Ketukangan, Tema Paviliun Indonesia di Venice

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menparekraf Mari Elka Pangestu pada Acara Presscon Indonesia Pavilion Architecture Venice Biennale di Galeri Tugu Kunstkrink, Jakarta (7/2). Istimewa

    Menparekraf Mari Elka Pangestu pada Acara Presscon Indonesia Pavilion Architecture Venice Biennale di Galeri Tugu Kunstkrink, Jakarta (7/2). Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Kesadaran material atau ketulangan menjadi tema menarik paviliun Indonesia dalam ajang pameran arsitektur Internasional Venice Biennale 2014 (Architecture International Exhibition Venice Biennale) di Arsenale, Venezia, Italia selama 6 bulan, mulai 14 Juni hingga 27 November 2014.

    Ketukangan menjadi penjabaran dari tema pameran yakni, Fundamentals, Absorbing Modernity: 1914 – 2014.Kurator utama Biennale, Rem Koolhass dalam pengantarnya minta agar tiap negara peserta termasuk Indonesia menunjukkan perjalanan proses terkikisnya karakter nasional karena diadopsinya bahasa arsitektur modern yang universal.

    Menurut Mari Pangestu dalam jumpa pers acara pameran Venice Biennale 2014 di Galeri Tugu Kunskring, Jakarta pada 7 Februari, sejarah perjalanan budaya Indonesia sangat panjang dalam bidang arsitektur yang sudah berkembang ratusan tahun lampau.

    “Hal ini dibuktikan dengan peninggalan heritage seperti Candi Borobudur dan Prambanan yang diakui masyarakat dunia sebagai world heritage memiliki karya arsitektur terindah di dunia,” kata Mari.

    Tim kurator paviliun Indonesia, dalam menterjemahkan tema, mereka harus melihat seratus tahun perjalanan sejarah arsitektur Indonesia termasuk persinggungannya dengan modernitas.
    Indonesia memahami bahwa modernitas sebagai hal kasual terjadi berangsur-angsur dan terus menerus dengan segala sesuatu yang baru.

    Dari sekian banyak pintu masuk menuju sejarah 100 tahun arsitektur di Indonesia, pendekatan ketukangan erat kaitannya dengan material atau bahan yakni, kayu, batu, bata, beton, metal dan bambu.(Baca : Arsitek Indonesia akan Unjuk Kebolehan di Venesia)

    “Keenam material ini mempengaruhi bagaimana perkakas, ketrampilan tukang, langgam dan teknologi membangun bergerak dan berubah di seputar mereka,” kata Avianti Armand, kurator.

    Dengan keberagaman material tersebut, tim kurator memilih media dan cara penyampaian yang immaterial yakni, kaca dan film untuk membuat suara atau voice dari apa yang ingin disampaikan.

    Dalam 100 tahun sejarah arsitektur Indonesia, kaca tak punya andil besar, padahal wacana sejarah arsitektur modern di dunia kaca dan besi, perannya sangat sentral. “Ini jadi proposisi menarik dan membuat sejarah arsitektur Indonesia menjadi khas. Kaca tidak pernah cocok sebagai material yang dominan di iklim tropis. Maka kami menampilkan kaca sebagai suatu yang lain, yang tidak material.” kata Avianti.

    AIEVB 2014 menjadi pameran arsitektur bergengsi di dunia yang telah berlangsung 119 tahun, sejak pertama kali diselenggarakan pada 1895 dan diikuti para arsitek dari seluruh dunia. Pada 2012, pameran ini dikunjungi oleh 178.000 pengunjung dari berbagai negara di dunia.

    EVIETA FADJAR

    Berita Terpopuler
    Soal Suami Airin, Aura Kasih Siap Dipanggil KPK
    Di Twitter, Aura Kasih Cuit Tidak Kenal Wawan 
    Lego the Movie, Film Animasi Spesial Penuh Tawa 
    Diisukan Dekat Wawan, Aura Kasih Pilih Syuting
    Angel Lelga Ogah Disebut Melakukan Taubat Nasuha


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.