Nadine Jadi Pemeran Utama di Film Erau Kota Raja  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nadine Chandrawinata dipotret untuk edisi lima tahun terbitnya majalah yang beredar di bandara Internasonal Soekarno Hatta.Tempo/Rully Kesuma

    Nadine Chandrawinata dipotret untuk edisi lima tahun terbitnya majalah yang beredar di bandara Internasonal Soekarno Hatta.Tempo/Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Jakarta - Nadine Chandrawinata terpilih sebagai pemeran dalam film Erau Kota Raja yang diproduksi oleh pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Ia berperan sebagai Kirana, seorang jurnalis yang ditugaskan untuk meliput jalannya Festival Erau, pesta rakyat yang berlangsung di Kutai Kartanegara. (Baca: Erau Warisan Budaya Leluhur Kutai Kartanegara)

    Bupati  Kutai Kartanegara Rita Widyasari selaku produser eksekutif film ini mengatakan pemilihan Nadine sebagai pemeran utama di film ini sangat tepat. Pengalaman Nadine sebagai Puteri Indonesia 2005 akan memudahkannya memahami esensi film yang sarat nilai budaya ini.

    "Sutradara Bambang Drias mengajukan nama pemain. Saya langsung setuju saat  Nadine dijadikan peran utama,” kata Rita dalam peluncuran trailer film Erau Kota Raja di Jalan Cianjur, Jakarta Pusat, Kamis, 28 Agustus 2014. (Baca: Ini Kenangan Nadine Main Film Bersama Slank)

    Menurut Rita, semula cerita yang mengambil latar festival yang berlangsung selama sebulan di sepanjang Sungai Mahakam itu akan dibuat dalam format film dokumenter. Namun kemudian diputuskan film dikemas secara komersal lantaran melihat potensi yang ada. “Waktu syuting pun dilakukan cukup singkat, yaitu 25 hari," katanya.

    EVIETA FADJAR

    Berita Terpopuler
    Akhirnya Brad Pitt dan Angelina Jolie Menikah 
    Pesta Sederhana, Jolie-Pitt Hanya Undang 16 Tamu
    Jolie Terima Pinangan Pitt Demi Sang Ibu
    Cincin Pernikahan Angelina Jolie Dinilai Murah


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.