Sundanis Siap 'Go International'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO Interaktif, Bandung - Sundanis, kelompok musik hip-hop asal Bandung yang biasa menggunakan bahasa Sunda, akan manggung di sejumlah negara. Kesempatan itu kini datang dari seorang seniman Belanda yang tertarik oleh penampilan dan musik kelompok yang berdiri sejak 2007 itu.

    “Insya Allah Agustus atau September kami akan dibawa konser keliling ke Singapura, Malaysia, dan Belanda,” kata Rudi Sanjaya, 29 tahun, vokalis Sundanis kepada Tempo, akhir pekan lalu.

    Sejak berdiri, Sundanis konsisten membawakan lagu-lagu dan irama Sunda. Dari empat album yang dirilisnya, permainan suling, gendang, gamelan, gong, karinding, serta sinden, dengan perangkat lunak audio Fruity Loops yang akrab di kalangan musikus digital kental terdengar.

    Di album terbarunya, Hip Hop Sunda…Wani Ngadu yang diluncurkan Mei lalu, musik karawitannya terasa lebih kental. Kalau tak ada label hip-hop di sampul albumnya, bisa-bisa orang menyangkanya sebagai lagu Sunda. “Sekarang lebih dikonsep. Saya mengajak Abah Odong, musisi Sunda, untuk mengarahkan musiknya,” kata Rudi yang juga dikenal dengan nama Ghetto Rude.

    Ia mengaku semula tidak menyukai musik hip-hop. Seleranya berubah ketika kelas 5 SD, setelah Mc Hammer melejitkan You Can’t Touch This, dan Vanilla Ice dengan Ice Ice Baby pada 1993. Saat duduk di bangku SMP dan menjadi pengamen di Jalan Pasir Koja, Bandung, pada 1997, ia mulai membuat lagu hip-hop sendiri dan ikut lomba-lomba lagu. Setahun kemudian, Rudi dan Gaia membentuk band hip-hop D’Army yang lagu-lagunya bertema protes sosial. Sebelum akhirnya bubar pada 2005, mereka sempat menelurkan 2 album. Setelah itu, Rudi membentuk Sundanis.

    Pemakaian bahasa ibu dan musik tradisi di kelompoknya itu, kata Rudi, bertujuan untuk mengangkat bahasa Sunda. Dia juga ingin penggemarnya lebih menyukai bahasa daerah masing-masing, terutama kalangan anak muda yang lidahnya telah terbiasa mengucap elo, gue. Di luar Jawa Barat, penggemar Sundanis tersebar di Jember, Semarang, Nusa Tenggara Timur, Papua, bahkan sampai ke Jepang, Belanda, dan Australia. “Sebagian asli orang sana, lainnya memang orang Sunda,” katanya.

    Biasanya, setiap menggarap lagu, Rudi menghadirkan musiknya dulu. Menyusul kemudian lirik bertema realitas sosial di Bandung yang dibalut rasa humor. Hit dari album pertama, "Kamana Atuh Gaya" yang masih suka diminta penonton konser, misalnya, menyindir anak-anak muda yang mementingkan penampilan walau belum bekerja. Sedangkan lagu berjudul "37B" dari album terbarunya, berisi ledekan berdasarkan kosa kata bahasa Sunda yang dimulai dari huruf b, seperti bolenang, botak buleneng, belenong, bencenur, bedegul, bengep bajret, dan lain-lain.

    Hampir 90 persen materi setiap album digarap Rudi, sisanya mengambil masukan dari rekan-rekan kelompok atau musikus lain. Racikannya itu sempat dianggap bukan hip-hop oleh kelompok lain di komunitas hip-hop Bandung, melainkan lagu lelucon belaka hingga dituding sebagai pembodohan. “Kalau ada anggapan seperti itu, orangnya berarti tidak mengerti ciri khas orang Sunda yang suka hereuy (bercanda),” kata penggemar berat band hip-hop Dead Fresh itu saat ditemui Tempo di bangunan Rock House, Bandung, Rabu 22 Juni 2011. Toh, di ranah musik hip-hop lokal yang sempit dan terbatas penggemarnya, penjualan setiap album Sundanis tergolong laris, berkisar antara 5-10 ribu keping CD dan VCD.

    Pengalaman pentasnya telah merambah ke berbagai daerah, dari mulai acara pesta rakyat Majalaya di kebun bambu, peluncuran produk otomotif, makanan, lomba selancar, hingga acara pejabat. Untuk pementasan besar, Rudi memboyong seluruh awak hingga pemain karawitan dan sinden. Sedangkan di pementasan kecil, ia cukup ditemani seorang disc jockey dan 1-2 orang penyanyi latar. Salah satunya Arya Yuda Aditia, 23 tahun, yang bergabung sejak 5 tahun silam.

    Sempat merasakan susahnya hip-hop diterima telinga orang saat bermain di Politeknik Bandung hingga dilempari penonton, Rudi dan kawan-kawan juga pernah ditinggal panitia acara saat diundang ke Palu pada 2005. Mereka tak bisa membeli tiket pesawat hingga terlantar dua hari di hotel. “Panitianya rugi karena pas mau main ada bom Palu,” kata ayah beranak satu itu. Mereka akhirnya bisa pulang setelah panitia kembali ke hotel untuk memberi tiket, walau tanpa honor di saku.

    Pengalaman apes itu memberinya pelajaran. Bermusik hip-hop tak bisa diandalkan sebagai pekerjaan utama. ”Untuk jadi ekstrakurikuler saja dan sasaran marketing bisnis,” kata musikus yang pernah kuliah di Ariyanti, Universitas Terbuka, dan STIMIK Ganesha itu. Penghasilannya kini bertumpu dari usaha konveksi, seperti baju blazer dan sandal berkain batik Pemasukan dari bisnisnya itu terasa lebih besar dibanding tarif berpentas untuk kelompoknya yang berkisar Rp 1-3 juta.

    ANWAR SISWADI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Obat Sakit Perut Alami

    Berikut bahan alami yang kamu perlukan untuk membuat obat sakit perut alami di rumah.