Film 'Street Punk, Banda Aceh' Raih Pujian di London  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melihat sejumlah foto kenangan dalam peristiwa Tsunami pada 12 tahun lalu yang ditunjukkan di dalam sebuah spanduk besar di depan masjid Ulee Lheu, Banda Aceh, 26 Desember 2016. TEMPO/Adi Warsidi

    Warga melihat sejumlah foto kenangan dalam peristiwa Tsunami pada 12 tahun lalu yang ditunjukkan di dalam sebuah spanduk besar di depan masjid Ulee Lheu, Banda Aceh, 26 Desember 2016. TEMPO/Adi Warsidi

    TEMPO.CO, Jakarta - Film dokumenter "Street Punk! Banda Aceh," karya jurnalis Maria Bakkalapulo dan pasangan produsernya Niall Macaulay berhasil mengundang rasa kagum penikmat film Indonesia di London, Inggris.

    Film itu ditayangkan dalam Festival Film Indonesia yang bertemakan "Films of The Archipelago," yang diadakan di Deptford Cinema, bioskop berbasis komunitas di wilayah Tenggara London, dari tanggal 4 sampai 26 Maret 2017.

    "Filmnya sangat menarik dan tidak dapat dibayangkan ada sekelompok anak remaja dengan gaya Barat di Aceh yang budaya sangat ketat," ujar gadis manis, Grabiella kepada Antara London, usai menonton film "Street Punk! Banda Aceh," Senin, 6 Maret 2017 malam.

    Film "Street Punk Banda Aceh" menceritakan kisah kehidupan anak remaja di Banda Aceh yang tergabung dalam komunitas punk yang sangat populer di negara Barat, yang tumbuh 11 tahun lalu, setelah terjadinya gempa bawah laut besar yang memicu tsunami di Samudera Hindia, dan menewaskan 167.000 orang di Aceh.

    Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris dan Irlandia, Rizal Sukma, menyampaikan pujiannya atas penyelenggaraan Films of the Archipelago di Deptford Cinema yang dapat mempromosikan kekayaan budaya dan keunikan kehidupan sosial Indonesia kepada masyarakat Inggris.

    Dikatakannya film merupakan salah satu medium yang efektif dalam pelaksanaan diplomasi budaya Indonesia di Inggris, yang dapat mempererat hubungan antarwarga di antara kedua negara

    Sementara itu Lenah Susianty, pengagas festival film Indonesia Festival bersama Paul Flanders kepada Antara mengatakan film Indonesia belum banyak dikenal di Inggris. Hal ini disebabkan tidak adanya hubungan dengan perusahaan pendistribusi film di Inggris. Hanya beberapa film saja yang bisa masuk ke bioskop umum di Inggris, seperti "The Raid" yang disutradarai Gareth Evans, ujarnya.

    Untuk itu digelarnya "Films of The Archipelago," menjadi uji coba untuk melihat animo penonton. "Saya merasa senang dengan animo penonton yang cukup banyak sebagian besar orang Inggris, sasaran kami memang itu. Selain itu film Indonesia sudah saatnya dikenal di luar karena banyak yang bagus," ujar Lenah yang lama menetap di London dan bekerja sebagai penerjemah.

    Film Indonesia lainnya yang diputar selama festival selain "Street Punk Banda Aceh", sebelumnya "Jilbab Selfie", juga ada film "Jalanan", "Maryam", "Lovely Man", serta film laga "Headshot", dan "Pintu Terlarang" dengan harga tiket sebesar lima poundsterling. *

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.