Pemberontakan Drupadi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: -- "Apakah kita tidak melakukan perjalanan ini bersama-sama? Kebersamaan untuk siapa? Untuk Pandawa, tapi tidak untuk diriku." Drupadi pun beranjak ke Puncak Mahameru sendirian. Ia meninggalkan suami, Puntadewa atau Yudistira, dan empat adiknya. Ia bukan lagi Drupadi dalam cerita wayang Mahabharata, yang setia menemani Pandawa ke puncak keabadian setelah memenangi perang besar melawan Kurawa.Sebab, Pandawa kali ini bukan pahlawan tanpa cacat, melainkan kelompok kesatria yang lupa diri setelah berkuasa. Sang pemimpinnya tak kunjung menghargai kesetiaan sang istri yang telah berkorban demi perjuangan sang suami.Drupadi seperti itulah yang dipentaskan sang koreografer sekaligus sutradaranya, Elly D. Lutan, bersama kelompoknya, Deddy Lutan Dance Company, di Graha Bhakti Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 28-29 Juli lalu. Pentas teater tari ini berjudul "Drupadi Mulat, Ketika Perempuan di Titik Kemarahan".Dalam cerita aslinya, misalnya, perempuan itu adalah istri lima kesatria Pandawa itu sekaligus. Tapi, di Jawa, terutama setelah masuknya Islam, ia hanya istri Yudistira, sulung dari lima kesatria itu. Kisah carangan atau beragam versi dari cerita wayang yang tumbuh subur di Jawa ini tetap menarik orang untuk terus menikmatinya. Hal itu jugalah yang dilakukan Elly dalam pentas satu jam. Apalagi, seperti narasi yang dibawakan seorang perempuan (Meyke Vierna) di awal dan akhir pertunjukan itu, pentas ini juga mengetengahkan sejumlah dialog dan pemaparan dalam bahasa Indonesia. Hal itu bermanfaat buat penonton yang tak paham betul dengan kisah wayang. Alur utamanya masih sama, yaitu tekad Drupadi mewujudkan balas dendamnya atas tindakan Dursasana, yang menelanjanginya. Hal itu terjadi saat ia jadi upeti atas kekalahan Pandawa dalam judi dadu melawan Kurawa. Tapi, ketika ia berhasil melaksanakan sumpah dengan mencuci rambutnya dengan darah Dursasana, cerita mulai berbelok. Puntadewa masih saja melecehkan kesetiaan Drupadi dan dunia menganggap tindakannya berkeramas dengan darah musuh suaminya itu kejam. Selain itu, Pandawa dalam pentas ini bukan pahlawan yang menjaga moralnya ketika menang perang atas Kurawa, representasi kejahatan. Menghadapi semua itu, Drupadi menjauh dari suami dan adik-adiknya. Ia mencari wajah kehidupan lain yang disimbolkan dengan mengenakan topeng. Elly bertolak dari tradisi tari Jawa yang menghabiskan sebagian dari usianya yang tepat memasuki usia 56 tahun ketika ia melakukan gladi bersih pentas pada 27 Juli. Tapi ia juga telah lama membuka diri, tidak hanya terhadap tradisi tari di seluruh Indonesia, tapi juga terhadap bentuk kesenian lainnya, seperti teater. Karena itu, selain nama-nama yang sudah akrab, seperti penyanyi Iga Mawarni, yang biasa merangkap menjadi pemimpin produksi, ada Djarot B. Darsono, Wasi Bantolo, Eko Supendi, Hery Bodonk, Wiwiek H.W., Joko Porong, dan Blacius Subono, yang setia menemani proses Elly. Juga ada sutradara teater Ags Aryadipayana dan dalang muda Nanang Hape, yang ikut dalam proses sekaligus bermain dalam pentas ini. Karena itu, meminjam ungkapan dari koreografer muda Jeffriandi Usman, pentas Drupadi ini adalah opera. Tari, tembang atau nyanyi, dan teater dalam satu pementasan ini juga telah lama menjadi ciri khas tradisi kesenian kita. Enam tahun lalu di Gedung Kesenian Jakarta, Elly juga mewujudkannya dalam "Kunti Pinilih". Elly juga terus setia mengangkat tema tentang persoalan perempuan secara universal, tapi tetap melalui medium tradisi sebagaimana halnya dalam "Kunti Pinilih" (2002 dan 2004), "Cut Nyak Perempuan Itu Ada" (2004), dan "Gendari" (2002), yaitu ibu Kurawa. Namun, Elly tidak menggarapnya dalam sebuah cerita linier yang bisa menjebaknya untuk menjadi pentas yang berlarat-larat. Bangunan alur yang bersumber dari cuplikan novel Manyura karya Yanusa Nugroho pada kisah Drupadi itu tetap mengedepankan tari dalam mengungkapkan "pemberontakan pelan-pelan" perempuan tersebut. Karena itu, kita bisa tetap menikmati kepiawaian Elly meramu unsur tari bedaya yang halus sampai segi-segi tari Banyuwangi dan kentrungan, yang menggambarkan keliaran atau kebinatangan Drupadi. Ia pun cerdik memanfaatkan simbol, seperti alu dan lesung serta sapu lidi, dan mempermainkan kisah Drupadi ini dengan cerita rakyat jelata atau kawula, yang beberapa kali menginterupsi adegan utama. Yang belum terasa menyatu dengan teater tari ini adalah bagian ketika rakyat jelata itu bersenda gurau saling ledek satu sama lain soal satria serta para pria yang suka melecehkan istri dan perempuan. "Unsur tari-tarinya saja sudah sangat kuat. Tapi pada adegan dialog-dialog itu belum menjadi sesuatu yang istimewa," kata Jeffriandi. HARI PRASETYO

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.