Film Timbuktu dan Suriah Guncang Cannes  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pengunjung menunggu untuk dapat masuk ke lokasi festival film Cannes di Perancis (15/5). Festival ini berlangsung hingga 26 Mei mendatang. REUTERS/Eric Gaillard

    Para pengunjung menunggu untuk dapat masuk ke lokasi festival film Cannes di Perancis (15/5). Festival ini berlangsung hingga 26 Mei mendatang. REUTERS/Eric Gaillard

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua film tentang kawasan muslim yang sedang bergolak mengejutkan Festival Cannes 2014. Tepuk tangan membahana usai pemutaran film Timbuktu karya Abderrahmane Sissako di kategori kompetisi dan Silvered Water: Syria Self Portrait karya Ossama Muhammad dan Wiam Simav Bedirxan di kategori Non-Kompetisi.

    Film Timbuktu mengupas kehancuran tata sosial masyarakat tradisional berperadaban ribuan tahun akibat berkuasanya kelompok fundamentalis di kawasan Timbuktu, Mali.

    Sutradaranya, Abderrahmane Sissako, merupakan salah satu sineas Afrika paling dikenal. Ia boleh dikatakan "langganan" Cannes. Timbuktu diputar di kategori Kompetisi dan akan turut memperebutkan Palem Emas.

    Adapun film Silvered Water: Syria, Self Portrait memaparkan hancur leburnya Suriah yang dilanda perang saudara saat ini. Disutradarai oleh dua sohib, sineas Arab Ossama Muhammad dan perempuan Kurdi Wiam Simav Bedirxan, film ini diputar di Non-Kompetisi.

    Kata potret diri Suriah di judul dengan tepat menggambarkan pendekatan film itu, yang di satu sisi dengan gamblang menampilkan wajah Suriah komtemporer yang diambil kaum amatir dan menayangkannya di situs YouTube.

    Di sisi lain, Ossama Muhammad dan Simav Bedirxan menempatkan diri mereka sendiri dalam konteks dan kenyataan Suriah--sebagai warga yang tak berdaya.

    Bermula dari semacam perasaan bersalah karena meninggalkan Suriah dan bermukim di Prancis, Ossama Muhammad menjelajahi Internet untuk menyelusuri keadaan negerinya dari waktu ke waktu. Ia menyimak setiap footage tentang Suriah di YouTube hingga suatu ketika dia bertemu Wiam Simav di dunia percakapan maya, di ruang chating Internet.

    Simav adalah seorang perempuan Kurdi 35 tahun yang tinggal di Homs, Suriah. Mereka bercakap tentang ketidakberdayaan sebagai warga sipil di hadapan situasi yang begitu rumit. Mereka lalu bersepakat untuk membuat film ini.

    Film yang menurut Ossama di awal film, 1001, tentu mengacu pada angka simbolik, sebagaimana kisah seribu satu malam.

    Film mengalir sebagai montase dari berbagai footage di YouTube. Footage selalu tentang kekejaman dan kehancuran. Footage tentang seorang pemuda yang ditangkap tentara dan ditelanjangi, dianiaya, disiksa, diharuskan menciumi sepatu dan menyembah foto Bashar al Assad, menjadi semacam poros.

    Ossama selalu kembali kepada footage itu, membawanya dalam perjalanan di metro-metro di Paris, menempatkan dirinya sebagai anak itu.

    Di Homs, Simav membuat footages sendiri, anak-anak sekitar, manusia sekeliling, puing kota dan ia menemukan dirinya juga ditindas oleh para pemberontak, khususnya pemberontak radikal Islam, sehubungan sosok Simav yang tak berjilbab.

    Sebuah potret diri tentang Suriah yang tetap mengguncang, betapa pun setiap kali kita dipasok berbagai cerita dari negeri yang sedang menghancurkan dirinya itu.

    Sekitar 1000 kilometer dari Suriah, di Timbuktu, Mali, kaum radikal Islam menguasai kawasan. Mereka menerapkan syariah secara brutal. Musik, film, rokok, dilarang. Juga warna-warna cerah. Perempuan harus membungkus sekujur tubuhnya dalam warna gelap.

    Sutradara Abderrahmane Sissako membuat sejumlah sketsa kecil. Perempuan penjual ikan yang mendebat polisi syariah yang merazia karena tak bersarung tangan. Polisi syariah yang mencari dari mana datangnya suara musik untuk menangkap pelakunya, tapi ternyata mereka sedang melagukan pujian terhadap rasul dan Allah. (Baca : Film Sang Kiai Diputar di Festival Cannes)

    Gadis dan pemuda yang dirajam karena dituduh melanggar susila. Perempuan muda yang ditangkap karena bertelepon dengan seorang pemuda. Imam kampung yang berusaha menyadarkan imam asing pembawa kekerasan agama, gadis yang dicambuk karena menyanyi.

    Dan pasangan suami istri Kidane dan Satima, bersama anak perempuan mereka, Toya, yang hidup terkucil sebagai Beduin dalam tenda di padang pasir. Mereka toh tak bisa menghindar dari kekerasan agama yang membabi buta.

    Abderrahmane Sissako, sutradara muslim Mauritius, mungkin berusaha bersikap adil menyajikan sisi politik (politically correct). Namun, Timbuktu tetap saja mengguncangkan. Betapa pandangan buta terhadap agama bisa membawa manusia pada suatu jalan buntu seperti itu.

    Tak pelak, Tîmbuktu karya Abderrahmane Sissako dan Silvering Waters: Syria Self Portrait membuat publik Cannes 2014 merenung.

    GING GINANJAR (CANNES)


    Berita Terpopuler
    Jerry Wong Banjir Ucapan Duka dari Selebritas
    Meriah, Grand Final Indonesian Idol 2014

    Duet Nowela-Judika Menuai Pujian Juri

    Yang Besar dan Kecil dalam Singapore Art Museum




     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.