Negatif Corona Tapi Kena Bronkitis, Dokter Tirta: Obat? Gak Ada

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dr. Tirta, influencer, dokter, dan pengusaha sepatu lokal memberi keterangan soal undangan BNPB. Instagram.com

    Dr. Tirta, influencer, dokter, dan pengusaha sepatu lokal memberi keterangan soal undangan BNPB. Instagram.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa hari terakhir, Dokter Tirta Mandira Hudhi membagikan kondisinya yang memburuk. Dokter yang juga influencer dan pengusaha ini dirawat di Rumah Sakit Kartika Pulomas , Jakarta dan berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) virus corona.

    Melalui akun Instagram nya, Dokter Tirta membagikan kondisinya dari hari ke hari. Ia menjalani rapid test pertama dan hasilnya negatif. Keesokan harinya, Dokter Tirta keliling delapan rumah sakit untuk membagikan Alat Pelindung Diri (APD) sampai pukul 3 pagi dan menyebabkan dirinya mengalami demam disertai batuk hingga masuk rumah sakit.

    Di rumah sakit, Dokter Tirta rapid test untuk kedua kalinya dan hasilnya negatif. Tapi Dokter Tirta justru didiagnosa bronkitis kronis akibat rokok. “Ya saya akui saya bodoh merokok, udah tenaga medis merokok. Sebarkan postingan ini agar sekitarmu mengerti efek rokok,” sesal Dokter Tirta.

    Ia juga mengunggah foto hasil rontgen paru-parunya pada Senin, 30 Maret 2020, “Ini gambaran x ray paru saya, 28 tahun, ditemukan gambaran emfisematous, udara menumpuk diparu, dan menggeser diafragma saya sampe ke bawah ke SIC 6.”

    Menurut Dokter Tirta, batuk dan demam yang sempat ia alami sebelumnya merupakan pertanda dari Allah, bahwa penyakit paru yang dideritanya memburuk akibat kebodohannya sendiri. “Makasih ya Allah , karena diberi sakit , agar saya tersadar dari kebodohan saya sendiri,” ucapnya.Dokter Tirta tengah mengajari cara mencuci tangan yang benar untuk pencegahan penularan virus Corona. Instagram.com

    Bronkitis menyebabkan udara dapat masuk ke paru-parunya, namun susah untuk keluar. Akibatnya, ia sering mengalami batuk ringan.“Apalagi pagi dan pengumpulan dahak kalo pagi. Endingnya PPOK TOTAL, nafas nanti harus pake trakeotomi (dibolongin tenggorokannya kaya poster). Ini adalah gambaran PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIS / PPOK / BRONKITIS KRONIS," tulis Dokter Tirta.

    Penyakitnya ini juga dapat memicu kanker paru-paru hingga beberapa kali lipat dan berpotensi terkena kanker paru-paru di masa depan. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya, satu-satunya cara adalah dengan berhenti merokok. Setelah kejadian ini, Dokter Tirta akan membantu Kementerian Kesehatan untuk mengkampanyekan stop rokok.

    Obat? Ga ada. Asapnya bakal di paru gitu aja terus. Sampe kapanpun ya saya akan mudah sesek nafas. Satu2 nya cara berenti merokok dan menjauhi asap rokok. Setelah ini, saya memutuskan membantu @kemenkes_ri kampanye stop merokok dan semoga kanker paru gak menghampiri saya. Saya adalah bukti berjalan dan bukti yg masih hidup #stoprokok ! #edukasi !,” tutupnya.

    ALFI SALIMA PUTERI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.