Maestro Kesenian Sunda Ma Ageung Tutup Usia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komunitas musik bambu Sunda memainkan karya mereka pada Festival Budaya Masyarakat Adat Tatar Sunda di Desa Cikadut, Bandung, Jawa Barat, (28/5). Sejumlah kesenian Sunda buhun yang sudah langka dimainkan kembali di festival tersebut. TEMPO/Prima Mulia

    Komunitas musik bambu Sunda memainkan karya mereka pada Festival Budaya Masyarakat Adat Tatar Sunda di Desa Cikadut, Bandung, Jawa Barat, (28/5). Sejumlah kesenian Sunda buhun yang sudah langka dimainkan kembali di festival tersebut. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bogor - Maestro seni Sunda Hj. Tien Rostini Asikin alias Ma Ageung, meninggal dunia di usianya yang ke 70 tahun di RS Bina Waluya Jakarta, Selasa malam 13 November 2012.

    Jenazah disemayamkan di rumah duka di Jalan Loader No 1, Baranangsiang Kota Bogor, Jawa Barat. Hingga saat ini ratusan orang masih melayat ke rumah duka. Pihak keluarga belum memberi keterangan apapun soal sakitnya tokoh seniman dan budayawan Sunda.

    Pada zamannya Ma Ageung tercatat sebagai salah satu wanita yang berupaya mengembangkan seni Sunda dari mulai Kawih, Tari, hingga Pencak Silat. Oleh sesama seniman dan kerabatnya dia kerap kali di panggil Ema atau Ma (ibu), panggilan ini mengisyaratkan kaih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya. Karena tubuhnya agak sintal, beliau dipanggil Ma Ageung, panggilan ini melekat hingga akhir hayatnya. Teman seperjuangan Ma Ageung yakni Ebet Kadarusman.

    Tien Rostini Asikin, lahir di Sukajadi Bandung, tanggal 31 Januari 1942, Darah seni yang dimiliki Tien Rostini mengalir dari kedua orang tuanya yang juga seorang seniman Sunda. Sang ayah, R.H. Inan Ratman, saat itu menjabat sebagai pangreh praja serta ahli di bidang tembang Cianjuran, kliningan, serta seni pencak silat. Ibunya juga seorang sastrawan, seniman karawitan, dan juga pencipta lagu Sunda.

    Saat usia 10 tahun, Neng Tien belajar tari di Badan Kesenian Indonesia (BKI) yang sekarang menjadi Yayasan Pusat Kebudayaan di Jalan Naripan Bandung. Kemudian dia belajar Tari Sunda dari seniman Tari R. Tjetje Somantri dan R. Onih Kartadikusumah di Bandung. Seni tari yang dipelajari Tien Rostini lebih menekankan berbagai gerakan variatif yang bisa memadukan antara seni tari dengan pencak silat. Hasil belajarnya pada kedua seniman tari itu, tahun 1956 Tien muda berhasil menjadi juara pertama pada pasanggiri tari tingkat Jawa Barat.

    Dalam dunia kawih atau nanyian tembang sunda, Tien Rostini mempunyai prestasi yang cukup membanggakan. Dia berhasil meraih juara pertama pasanggiri kawih di Bandung, serta juara pertama pada pasanggiri tembang/kawih di Sukabumi. Bukan tari atau tembang Sunda saja yang dikuasai Tien Rostini, seni pencak silat juga dikuasainya dengan baik. Dengan demikian, Tien Rostini juga mendapat julukan sebagai Jawara wanita.

    Atas jasanya di dunia persilatan, ia pun dikukuhkan sebagai Sesepuh Jawara dan Ketua Pembina Pencak Silat Padjadjaran Nasional. Di dunia seni peran, Tien Rostini juga main film layar lebar berjudul Desa yang Dilupakan dan Jumpa di Perjalanan bersama Soekarno M. Noor, Fifi Young, Indriarti, Iskak, Eddy Sud, Ateng dan Bagio. Sedangkan album tembang Sunda yang direkam Gemini record tahun 1975 berjudul Deudeuh Asih. Dalam album ini paling dikenal lagu Jalir yang selalu mengudara di RRI pada tahun 60-an. Selain Tien Rostini, kakaknya Ika Rostika dan adiknya Ida Rosida, yang juga seniwati, mendirikan grup kesenianGanda Mekar.

    Selama ini Ma Ageung dikenal sebagai orang yang sangat peduli menjaga perkembangan seni Sunda. Kepindahan dia ke Bogor pada 1970 justru membuat dirinya melestarikan seni Sunda yang saat itu hampir tenggelam menjadi satu kesenian yang global dan dikenal sampai luar negeri. Ma Ageung mendirikan rumah seni Yayasan Seni Palataran Pakujajar Sipatahunan.

    Atas upaya mengembangkan Seni Sunda, Ma Ageung mendapat beberapa penghargaan, di antaranya dari USA Departement of State Certificate in Asia Pasific American Heritage Point at The Foreign Service Institute, Citra Karier Berprestasi 2000 Jimmy Enterprise, dan penghargaan dari Badan Musyawarah Kesenian Sunda.

    DEFFAN PURNAMA

    Berita teropuler lainnya:
    Begini Cara Bos CIA Sembunyikan E-mail ke Pacarnya

    Inul Daratista: Saya Bisa Jadi Cawapres Om Haji 

    Kata Ibas Soal DPR Pemeras BUMN 

    Rhoma Dinilai Tak Layak Jadi Presiden

    Upeti BUMN ke DPR, KPK: Pembuktiannya Gampang 

    Dahlan Iskan Kaget BP Migas Dibubarkan


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.