Queen Hentikan Trump Gunakan Lagu We Are The Champions

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dari kiri: Brian May (Queen), Slash (Guns N' Roses), Billy Gibbons (ZZ Top), Jeff Beck, dan Joe Perry (Aerosmith), ketika menghadiri acara Classic Rock Roll Of Honour Awards di London (3/11). AP/Matt Dunham

    Dari kiri: Brian May (Queen), Slash (Guns N' Roses), Billy Gibbons (ZZ Top), Jeff Beck, dan Joe Perry (Aerosmith), ketika menghadiri acara Classic Rock Roll Of Honour Awards di London (3/11). AP/Matt Dunham

    TEMPO.CO, Jakarta - Grup rock ikonik Inggris Queen ingin Donald Trump berhenti menggunakan lagu hit mereka, We Are The Champions, dalam kampanyenya, menurut pernyataan sang gitaris, Brian May.

    May (68) mengatakan taipan properti Donald Trump, bakal calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, menggunakan lagu We Are The Champions tanpa izin.

    Dia mengaku menerima segunung keluhan mengenai penggunaan lagu tersebut oleh Trump saat melakukan kampanye di televisi Amerika Serikat pada Selasa, 7 Juni 2016.

    "Tidak ada permintaan atau pemberian izin untuk penggunaan lagu tersebut. Kami menerima saran mengenai upaya untuk menjamin ini tidak berlanjut," kata May. "Penggunaan musik Queen sebagai alat kampanye politik selalu bertentangan dengan kebijakan kami."

    May melanjutkan, "Musik kami merupakan perwujudan mimpi-mimpi dan keyakinan kami, tapi itu untuk semua yang ingin mendengarkan dan menikmatinya."

    We Are The Champions ditulis oleh vokalis kelompok itu, Freddie Mercury, pada 1977 dan sering kali dikumandangkan di berbagai final turnamen olahraga.

    Queen bergabung dengan daftar panjang artis yang tidak mengizinkan Trump menggunakan musik mereka, termasuk Rolling Stones, Neil Young, R. E. M., dan Adele.

    Queen kini sedang tur di berbagai festival musik Eropa bersama penyanyi Amerika Serikat Adam Lambert.

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.