Pementasan Republik Cangik, Teater Koma di GKJ  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rita Matu Mona berperan sebagai Cangik dalam gladi resik pementasan Teater Koma produksi ke-136 dengan lakon

    Rita Matu Mona berperan sebagai Cangik dalam gladi resik pementasan Teater Koma produksi ke-136 dengan lakon "Republik Cangik - Sesudah Musibah Adakah Berkah" di Gedung Kesenian, Jakarta, 12 November 2014. Lakon ini bercerita tentang tokoh punakawan "Cangik" yang diemban untuk memilih pemimpin bangsa. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Jakarta - Negeri Suranesia sesaat kosong tanpa keberadaan maharaja yang belum lama mangkat. Sepeninggal Raja Surasena, punakawan kepercayaan sang maharaja berinisiatif untuk melakukan pemilihan pemimpin baru. Tak lama dari sayembara yang digelar Cangik, muncul lima orang maju untuk mengikuti pemilihan Maharaja Suranesia.

    Kelima calon yang mau itu adalah Santunugaru, pria gagah yang gemar berkuda dan hobi menembak, kedua Dudungbitung seorang mantan prajurit yang suka menembak mati siapapun termasuk salah satunya teroris. Calon ketiga adalah Gaitobakari, ia dikenal sebagai seseorang yang pernah membuat pulau lumpur, terakhir, satu-satunya calon perempuan bernama Binantimiyugama, ia seorang Adipati yang terobsesi menjadi Maharatu.

    Dari kelima calon yang mendaftar lewat sayembara, diam-diam, Cangik memasukkan calonnya sendiri, yaitu Jaka Wisesa, seorang pria yang mematuhi perintah Cangik. Sebelum dicalonkan Cangik sebagai calon Maharaja, Jaka Wisesa, sempat dimajukan Cangik sebagai wali kota. Sebelum purna tugas sebagai wali kota, Jaka Wisesa pun dimajukan untuk menjadi gubernur di Ibu Kota. Kini, belum rampung memimpin Ibu Kota, Cangik kembali memajukan Jaka Wisesa sebagai calon Maharaja.(Baca :Alex Komang Kangen Tampil Bareng Teater Koma)

    Jaka Wisesa begitu manut terhadap apapun perkataan Cangik. Termasuk untuk 'jangan melupakan jasa Cangik', jika kelak ia sukses terpilih sebagai Maharaja. "Jaka Wisesa, kamu jangan pernah lupakan jasa-jasaku. Berkat akulah kamu sekarang dipandang. Kamu tadinya hanya orang biasa yang kemudian dielu-elukan menjadi raja," ujar Cangik dengan gaya bicaranya yang melengking.

    Sekilas kisah dalam Republik Cangik, sebagai pementasan ke-136 Teater Koma ini mengajak penonton untuk berefleksi terhadap peristiwa politik yang baru saja berlalu di negeri ini. Ramai dan kisruh pemilihan kepala negara. Lepas dari kepemimpinan lama, akan selalu muncul harapan-harapan baru terhadap pemimpin selanjutnya. Memikirkan masa depan suatu bangsa menjadi bahan renungan yang coba disajikan Nano dalam Republik Cangik ini.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.