Jojon Pernah Ngontrak Rumah di Gang Sempit  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana rumah duka pelawak Jojon di Jln. Puri Pangeran No. 3 Imperial Golf Estate, Sentul City, Bogor, (6/3). Tempo/Sidik Permana

    Suasana rumah duka pelawak Jojon di Jln. Puri Pangeran No. 3 Imperial Golf Estate, Sentul City, Bogor, (6/3). Tempo/Sidik Permana

    TEMPO.CO, Jakarta - Jenazah pelawak Jojon sempat disemayamkan di rumahnya di Jalan Puri Pangeran, Cluster Imperial Golf Estate, Sentul City, Bogor, Jawa Barat (Baca: Jojon Dimakamkan di Kebon Pedes, Bogor). Rumah bergaya minimalis berwarna abu-abu itu berdiri di atas tanah seluas lebih dari 500 meter persegi.

    Cluster Imperial Golf Estate merupakan salah satu perumahan mewah di Sentul City. Harga rumah seluas 700 meter persegi di lokasi ini minimal Rp 6 miliar. Rumah-rumah di cluster ini dibangun tanpa pagar dan dijaga 24 jam oleh anggota satuan pengaman.

    Bagi Jojon, rumah ini menjadi buah jerih payahnya semenjak berkarier sebagai pelawak sejak  awal tahun 1970-an. Ketika itu dia merangkak dari bawah sebagai anggota reog milik instansi kepolisian di suatu daerah.

    Ketika hijrah ke Jakarta, dia berpindah-pindah. Salah satunya mengontrak rumah di Gang Manggis I, Kelurahan Manggarai Selatan, Jakarta Selatan. Ini merupakan kampung kumuh, berpenduduk padat. Bersama istri dan enam anaknya, dia menghuni kampung itu.

    Tahun 1975, bersama Tjahjono, Uuk Hasanudin dan Djoni, dia mendirikan kelompok lawak Jayakarta. Baru dua tahun kemudian, nama kelompok tersebut mulai dikenal. 

    Secara berkala, kelompok ini tampil di TVRI. Mereka juga menerbitkan kaset lawakan, antara lain berjudul Jojon Anak Sekolah, Jagoan Bloon, Jojon Penyiar, Jojon Sari Rapet dan Jojon Botol. 

    Selain kaset, beberapa film dibintangi Jojon, antara lain Tiga Dara Mencari Cinta (1980), Okey Boss! (1981), Apa Ini Apa Itu (1981), Barang Antik (1983) dan Bandit Pungli.

    Produser PT Nugraha Film, memang mengikat kontrak Jojon dan Jayakarta Grup untuk tujuh film sekaligus. Untuk Oke Boss!,  sang produser menghabiskan Rp 150 juta. Sebagian besar buat biaya mencetak 31 kopi film.

    Film Oke Boss! yang diputar di 18 gedung bioskop Jakarta menyedot 120 ribu penonton dalam tempo dua minggu. "Main film buat saya ibarat membongkar uang di celengan," kata Jojon kepada Tempo

    Grup lawak ini kemudian bubar dan Jojon memulai karier solo. Pria kelahiran Karawang, 5 Juni 1947 ini masih bermain film, antara lain Vina Bilang Cinta (2005), Setannya Kok Beneran? (2008), Doa Yang Mengancam (2008), Mau Dong Ah (2009), dan Badai di Ujung Negeri (2011).

    Meskipun banyak bermunculan kelompok dan pelawak muda, Jojon tetap eksis.  (Baca: Tarzan: Jojon Tak Tergantikan) Dia pernah menjadi bintang tamu Opera Van Java. "Rasanya senang bukan kepalang kalau penonton tertawa karena lawakan yang kami buat," ujarnya dulu saat diwawancarai Tempo.

     

    UWD | SIDIQ PERMANA (BOGOR)

    Terpopuler:

    Diusir Mahasiswa Bandung, Prabowo Kecewa Berat
    Pelawak Jojon Tutup Usia
    Anas Urbaningrum Jadi Tersangka Pencucian Uang  


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.