Begini Liku-liku Persiapan Panitia Java Jazz 2015  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Java Jazz 2015

    Java Jazz 2015

    TEMPO.CO, Jakarta - Panitia Java Jazz Festival 2015 menyatakan perhelatan sebesar Java Jazz butuh persiapan panjang. Tak mudah memadukan puluhan artis menjadi tontonan menarik bagi pencinta jazz.

    Koordinator program Java Festival Production, Eki Puradiredja, menyatakan konsep festival yang diusung Java Jazz berbeda dengan konser biasa. Dengan kurun waktu lebih lama, menyesuaikan jadwal para pengisi acara pun bukan perkara mudah.

    “Pertama yang kami cari adalah tanggal pastinya, kemudian cari artis yang kosong di hari tersebut,” kata Eki, saat dihubungi, Kamis, 5 Maret 2015. Di sisi lain, jumlah penyanyi jazz juga tak sebanyak penyanyi genre lain.

    Festival musik bertaraf internasional Java Jazz Festival 2015, yang mengangkat tema "Exploring Indonesia", akan berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta, pada 6-8 Maret 2015. Kali ini, pihak JJF akan membawa barong Bali sebagai desain utama.

    Kedua, karena kebanyakan pengisi acara didatangakan dari Eropa dan Amerika, tentu para artis tak mau merugi. Artinya, sekali terbang mereka meminta manggung di beberapa tempat. Pada Java Jazz tahun ini, misalnya, agar para musikus bisa tampil lebih dari sekali, pihak panitia bekerja sama dengan penyelenggara festival serupa di Singapura. “Kalau hanya satu tempat, harga mereka mahal.”

    Hal lain yang harus dilakukan oleh promotor adalah kemampuan menggabungkan artis dalam sebuah kolaborasi. Sebab, dalam setiap perhelatan Java Jazz, kolaborasi artis hampir selalu ada. Ide kolaborasi bagus tak menjamin penampilan berjalan mulus. Promotor, kata Eki, juga harus pintar-pintar mengatur jadwal, belum lagi ego setiap artis.

    Namun, Eki mengakui, salah satu tantangan utama promotor adalah pembatalan oleh artis. Selama satu dekade penyelanggaran Java Jazz, tercatat hanya beberapa kali terjadi pembatalan. “Itu pun karena administrasi seperti pengurusan green card,” kata Eki. “Tapi bagaimanapun festival must go on.”

    FAIZ NASHRILLAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.