. Para perempuan menumbuk padi. Lesung dan antan beradu memperdengarkan irama. Keriangan terpancar saat anak-anak manusia menyatu dengan alam. Dari dalam perut bumi, muncul sosok seorang putri bertubuh molek. Tangannya berayun-ayun seperti memberikan berkah. Dia adalah Dewi Sri, si dewi kesuburan tanah, sang pembawa kemakmuran. Mitologi Dewi Sri, Kamis malam lalu, diinterpretasikan oleh koreografer Wahyu "Inonk" Widayati dalam sebuah repertoar berjudul The Destiny of Dewi Sri di teater terbuka Bong Taman Budaya Jawa Tengah, Solo. Dewi Sri tak sekadar dihadirkan sebagai sebuah sosok yang dipuja, tapi sebagai sebuah spirit nenek moyang negeri ini dalam mencintai bumi mereka. Munculnya persoalan-persoalan lingkungan yang berujung pada bencana kelaparan, busung lapar, ataupun gizi buruk merupakan wujud dari tidak pedulinya manusia terhadap Dewi Sri. Manusia tak mau peduli dengan tanah yang dipijaknya. Pemujaan yang dilakukan tak lagi pada spirit, tapi kepada benda-benda pabrik. Tubuh manusia tak lagi berbau tanah, tapi telah menjadi manusia kaleng. Dewi Sri bunuh diri dengan sebuah pistol ketika peringatan-peringatan terhadap manusia tak lagi diindahkan. Manusia tak lebih dari sampah yang setiap hari mereka makan. Mereka memilih menelan beras sintesis ketimbang beras yang sesungguhnya masih bisa ditanam dari tanah. Wahyu Inonk menghadirkan semuanya dalam bahasa simbol verbal. Lihatlah. Kaki-kaki manusia lumpur terangkat, menggerinjal seperti hendak menemui ajal. Mereka pergi meninggalkan bumi karena tak lagi dipedulikan. Dan ketika alam marah, menghadiahi bencana, manusia baru ingat untuk cinta kepada alam. Bumi rusak donya ngrasak, sang hyang duka, sambat ibu pertiwi, peteng ndhedet bumi yekti (ketika bumi hancur lebur, Tuhan marah, baru ingat pada ibu pertiwi). Tapi Wahyu Inonk malam itu seperti kehilangan jati dirinya. Dalam karyanya yang ketujuh ini dia tidak lagi hadir dengan idiom-idiom jenaka yang mudah ditangkap oleh penonton awam sebagaimana karyanya bersama kelompok Sahita, seperti serimpi kesrimpet atau bedaya ketawang lima ganep. Dia berbicara soal bumi, tapi dengan bahasa yang melangit. Beruntung garapan The Destiny of Dewi Sri yang didukung oleh Yayasan Kelola ini dilakukan di panggung terbuka. Teater Bong yang memiliki lanskap alam bagus ini menutup berbagai ketimpangan koreografinya. Repertoar yang melibatkan penari-penari kawakan, antara lain Irawati Kusumarasri, Ni Komang Ylimarheni, Sri Setyoasing, dan Queen Sriharjanto, ini justru tak menunjukkan sebagai sebuah garapan tari yang mengeksplorasi gerak tubuh sang penari. Sebagai bekas pemain Teater Gapit, Wahyu Inonk terkesan lebih ingin menonjolkan diri sebagai sutradara ketimbang koreografer. IMRON ROSYID

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.