Native Deen Bersyiar Lewat Hip Hop  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Trio hip hop asal Amerika Serikat, Native Deen, memeriahkan Ramadan di Indonesia tahun ini dengan rangkaian tur bertajuk "Indonesia Ramadhan Tour 2011". Grup nasyid yang beranggotakan Joshua Salam, Abdul Malik, dan Naeem Muhammad itu menyapa penikmat musik religi di Auditorium Universitas UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang, Jumat, 12 Agustus 2011 lalu. Selebumnya, mereka juga menggelar pertunjukan di beberapa tempat, seperti Mall Pasific Place, Jakarta.

    Walau terdengar sangat anyar di telinga, sebenarnya grup hip hop ini telah berjibaku sejak tahun 2000-an. Tak main-main, karier mereka telah berkibar di belahan Eropa, Timur Tengah, bahkan dikenal luas di Amerika sendiri. Sayangnya, dalam rangkaian tur di Jakarta ini, salah satu personelnya, Naeem Muhammad, berhalangan hadir. Setelah Jakarta, mereka akan menyapa Pontianak, Surabaya, dan Malang.

    Karya musik mereka pun sebenarnya lebih dekat pada musik Afrika dan reggae. Ini mungkin karena nihilnya pemain gitar dan peniup terompet yang lazimnya menjadi pemeriah hip hop mainstream. Untuk urusan lirik, syiar mereka cenderung bicara tentang pengalaman yang dialami kaum muslim di Amerika. Seperti pada lagu M.U.S.L.I.M yang kental dengan pernyataan bahwa perbedaan mereka tak membawa kegetiran dalam memeluk Islam di negeri Abang Sam itu. Lagu Tala al Badru Alayna mereka yang terkenal di Youtube saja bisa dinikmati dengan kemasan berbeda dari salawat. Lagu itu merupakan jagoan album ketiga mereka, Not Afraid to Stand Alone (2007).

    Native Deen telah merilis empat album studio sejak 2004 lalu. Dimulai dengan Night of Remembrance, mereka mencoba memperkenalkan diri di Amerika. Berlanjut ke album kedua, Deen You Know, pada 2005, dan Not Afraid to Stand Alone. Terakhir, mereka mengeluarkan album terbaru I am Near.

    Aguslia Hidayah


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.