Sembilan Penampil Yang "Hilang" dari Synchronize Fest

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rhoma Irama. DOK/TEMPO/Agung Pambudhy

    Rhoma Irama. DOK/TEMPO/Agung Pambudhy

    TEMPO.CO, Jakarta - Festival musik tiga hari yang diselenggarakan Dyandra Promosindo dan Demajors, Synchronize Fest, sukses berlangsung di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta, 28-30 Oktober 2016.

    Gelaran yang menjadi momen kehidupan kembali konsep festival serupa yang diawali Demajors pada 2009 itu sukses menghibur para pengunjung dengan lini penampil dari berbagai genre musik, baik itu folk, rockabilly, pop, jazz, hingga dangdut.

    Meski telah menampilkan tak kurang dari 104 penampil di lima panggung yang ada selama tiga hari, tetap saja ada beberapa penampil yang dirasa terlewatkan dan seharusnya hadir di ajang yang disebut-sebut David Karto selaku Direktur Festival bukan sekadar festival musik tetapi sebuah pergerakan untuk memajukan musik lokal itu.

    Berikut adalah sembilan penampil yang menurut ANTARA News yang seharusnya masuk ke dalam deretan penampil Synchronize Fest (berdasarkan abjad): Banda Neira Duo Ananda Badudu dan Rara Sekar yang lebih senang menyebut genre musik mereka sebagai nelangsa pop itu, awal tahun 2016 lalu baru saja meluncurkan album penuh kedua mereka "Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti".

    Sayangnya, momen peluncuran album tersebut dirayakan dengan pesta kecil-kecilan sekaligus menjadi perpisahan sementara lantaran Rara harus bertolak ke Selandia Baru untuk melanjutkan studinya.

    Synchronize Fest seharusnya bisa menjadi oase bagi para penggemar melepas rindu dengan lagu-lagu populer Banda Neira seperti "Di Beranda", "Di Atas Kapal Kertas", "Hujan di Mimpi", "Langit & Laut", "Sampai Jadi Debu" dan "Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti".

    Cupumanik Band beraliran musik Seattle Sound alias grunge itu terakhir kali hadir lewat album "Menggugat" yang dirilis 2014 lalu.

    Meski masih rutin beredar dari panggung ke panggung, Che dkk pantas mendapat tempat di Synchronize Fest untuk menggerakkan kaum kucel ke Gambir Expo.

    Kuartet grunge itu pasti mampu membakar kerumunan pengunjung dengan nomor-nomor andalannya seperti "Grunge Harga Mati", "Luka Bernegara", "Aksara Alam" dan "Maha Rencana", ataupun mengajak merenung dengan "Syair Manunggal", "Ibu" dan "Siklus Waktu".

    Frau Duet yang terdiri Leilani Hermiasih bersama Oskar, piano digital Roland RD700SX kesayangannya, pantas mendapat panggung di Synchronize Fest.

    Pada 20 Januari 2016 lalu, Frau mengadakan pertunjukan tunggal bertajuk Konser Tentang Rasa di Gedung Kesenian Jakarta, yang saking besarnya antusiasme massa menyaksikan Lani bersenandung sembari membelai-belai tubuh Oskar panitia memutuskan untuk membuat dua kali pertunjukan pada hari yang sama.

    Selain nomor-nomor andalan dari kedua album penuhnya, "Starlit Carousel" (2010) dan "Happy Coda" (2013), Frau punya sederet materi baru yang bisa ditampilkan, baik itu dari komposisi album ketiganya maupun single dari proyek seni Parasite Lottery.

    Indische Party Kuartet yang mengusung musik Rhytm & Blues, Rock dan Pop itu akhir September 2016 kemarin berkesempatan untuk melakoni rekaman di studio legendari Abbey Road, London, Inggris.

    Lantas pada 12 Oktober 2016 band yang digawangi Japs Shodiq, Kubil Idris, Jacobus Dimas dan Tika Pramesti itu meluncurkan single terbaru mereka yang berjudul "Serigala".

