Tarian Jawa Sakral Tari Serimpi Karya Era Kejayaan Sultan Agung

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tari Serimpi Pandhelori. ANTARA/Teresia May

    Tari Serimpi Pandhelori. ANTARA/Teresia May

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia memiliki kekayaan budaya yang berlimpah, salah satunya dalam bidang kesenian tari. Kesenian tari di setiap daerah memiliki keistimewaan dan keunikannya masing-masing. Hal tersebut menjadi karakteristik pembeda tari dari suatu daerah dengan daerah lain. Salah satu daerah yang memiliki kesenian tari yang adiluhung adalah Jawa. Tarian Jawa memiliki berbagai macam jenis dan alur cerita. 

    Dalam tarian Jawa, setiap gerakan memiliki aturan dan ketentuannya sendiri. Serta di setiap gerakan tari memiliki makna yang terkandung di dalamnya. Gerakan dasar tari Jawa terdiri atas srisig, sabetan, hoyog, lumaksana, kengser, seblak sampur, dan ulap-ulap. Serta, menjadi ciri khas tari Jawa jika gerakan tarian dipraktekan dengan lembut. 

    Salah satu tarian khas Jawa ialah Tari Serimpi. Tari Serimpi merupakan tarian peninggalan Kerajaan Mataram Islam pada masa kejayaan Sultan Agung. Walaupun pada akhirnya, Kerjaan Mataram Islam pecah yang berampak pada Tari Serimpi.  tarian ini pecah menjadi dua jenis tarian, yaitu Tari Serimpi Gaya Yogyakarta dan Gaya Surakarta. 

    Kata serimpi berasal dari bahasa Jawa, yaitu impi atau ngimpi yang memiliki arti mimpi atau bermimpi. Sebab gerakan yang dipertunjukan kepada penonton sangat indah seperti dibawa ke alam mimpi. Tari ini melambangkan karakter perempuan Jawa yang lembut dan anggun. Menggambarkan perempuan yang memiliki tutur kata dan perilaku yang halus dan lembut. Oleh karena itu, penari perempuan memperagakan tari dengan tenang dan halus, serta ekspresi anggun dan lemah gemulai. 

    Pada awalnya, tarian Jawa ini dipertunjukan ketika penobatan raja baru dan acara di istana lainnya. Sebab, dahulu, tari serimpi ini termasuk tarian sakral yang hanya boleh digelar di wilayah keraton dan pada acara-acara penting saja. Namun, dengan berjalannya waktu, tari ini dapat ditonton oleh siapa saja dan beralih fungsi sebagai warisan budaya dan tari hiburan. 

    JACINDA NUURUN ADDUNYAA 

    Baca: Mau Belajar Menari, ini Tipsnya

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...