Ibnu Rusyd, Kordoba dan Semangat Toleransi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Cologne, Jerman - Out of Cordoba adalah sebuah film dokumenter tentang babak terbesar, tetapi paling sedikit diketahui dalam sejarah Eropa: Spanyol Islam. Selama hampir 800 tahun, wilayah luas Semenanjung Iberia berada dalam penguasaan kaum Muslim.

    Al-Andalus, begitu Spanyol Moro dikenal, hingga hari ini dipandang sebagai sebuah era yang ditandai oleh toleransi, tempat orang Yahudi, Kristen, dan Muslim hidup berdampingan dengan damai di bawah bendera convivencia (koeksistensi). Kordoba adalah ibu kota di kawasan yang mewakili sebuah pusat budaya dan ekonomi terkemuka, baik di kawasan Mediteranea maupun dunia Muslim secara keseluruhan.

    Dalam Out of Cordoba yang diluncurkan tahun lalu, tetapi kini masih bisa didapatkan di lembaga-lembaga pendidikan di Amerika Serikat, sineas Yahudi-Amerika, Jacob Bender, menentang gagasan tentang benturan antarperadaban dengan menggunakan semangat toleransi Kordoba dan melacak kehidupan dua filsuf abad ke-12, Maimonides dan Ibnu Rusyd.

    Seperti Bender jelaskan di awal filmnya, setelah serangan teror di kota asalnya, New York, ia merasakan adanya kebutuhan untuk menemukan harapan dan idealisme baru sebagai cara untuk menolak teori benturan peradaban. Pelacakan kembali sejarah dalam semangat Ibnu Rusyd dan Maimonides, serta, hingga taraf tertentu, ziarah harapan Bender sendiri, menunjukkan bahwa toleransi dan berpikir bebas--dalam sejarah maupun saat ini--bisa membantu menjembatani perpecahan yang paling mengakar sekalipun.

    Maimonides dan Ibnu Rusyd adalah filsuf, ahli hukum, dan dokter yang menjadi pendukung gagasan-gagasan Aristotelian dan mendukung berpikir logis dan bebas. Di Kordoba zaman modern, film itu merekam perjalanan Bender saat bertemu dengan orang-orang yang terinspirasi oleh semangat kedua orang ini. Di antaranya seorang ustadz yang membacakan sebuah fatwa yang menentang Usamah bin Ladin dan mencapnya sebagai seorang kafir lantaran kejahatan-kejahatannya.

    Bender juga berbicara dengan Menteri Luar Negeri Spanyol, Miguel Angel Moratinos, yang mengatakan bahwa Maimonides dan Ibnu Rusyd adalah sebuah ekspresi kerjanya selaku seorang diplomat. Kedua tokoh itu, kata Moratinos, adalah teladan sejarah yang menunjukkan bagaimana koeksistensi antara agama Yahudi, Kristen, dan Islam tidak harus berujung pada konflik dan konfrontasi, tetapi ilham bersama untuk mewujudkan pencapaian budaya yang luar biasa.

    Penonton film ini akan menemani Bender saat menelusuri kembali perjalanan bersejarah Maimonides dan Ibnu Rusyd berkeliling Mediteranea. Ia menuju Maroko dan bertemu André Azoulay, seorang warga Yahudi dan penasihat senior raja Maroko. Azoulay bicara tentang dialog budaya dan menekankan bagaimana pentingnya kita mendengar pesan toleransi kedua tokoh dari Kordoba ini. "Maimonides mengajarkan kami, orang Yahudi, untuk membuat Yudaisme suatu alat rekonsiliasi, bukan alat dogmatis di mana fundamentalisme menemukan tempat berlindung," katanya. "Di dunia Muslim, [Ibnu Rusyd] juga merepresentasikan rasionalisme yang sama."

    Salah satu momen paling mengharukan di film ini adalah perjumpaan Bender dengan Rabbi Arik Ascherman di Yerusalem. Bender mengatakan bahwa awalnya dia berpikir tidak perlu untuk memasukkan politik kontemporer dalam sebuah film tentang Maimonides. Upaya-upaya Ascherman untuk meraih rekonsiliasi Yahudi-Muslim dengan bantuan tradisi agama Yahudi dan Maimonides menunjukkan sebaliknya.

    "Satu hal yang Maimonides ajarkan kepada kita adalah bawah Anda tidak bisa menolak untuk berpikir tentang situasi yang tidak menyenangkan; Anda tidak bisa menghindari isu-isu berat," kata Ascherman. "Anda harus bergulat dengan isu-isu itu. Kita harus menyelesaikan konflik yang kita tentang. Dan, kita juga harus menemukan jalan untuk melihat citra Tuhan dalam saudara-saudara kita yang Muslim."

    Ascherman menilai keadaan status quo harus sepenuhnya diubah dan agama dijadikan bagian dari solusi konflik Israel-Palestina. Dengan suara gemetar bernada marah, Rabbi Ascherman menggambarkan ketidakadilan dan kekerasan yang menimpa banyak orang Palestina saat buldozer-buldozer merusak rumah-rumah mereka di Yerusalem Timur. Ia menyebut organisasinya, Rabbis for Human Rights, sebagai "nurani Israel", sebuah tempat di mana para rabbi mengampanyekan hak-hak saudara sebangsa mereka, orang-orang Palestina di Israel, dan orang-orang Palestina di Wilayah Pendudukan.

    Film ini diakhiri dengan kata-kata David Burrell, seorang profesor teologi Kristen, yang menekankan bahwa Ibnu Rusyd dan Maimonides adalah para pelopor dalam mengkaji tradisi agama mereka sendiri secara kritis, dan yang bergaul dengan tradisi-tradisi yang awalnya bukanlah tradisi mereka.

    Di akhir film, setelah mengikuti jejak Ibnu Rusyd dan Maimonides dan melihat orang-orang yang masih sangat terinspirasi oleh kedua tokoh itu, Bender melihat siluet Yerusalem, sebuah kota yang telah menjadi sinonim untuk perselisihan manusia, dan ia mengatakan bahwa di akhir perjalanannya, ia pun terilhami untuk meyakini adanya pandangan alternatif dari benturan antarperadaban dan meyakini kekuatan rekonsiliasi antaragama.

    Lewis Gropp, penulis lepas di Cologne, Jerman. Artikel ini disiarkan oleh CGNews.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Lengkap Harga Mobil Toyota Tanpa PPnBM, dari Avanza hingga Vios

    Relaksasi Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) mobil berlaku pada 1 Maret 2021. Terdapat sejumlah model mobil Toyoto yang mendapat diskon pajak.