Film Perubahan Iklim Borong Tiga Penghargaan JAFF

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Garin Nugroho. Tempo/Pribadi Wicaksono

    Garin Nugroho. Tempo/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Film dokumenter berjudul Negeri di Bawah Kabut karya sutradara Shalahuddin Siregar memborong tiga penghargaan dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang digelar 1-5 Desember 2012 di Yogyakarta. Penghargaan itu diberikan di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu malam, 5 Desember 2012.

    Film yang mengisahkan tentang perubahan iklim meraih tiga penghargaan sekaligus, yakni Netpac Awards, Geber Awards, dan Special Mention Award dalam JAFF 2012. Film ini menyisihkan puluhan film yang diputar dalam JAFF. Netpac Awards diberikan kepada sutradara Asia yang dianggap memberi  kontribusi penting bagi gerakan sinema baru Asia.

    Film berdurasi 105 menit mengambil latar desa di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah. Film dokumenter itu bercerita tentang komunitas yang tenang mengahadapi perubahan iklim. Petani digambarkan mengandalkan kalender tradisional Jawa untuk membaca musim. “Ketika menonton film itu, kita seperti dekat dengan masyarakat yang digambarkan,” kata Direktur Festifal JAFF Ajish Dibyo dalam jumpa pers JAFF di Cafe Indraloka, Yogyakarta, Rabu 5 Desember 2012.

    Juri JAFF, Paul Agusta, mengatakan semua juri menilai film Negeri di Bawah Kabut layak mendapat penghargaan karena memakai sudut pandang dan pendekatan relatif baru. Film dibuat secara alami atau tanpa manipulasi gambar. “Sutradara film mampu merakit cerita tanpa manipulasi,” katanya.

    Sejumlah film lain juga mendapat penghargaan, antara lain film berjudul Bunohan, garapan sutradara Dain Iskandar Said, film aksi gaya Melayu.

    Adapun Postcards From The Zoo karya Edwin, yang menceritakan seseorang yang ditinggalkan sendirian di kebun binatang, meraih Golden Hanoman Awards. Film The Three Sisters menjadi film pendek terbaik peraih Blencong Award. Film Cartas de la Soledad meraih Netpac Award dan Blames and Flames meraih Special Mention Award.

    JAFF tahun ini memilih tema Redreaming Asia untuk menggambarkan realitas sosial kultural yang ada di negara Asia. “Masyarakat di negara Asia banyak memiliki kearifan lokal yang beragam,” katanya.

    Presiden Festival JAFF Garin Nugroho mengatakan JAFF menggambarkan peta baru sinema Asia. Tema itu menyangkut perkembangan seni, teknologi, dan kondisi sosial politik yang baru. JAFF menjadi simbol perlawanan lewat teknologi. “Contohnya pembuatan film di Filipina. Syuting hanya berlangsung 10 hari dan menghasilkan karya yang bagus,” kata dia.

    Puluhan film JAFF diputar di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Singosaren, Banguntapan, Krapyak, Wedomartani, dan Empire XXI Yogyakarta. Penghargaan itu akan diberikan, Rabu malam, 5 Desember di TBY.

    SHINTA MAHARANI

    Terpopuler:
    Jokowi Ngotot Harga Tiket MRT 1 Dolar  

    Pembunuh Mahasiswi Injak Al-Quran

    Bupati Aceng Juga Dibelit Dugaan Korupsi 

    Polri Kembali Tarik 13 Penyidiknya dari KPK

    Kata Eko ''Patrio'' Soal Bupati Garut Aceng Fikri  


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.