Musik Kontemplatif Kitaro

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Sekitar 4.000 penonton yang memadati Plenary Hall Jakarta Convention Centre, Senayan, seakan dibawa terbang ke angkasa oleh petikan shamisen, kecapi Jepang, yang ditingkahi alunan melodi gitar nan membuai. Para penonton itu disuguhi penjelajahan nada yang melodius dan kontemplatif oleh musisi legendaris asal Jepang, Kitaro, dalam konsernya bertajuk “Silk Road World Tour 2011” pada Kamis malam lalu.

    Konser yang digelar Velvet Production itu didedikasikan untuk membantu para korban tsunami Jepang. Kitaro--bernama asli Masanori Takahashi--akan menyumbangkan separuh dari keuntungan konsernya untuk membantu pemulihan Jepang yang disapu tsunami dahsyat pada awal Maret lalu.

    “Orang Indonesia banyak membantu orang Jepang di sana. Telah lama kedua negara ini berjalan beriringan, dan kini saya akan memberikan kehangatan,” kata musisi yang kini menetap di Amerika Serikat itu.

    Malam itu Kitaro tampil mengenakan pakaian hitam dengan rompi panjang selutut bermotif warna-warni. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai liar. Ia berjalan ke bibir panggung, menatap penonton, kemudian membungkuk perlahan. Dengan senyum tipis, Kitaro memberi salam.

    Setelah itu, Kitaro langsung menuju keyboard yang dilengkapi synthesizer yang teronggok di pusat panggung bertingkat dua itu. Kitaro membuka konser yang dimulai pukul 20.30 WIB itu dengan nomor Fire-Pan Flute dan Wind and Wave. Kedua nomor yang dimainkan itu diambil dari album teranyar Kitaro, yang boleh dibilang belum terlalu akrab dengan telinga para penonton.

    Konser Kitaro kali ini merupakan penampilan keduanya di Indonesia. Pada 1996, musisi yang dikenal beraliran New Age ini pernah menggelar konser di Jakarta. “Saya ingat, sudah sangat lama sekali. Dan setelah ini, kami ingin sesering mungkin kembali lagi ke Indonesia. Meski persembahan saya sudah kuno, kali ini mari kita buat berbeda,” ujarnya.

    Beberapa saat kemudian, Kitaro segera memainkan tembang Caravan Sary. Nomor yang telah menjadi abadi itu disajikan dalam ramuan baru. Kitaro memberikan sentuhan pop dengan permainan gitar. Gaya pop lagu yang liriknya pernah dinyanyikan oleh kelompok Page itu mengingatkan kita akan nomor Hotel California milik grup Eagles.

    Buaian instrumen yang melodius dan kontemplatif segera terjaga ketika sebuah komposisi dimainkan. Bunyi beduk yang ditabuh Kitaro dan disahuti drum solo Taiko membangkitkan adrenalin para penonton yang sedari awal disuguhi nada-nada nan lembut dan mendayu-dayu.

    Sayang, konser Kitaro yang seharusnya megah malam itu terasa kurang maksimal. Ilustrasi yang kering dan tata lampu yang baru bermain lincah di pertengahan konser membuat pertunjukan terasa agak menjemukan. Untungnya, tata suaranya lumayan bagus dan cukup mendukung konser yang tiketnya dibanderol Rp 500 ribu hingga Rp 4 juta itu.

    Sepanjang sekitar dua jam, Kitaro membawakan sepuluh lagu dan satu nomor bonus. Dari semuanya, hanya beberapa lagu yang sudah sangat familiar dengan para penonton yang dimainkan dalam konsernya malam itu. Selain Caravan Sary, yang sangat akrab dengan para penonton adalah Heaven and Earth, Matsuri, dan The Light of the Spirit.

    Yang pasti, meski usianya telah 58 tahun, penampilan Kitaro terlihat bugar. Ia tampak bersemangat dalam setiap nomor yang dimainkannya. Kitaro begitu lincah, berpindah-pindah-pindah dari satu alat musik ke alat musik lainnya.

    Matsuri Versi Kolintang

    Seusai membuat takjub hadirin dengan permainan instrumen bercorak New Age dalam temu akrab bertajuk “Pray and Action for Japan” yang berlangsung di Auditorium Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu lalu, kini giliran Kitaro yang berdecak kagum.

    Dalam acara yang dihadiri Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Shiojiri Kojiro, itu, Kitaro terpukau tatkala karya populernya, Matsuri, dimainkan secara apik hanya dengan alat musik kolintang. Permainan alat musik khas Sulawesi Utara yang disuguhkan grup Kawanua Jakarta itu membuat Kitaro terkagum-kagum.

    Meski hanya dengan iringan kolintang, permainan musik itu dinilai oleh Kitaro mampu membawakan nomor Matsuri secara sempurna. Padahal nomor hitnya itu biasanya dibawakan dengan musik penuh, dengan sentuhan perkusi, drum, dan piano.

    Kitaro mengaku mengenal banyak alat musik tradisional di Asia, termasuk Indonesia. Keragaman itulah yang ikut memacunya untuk hadir di Indonesia. “Saya ingin belajar banyak mengenai alat-alat musik tradisional lainnya, bagaimana mereka membuat alat-alat musik tersebut. Bagi saya, visualisasi dan musik adalah satu kesamaan,” ia menjelaskan.

    Kitaro ingin bermain dengan banyak alat musik hingga akhirnya para pendengar mampu merasakan sesuatu. Dari situ, ia berencana melirik musisi-musisi Indonesia untuk berkolaborasi. “Tapi tidak sekarang. Mungkin lain waktu, kami akan pikirkan untuk berduet dengan pemusik Indonesia,” katanya.

    AGUSLIA | MUSTOLIH 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.