Pidato dalam Iringan Musik Jenaka  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Grup Musik Topology.(TEMPO/Dwianto Wibowo)

    Grup Musik Topology.(TEMPO/Dwianto Wibowo)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Pidato tokoh-tokoh dunia diperdengarkan. Ada Martin Luther King, Winston Churchill, bahkan mantan Presiden RI Soeharto. Kalimat-kalimat mereka disambung satu sama lain. Hampir tak ada bedanya. Tapi, yang menarik, kalimat pidato itu dibarengi dengan iringan musik.


    Ya, Topology menggarapnya dengan sangat jenaka dalam repertoar berjudul Airwaves Suite karya Robert Davidson dan Jonathan Dimond di Teater Salihara, Jakarta, Ahad dan Senin lalu. Mereka tak sekadar mengiringi pidato itu dengan instrumen musik, tapi sekaligus menyamakan ritme dan irama pidato dengan kalimat lagu mereka. Bahkan sesekali double bass digesek berbarengan dengan ritme pidato.


    Topology terdiri atas Robert Davidson (double bass), John Babbage (saksofon), Bernard Hoey (viola), Christa Powell (violin), dan Therese Milanovic (piano tamu). Mereka merambah wilayah komposisi yang tak biasa. Musiknya bergulat dengan berbagai lapisan ide, termasuk politik.


    "Tak ada proses editing di sini. Bahwa suara kita punya irama tersendiri dan mungkin banyak orang tidak menyadarinya," ujar Robert Davidson, pemain sekaligus Direktur Seni Topology. Suara-suara itu kemudian dimasukkan dalam komputer dan dihitung irama per detik. Hasil suara-suara itulah yang justru mendikte musik harus dimainkan seperti apa.


    Prinsipnya memang hampir sama dengan teknik vocalizing, yakni menirukan suara yang dihasilkan alat musik tertentu, seperti perkusi atau flute. Dan Davidson mempelajari ini selama 12 tahun.


    Konser dua hari itu mengambil tema berbeda. Pada konser pertama bertajuk Lucid Dreaming, mereka banyak memainkan lagu milik orang lain yang diaransemen ulang oleh para personel Topology. Adapun pada hari kedua, dengan judul Corridors Off Power, mereka lebih banyak memainkan repertoar pidato yang diiringi musik.


    Topology juga menggarap musik-musik dari musisi internasional, seperti Variations in a Serious Black Dress karya Elena Kats dan Chernin. Repertoar ini menyuguhkan performa piano yang berubah seperti mesin yang sangat berisik. String yang dihasilkan menambah riuh komposisi. Sinkopasi tak jarang pula meneror telinga. Piano dimainkan pada register rendah, lalu dengan cepat berpindah ke nada tinggi. Suasana menjadi kacau ketika piano ditekan dengan cara mengentakkan seluruh lengan pada tuts-tuts itu. Toh, harmoni tetap terjaga.


    Boleh dikata mereka adalah pemain dengan tingkat teknik yang tak sekadarnya. Terlihat mereka sangat biasa berkolaborasi dengan pelbagai musisi di dunia. Pada konser terakhir, penonton sempat dikejutkan oleh penampilan Topology yang berkolaborasi dengan Ubiet, pendendang Keroncong Tenggara. Mereka menggarap lagu Keroncong Kemayoran. "Memang cover version dengan albumnya Keroncong Tenggara. Tapi digarap dengan instrumen mereka, nuansa keroncongnya tidak hilang," ujar Ubiet seusai konser.


    Dalam dua kali konser itu, Topology juga memainkan beberapa lagu dari album mereka, seperti Chip Chop (John Babbage), I am Petrified (Bernard Hoey), Big Decisions: The Whitlam Dismissal (Robert Davidson), dan Evie (Bernard Hoey).


    Mereka mencoba merambah wilayah musik baru. Berbagai genre, dari jazz, rock, blues, musik kamar, hingga musik klasik, diramu sebagai latar belakang musik mereka. Dan karya mereka bergulat dengan berbagai lapisan ide, termasuk politik ataupun filsafat.


    ISMI WAHID


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.