    Kehadiran Indische Party dipastikan akan mengajak kerumunan Synchronize Fest berjingkrak hebat dengan sajian musik-musik ala era 60-an mereka.

    Melancholic Bitch Saking lamanya Melancholic Bitch tampil di panggung, tak sedikit penggemarnya yang lupa kapan terakhir kali mereka merapalkan naskah drama multibabak "Balada Joni dan Susi" bersama-sama band kesayangan mereka itu secara langsung.

    Yang tersisa hanya cuitan penuh godaan dari akun twitter resmi band tersebut @simelbi, sembari para Joni dan Susi menerka-nerka kapan Ugoran Prasad kembali dari Amerika Serikat dan berdiri tegak di atas mimbar memberi komando koor lirik-lirik magis khas Melbi.

    Seharusnya, kalau Dyandra dan Demajors bisa menerbangkan Cholil Mahmud pulang untuk tampil bersama Efek Rumah Kaca, mereka bisa berusaha lebih keras membujuk Ugo untuk pulang sejenak dan mengajak kerumunan bercinta di luar angkasa. Agar ruang pertemuan dengan Melbi tak sekadar daftar lagu yang meluncur dari earphone dan diputar berulang-ulang semata, ataupun tulisan-tulisan ulasan "Balada Joni dan Susi" yang tak pernah surut terus bermunculan di dunia maya.

    Stars and Rabbit Duo folk asal Yogyakarta yang digawangi Elda Suryani dan Adi Widodo ini baru saja merampungkan mini tur mereka di tanah Britania Raya, "Baby Eyes", pada 20 Oktober 2016.

    Berbekal lagu-lagu andalan dari album penuh perdana mereka, "Constellation" (2015), Stars and Rabbit akan dengan mudah menyihir pengunjung Synchronize Fest berjingkat-jingkat mengikuti gerakan-gerakan khas Elda tiap tampil di panggung.

    Sujiwo Tejo Synchronize Fest terbilang sukses memusnahkan jurang pemisah antara skena musik indie dengan Raja Dangdut Rhoma Irama serta Orkes Madun Pengantar Minum Racun. Namun jika berbicara upaya menghasilkan gejala gegar budaya, Sujiwo Tejo, seharusnya bisa menjadi salah satu penampil festival tersebut.

    Selain sukses mengikis jarak dengan kepopulerannya di dunia media sosial, Tejo juga punya segudang musik-musik "asing" yang bakal menarik untuk diperdengarkan ke telinga generasi milenial, sebut saja "Pada Suatu Ketika", "Anyam Anyaman Nyaman", "Anyam Anyaman Nyaman II", atau bahkan lagu yang berlirik dalam bahasa Madura, "Zen Die".

    Tika & The Dissident Band yang dipimpin Kartika Jahja itu tahun 2016 ini baru saja memperkenalkan album teranyar "Merah", berkomposisi lagu-lagu yang mengangkat sejumlah isu sosial termasuk "Tubuhku Otoritasku" yang merupakan bentuk protes atas perilaku patriarkis yang berlangsung dan mengekang perempuan dalam banyak hal hingga cara berpakaian.

    Berbekal kepedulian Tika terhadap isu-isu sensitif di tengah masyarakat, selain mengajak kerumunan pengunjung berjingkrak Tika tentu saja akan membekali para penonton agar tercerahkan selepas menyaksikan penampilan Tika dkk.

    Zeke and The Popo Terakhir kali akun twitter Zeke and The Popo, @zatpp, mencuit tercatat pada 18 Juni 2012, sebelum kemudian pada 11 Oktober 2016 lalu akun tersebut membagikan tautan ke saluran Youtube mereka berisi sebuah video berjudul "Zeke and The Popo - 2017" yang seolah menjadi sinyal mereka akan kembali setelah vakum beberapa tahun belakangan.

    Synchronize Fest seharusnya bisa dijadikan Zeke Khaseli dkk sebagai ajang pemanasan jelang proyek terbaru mereka baik itu berupa album atau single nantinya, selain juga menandakan bahwa mereka masih hidup.

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.