Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Darah-darah yang Merdeka  

image-gnews
Darah Garuda: Merah Putih II
Darah Garuda: Merah Putih II
Iklan
TEMPO Interaktif, Jakarta

-----

 

Judul: Darah Garuda: Merah Putih II

Genre: Epik, Aksi

Sutradara: Yadi Sugandi dan Connor Allyn

Pemain: Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Rifnu Wikana, Darius Sinathrya, Rahayu Saraswati, Rudy wowor, Ario Bayu, Atiqah Hasiholan, Aldy Zulfikar.

 

-----

 

Ambang Agustus 1947. Meski kemerdekaan telah diproklamirkan dua tahun sebelumnya, Indonesia masih harus berperang melawan agresi militer yang dilancarkan Belanda. Perlawanan nan heroik dari tentara kita berkecamuk di sejumlah tempat, terutama di hutan-hutan belantara di tanah Jawa.

 

Alkisah, empat sekawan dari latar beragam kembali terhubung pada sebuah misi yang lebih berdarah. Amir (Lukma Sardi), Tomas (Donny Alamsyah), Dayan (Rifnu Wikana), dan Marius (Darius Sinathrya) berjanji membebaskan tiga perempuan yang tertawan Belanda dan dipekerjakan di perkebunan teh.

 

Misi menyelamatkan Lastri (Atiqah Hasiholan), Senja (Rahayu Saraswati), dan istri Amir yang tengah hamil muda (Astri Nurdin), menjadi aksi pembuka film bertajuk Darah Garuda: Merah Putih II. Film yang diproduksi Media Desa Indonesia ini merupakan sekuel Merah Putih. Diceritakan, aksi heroik empat sekawan itu berjalan mulus. Penuyusupan ke kamp tawanan di siang bolong, yang hanya dilakukan empat orang, bisa berhasil dengan mudah.

 

Lalu, mereka mencari jejak pasukan Jendral Sudirman di hutan Jawa Tengah untuk bergabung. Dari penggabungan itu, Amir diangkat menjadi kapten, dan tiga lainnya setingkat letnan. Kabar kemenangan kecil di kamp tawanan perempuan mengantarkan mereka untuk dipercaya membuat sebuah misi rahasia. Di atas peta pulau Jawa yang masih bertulis tangan, rencana pun diracik. Hanya Amir, Tomas, Dayan, Marius, dan seorang kepercayaan Jendral Sudirman yang mengetahui itu.

 

Tapi misi rahasia yang berniat menggempur lapangan udara Belanda itu kandas sebelum dimulai. Pasukan khusus Jendral Sudirman kocar-kacir di hadang Belanda di tengah jalan. Dalam insiden itu, Dayan tertembak dan ditawan Belanda. Semua pasukan mati, yang tersisa hanya Amir, Tomas, Marius, Lastri yang ikut berjuang, Yanto (Ario Bayu) sang sersan pasukan khusus, dan satu anak buahnya bernama Budi (Aldy Zulfikar).

 

Sebelum kekalahan itu, isu pengkhianatan telah diembuskan Sersan Yanto dengan sebuah pertanyaan mengusik batin Kapten Amir. Sang sersan khawatir ada penyusup yang di bawa Kapten Amir. “Kawan-kawan kapten berasal dari orang-orang yang berbeda, sedangkan kami semua Jawa dan kami muslim. Kami bukan ras pengkhianat,” kata Yanto.

 

Usai kekalahan itu, mereka kembali bergerilya di dalam hutan. Setelah berpisah dengan Yanto yang bertugas mengalihkan perhatian Belanda, kelimanya bertemu dengan sebuah kelompok pejuang muslim. Kelompok ini, menurut sutradara Yadi Sugandi, hadir sebagai perwakilan kelompok mujahidin yang dikenal sebagai Hisbullah.

 

Bagi sutradara Yadi Sugandi, yang berduet dengan sineas asing Connor Allyn, menggarap film epik merupakan tantangan tersendiri. Unsur komersil dan potongan sejarah harus mendapat porsi yang adil dalam adonan film ini. Meski tokoh-tokoh fiksi memang dipoles untuk kebutuhan komersilisasi dan hiburan, estetikanya tak menihilkan sosok pahlawan yang sebenarnya.

 

Di film ini, hampir tak ada tokoh pahlawan asli yang diangkat ke permukaan, meski dikisahkan sempat bergabung dengan pasukan Jendral Sudirman. Di bagian itu, sosok Jendral Sudirman tidak dijabarkan secara tegas. Pahlawan itu hanya kebagian satu adegan, wajahnya tak jelas saat ditandu dari jauh. Bahkan pengangkatan kapten dan letnan untuk Amir dan kawan-kawan pun diwakili oleh wakil sang jenderal. “Saat ini kesehatan Jendral sedang tidak baik, ia sedang sakit,” ujar wakil itu menodorkan alasan.

 

Meski begitu, niat baik film ini mengumandangkan tema persatuan ragam ras dan golongan yang digambarkan dalam “pasukan mini” Kapten Amir perlu diacungi jempol. Ada Dayan dari Bali yang justru berjuang di tanah Jawa, Tomas asal Manado yang tak membedakan ras, Marius anak priyayi asal Jakarta, dan Lastri yang keturunan Belanda. Namun, dengan mentakdirkan Yanto sebagai pengkhianat, yang sebelumnya telah mendeklarasikan diri sebagai seorang Jawa dan muslim taat, membuat konsistensi niat itu kembali dipertanyakan.

