Etika Liputan Media, Dewi Sandra: Kebablasan dan Lupa Adab

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dewi Sandra. TEMPO/Eka Wahyu Pramita

    Dewi Sandra. TEMPO/Eka Wahyu Pramita

    TEMPO.CO, Jakarta - Aktris dan penyanyi Dewi Sandra mempertanyakan etika yang dimiliki oleh wartawan dalam meliput berita, terutama peliputan terhadap musibah yang dialami selebritas. Perempuan 39 tahun ini merasa tidak ada lagi rasa kemanusiaan pada diri wartawan.

    "Di mana etika dan rasa kemanusiaanmu?" tulis Dewi di Instagramnya pada Rabu, 26 Februari 2020. Saat itu Dewi menunjukkan foto dari balik pagar rumah yang memperlihatkan beberapa orang yang diduga wartawan sedang mengarahkan handphonenya ke arah dalam untuk mengambil gambar atau merekam dengan melewati batas pagar bagian atas. 

    Sepertinya, Dewi mengunggah foto saat takziah di kediaman Bunga Citra Lestari atau BCL saat suaminya, Ashraf Sinclair meninggal pada Selasa, 18 Februari 2020. Musababnya, beberapa hari setelah itu, ia ikut mengomentari unggahan Ernest Prakasa soal etika peliputan saat meliput kabar duka. 

    Dewi Sandra menyindir wartawan hiburan yang meliput meninggalnya Ashraf Sinclair. Instagram Dewi Sandra

    Mantan istri Surya Saputra dan Glenn Fredly ini mengungkapkan bahwa dirinya pernah diposisi serupa. "Dulu banget, aku pun ada di posisi seperti ini, dengan berita yang beda tentunya. Soal perceraian, tapi sesungguhnya media gak terlalu peduli juga, beritanya apa yang penting berita," tulis Dewi.

    Perempuan kelahiran Brasil ini menceritakan pengalaman tidak menyenangkan yang pernah dilakukan salah satu media kepada kehidupan pribadinya. "Pernah ada teman media yang pernah masuk ke dalam pekarangan rumah tanpa izin hanya untuk mengambil gambar. Dan di situ aku merasa ini sudah terlalu jauh. Mungkin kalau di tempat umum bisa ditolerir tapi kalau udah privat, di rumah sendiri masih dicecer, lalu batasnya ada di mana?" tulis Dewi.

    Menurutnya hal ini sudah kelewatan apalagi terjadi di tengah keluarga yang sedang berduka. "Sadarkah bahwa keluarga ini sedang berkabung dan butuh ruang dan waktu untuk melewati fase berat ini. Saya pun ngerti bahwa teman-teman punya pekerjaan. Mungkin ini lebih pas ke redaktur yang memaksakan tapi sayangnya kebablasan dan lupa adab. Manusia butuh di manusiakan. Dan gak semua berita harus dipublikasikan," tulis Dewi.

    Istri dari Agus Rahman ini berharap apa yang dikatakannya ini bisa menjadi bahan renungan untuk selanjutnya. "Semoga hati nurani kami kembali dimanusiakan. Kalau posisi dibalik apakah sikap kita saat ini sesuatu yang patut untuk dibanggakan? Biarlah itu menjadi sebuah pertanyaan untuk direnungkan," tulis Dewi.

    Sebelum Dewi, Ernest Prakasa juga sudah pernah membahas hal serupa di Instagramnya. Ernest merasa sedih ketika kabar duka dimanfaatkan demi keuntungan pribadi atau suatu pihak saja. Dari hasil pengamatannya, sutradara sekaligus komika ini merasa bahwa beberapa media tersebut hanya peduli dengan jumlah khalayak tanpa peduli dengan sikap empati.

    "Menyorot tanpa henti, mengeksploitasi tanpa empati. Saat clik dan views jadi dewata, nurani pun jadi jelata," tulis Ernest di Instagramnya pada Rabu, 19 Februari 2020.

    MARVELA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.