Unibraw Batalkan Nobar Beberapa Film Tentang HAM

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang penonton mencari bangku kosong saat pemutaran film The Look of Silence karya Joshua Oppenheimer di IFI Bandung, Jawa Barat, 10 Desember 2014. TEMPO/Prima Mulia

    Seorang penonton mencari bangku kosong saat pemutaran film The Look of Silence karya Joshua Oppenheimer di IFI Bandung, Jawa Barat, 10 Desember 2014. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Malang - Setelah rektorat melarang pemutaran film Senyap (The Look of Silence) di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya, kini giliran pemutaran serupa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik juga dibatalkan. Padahal di laman www.filmsenyap.com telah disebutkan bahwa nonton bareng film dokumenter karya Joshua Oppenheimer di FISIP Unibraw dijadwalkan pada Kamis, 18 Desember 2014.

    "Pemutaran dibatalkan setelah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya ditangkap. Menghindari hal-hal sensitif," kata panitia penyelenggara, Grace Laksana, Jumat, 12 Desember 2014. (Baca berita sebelumnya: Militer Intimidasi Pemutaran Film Senyap di Malang)

    Menurut Grace, sebenarnya pemutaran Senyap itu dimaksudkan untuk memperingati hari Hak Asasi Manusia. Peringatan Hari HAM di Unibraw dilaksanakan selama empat hari mulai 16-19 Desember 2014 bekerjasama dengan Center for Culture and Fontier Studies (CCFS), Jurusan Sosiologi dan Jurusa Ilmu Komunikasi. Film Senyap yang batal diputar itu, kata Grace, diperoleh langsung dari Joshua setelah mendaftar. Karena dilarang rektorat, film tersebut akhirnya hanya disimpan.

    "Rencananya, usai pemutaran film ada diskusi bersama penonton," katanya. Selain Senyap, panitia juga akan memutar film-film dokumenter soal HAM, antara lain berjudul Setitik Asa dalam Lumpur yang bercerita soal penderitaan korban lumpur Lapindo dan Pertaruhan dan Working Girls yang berkisah tentang perempuan. Namun semua film itu akhirnya batal diputar. (Baca juga: Alasan Massa Minta Pemutaran Film Senyap Distop)

    Panitia juga mengurungkan pameran poster bergambar Marsinah, Munir, korban penembakan Mei 1998 dan pembunuhan massal 1965. Panitia memutuskan hanya mengisi peringatan HAM dengan refleksi dan orasi kebudayaan saja. Acara tersebut terbuka untuk umum.

    Rektor Universitas Brawijaya Malang Mochammad Bisri mengaku tidak tahu-menahu soal rangkaian acara tersebut karena lagi mengikuti kegiatan di Jakarta. "Silakan tanya ke dekan. Saya tak tahu," katanya melalui pesan pendek. Sebelumnya Bisri melarang mahasiswa memutar Senyap di kampus dengan alasan tanpa izin dan mendapat keberatan dari tokoh-tokoh di Malang. (Simak kaitan beritanya: Ini Alasan Rektor Unibraw Larang Pemutaran Senyap)

    EKO WIDIANTO

    Berita Terpopuler:
    Jay Subiakto: Gubernur FPI Cukup Menghibur
    'Afgan' dari Inggris pun Nyanyi Terima Kasih Cinta  
    Afgan dari Inggris Ternyata Jago Teater  
    Film Asal Purbalingga Dominasi ACFFest


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.