 

Yang jelas, dari sisi sinematografi film ini boleh dibilang menarik. Porsi ledakan, konflik, dan darah, membuat greget film epik ini lebih menarik dibandingkan dengan seri perdananya, Merah Putih. Temponya bergerak lebih cepat, alur ceritanya juga dikemas dengan cukup ringkas, dan aksi heroiknya pun lebih gamblang. “Di film sebelumnya memang terkesan menjemukan, karena memang ingin memperkenalkan karakter masing-masing tokoh hingga dalam,” kata produser eksekutif Hashim Djojohadikusumo.

 

 

AGUSLIA HIDAYAH

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Mira W Puas Dengan Arini Besutan Ismail Basbeth

4 April 2018

Poster film Arini. twitter.com
Mira W Puas Dengan Arini Besutan Ismail Basbeth

Film Arini mampu menerjemahkan kisah dalam novel dengan baik dalam konteks kekinian


Film Indonesia Diputar di Busan International Film Festival 2017

17 Oktober 2017

Sumber: Dokumentasi pribadi
Film Indonesia Diputar di Busan International Film Festival 2017

Film Ismail Basbeth ini diputar perdana pada A Window on Asian Cinema. Memperkenalkan film-film pilihan dari Most Talented Asian Filmmaker of The Year


Garap Film Posesif, Sutradara Edwin: Tak Korbankan Idealisme

13 Oktober 2017

Sutradara Edwin, penulis naskah Gina S. Noer, Adipati Dolken, Putri Marino, duo produser Muhammad Zaidy dan Meiske Taurisia, yang membuat film Posesif saat di Bandung, 24 Januari 2017. TEMPO/ANWAR SISWADI
Garap Film Posesif, Sutradara Edwin: Tak Korbankan Idealisme

Menggarap film Posesif, menurut Edwin, sama sekali tidak mengorbankan idealismenya sebagai sutradara film selama ini.


Star Wars: The Last Jedi, Ungkap Siapa Jedi yang Terakhir

9 Oktober 2017

Figur dari film Star Wars dihadirkan dalam New York Comic Con di New York City, AS, 5 Oktober 2017. REUTERS
Star Wars: The Last Jedi, Ungkap Siapa Jedi yang Terakhir

Lucasfilm telah secara resmi mengumumkan bahwa trailer film Star Wars: The Last Jedi akan tayang pada hari Selasa, 10 Oktober 2017.


Di Pemutaran Film ini, Pria Kulit Putih Bayar Tiket Lebih Mahal

22 September 2017

Seorang pria melihat poster film lama di sebuah bioskop yang tidak terpakai di Al-Ahram, Tripoli, Lebanon, 5 Juli 2017. Kini Qassem Istanbouli mendapatkan dukungan finansial dari kementerian kebudayaan Lebanon, sebuah LSM Belanda dan Amerika Serikat untuk membangun mimpinya. REUTERS/Ali Hashisho
Di Pemutaran Film ini, Pria Kulit Putih Bayar Tiket Lebih Mahal

Shiraz Higgins ingin bicara soal adanya ketakadilan
pendapatan antara perempuan dan laki-laki di Kanada


Joko Anwar Gandeng Dua Seniman Main Film Pengabdi Setan  

22 September 2017

Poster film Pengabdi Setan. imdb.com
Joko Anwar Gandeng Dua Seniman Main Film Pengabdi Setan  

Di film Pengabdi Setan, Joko Anwar membutuhkan ada pemain
yang bisa menerjemahkan cerita melalui gestur. Ia melibatkan
dua seniman di Pengabdi Setan


Gerbang Neraka, Film Horor Dengan Format Berbeda

15 September 2017

Pemeran Film Gerbang Neraka Julie Estelle (kiri), Reza Rahadian (tengah) dan Dwi Sasono (kanan) berfoto bersama saat menghadiri peluncuran film Gerbang Neraka di Jakarta, 13 September 2017. Film Gerbang Neraka akan dirilis secara serentak di seluruh bioskop pada 20 September mendatang. ANTARA FOTO
Gerbang Neraka, Film Horor Dengan Format Berbeda

Film Gerbang Neraka digadang sebagai film horor yang dikemas
lain dari gaya film horor sebelumnya


Jay Subyakto Didemo Warga Keturunan Wandan Terkait Film Banda

31 Juli 2017

Ratusan warga keturunan asli Banda melakukan unjuk rasa, di halaman Gong Perdamaian Ambon, 31 Juli 2017. Aksi tersebut dilakukan menyusul pernyataan sutradara Film Banda The Dark Forgotten Trail, Jay Subiyakto yang dianggap menyudutkan warga asli Banda dalam promosi filmya. Foto: Rere Khairiyah
Jay Subyakto Didemo Warga Keturunan Wandan Terkait Film Banda

Ratusan warga mendesak DPRD untuk menunda penayangan film Banda yang disutradari Jay Subyakto.


Harry Styles dan Pangeran Harry Ramaikan Premier Film Dunkirk

15 Juli 2017

Harry Styles berakting di film Dunkirk. DAILYMAIL
Harry Styles dan Pangeran Harry Ramaikan Premier Film Dunkirk

Harry Styles mendampingi Pangeran Harry di karpet merah premier film Dunkrik karya Christopher Nolan.


Lebanon Akan Boikot Wonder Woman karena Diperankan Aktris Israel

31 Mei 2017

Aktris Gal Gadot memerankan perannya saat syuting film terbarunya, Wonder Woman. Film ini menceritakan sosok Diana, putri cantik asal Amazon yang dilatih guna menjadi ksatria tak terkalahkan, Wonder Woman. AP Photo
Lebanon Akan Boikot Wonder Woman karena Diperankan Aktris Israel

Aktris Israel, Gal Gadot yang jadi Wonder Woman disebut-sebut menjadi anggota militer Israel.