Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Sketsa Sunyi Romo Mudji

image-gnews
Iklan
TEMPO Interaktif, Jakarta - Budayawan Mudji Sutrisno punya cara sendiri untuk menumpahkan hasil perenungannya selama melakukan perjalanan ke sejumlah tempat di berbagai negara. Romo Mudji–begitu sapaan budayawan yang juga seorang pastor ini–menuangkannya lewat sketsa.

Sebanyak 133 sketsa Romo Mudji, 55 tahun, kini tengah dipamerkan di Galeri Cemara 6, Menteng, Jakarta Pusat. Pameran bertajuk “Garis-Garis Sketsa Perjalanan” itu berlangsung hingga 31 Maret mendatang.

Sepanjang melakukan perjalanan ke sejumlah tempat, Romo Mudji menempatkan diri sebagai peziarah. Tiap-tiap bangunan budaya ia rekam melalui garis-garis sketsa sederhana. Ketika berada di Bayon Temple, Kamboja, misalnya, ia menemukan patung tiga wajah dewa: Syiwa, Brahma, dan Wisnu. Sketsa patung itu ia gambar dengan sangat sederhana. Sedikit tak memperlihatkan detail perwajahan.

Patung yang masih mengundang perdebatan itu menarik perhatiannya. Banyak kalangan menduga patung tersebut tak lain adalah wajah Jayavarman IV, Raja Khamer Angkor.  Berbagai penafsiran itu memunculkan catatan kecil yang menarik bagi Romo Mudji. Di sudut sketsa itu, ia menulis “Atau Wajah-Wajahmukah?” untuk membuka penafsiran lain. Kutipan yang jahil sekaligus kontemplatif.

Tak hanya itu. Pengajar filsafat tersebut juga memindahkan banyak sudut bangunan spiritual di Angkor Wat, Kamboja. "Seperti halnya masjid maupun gereja, candi dibangun untuk memuji dan meluhurkan Tuhan," ujarnya.

Lalu, ketika melakukan perjalanan ke Vietnam, pastor berambut gondrong itu menangkap satu obyek yang dilukiskannya berulang kali: sampan. Menurut dia, perahu kecil tersebut mengingatkannya akan Indonesia, yang memiliki banyak sungai tapi tak bisa dimanfaatkan seperti di Vietnam. "Sungai-sungai di Indonesia banyak yang kotor. Hilang kebaharian kita," katanya.

Ada lagi sketsa yang ia gambar saat menjalani sabatikal atau cuti panjang di Italia pada 2009. Selama tujuh bulan, Romo Mudji melewati hari-harinya di Roma, tempat ia dulu menimba ilmu dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Gregoriana, pada 1986. Sketsa-sketsa tersebut telah terangkum dalam buku Garis-garis Sketsa Mudji Sutrisno, SJ, yang dirilis Penerbit Obor, Jakarta, pada akhir Mei tahun lalu.

Yang menarik adalah sketsa di salah satu sudut ladang gandum di wilayah Auvers-sur-Oise, Prancis Selatan. Ladang itu tak lain adalah inspirasi karya seniman besar Vincent van Gogh sebelum akhirnya ia meninggal. Gogh dimakamkan pula di situ. Hingga saat ini, ladang tersebut dikonservasi. Bahkan letak tanaman gandumnya dipertahankan seperti dalam lukisan Gogh. Sketsa ladang gandum itu dihadirkan dalam empat seri oleh Romo Mudji.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Menurut kurator Candra Johan, sketsa-sketsa Romo Mudji tak menaati asas-asas perspektif secara linier yang menggunakan logika-logika jauh-dekat sebagai titik hilang pada horizon secara ketat dan akurat. "Ia malah mendekonstruksi linearitasnya untuk menghasilkan keluwesan pencitraan," ujar Candra. Sketsa-sketsa ini, tutur Candra, memang layak disimak dan diapresiasi sebagai karya seni rupa yang utuh. Dalam malam pembukaan itu, sebanyak 17 sketsa Romo Mudji laku terjual. Pembelinya adalah para pencinta dan kolektor seni rupa dari dalam serta luar negeri.

Jika kita cermati, sketsa Romo Mudji selalu memberi kesan sunyi, meski kebanyakan obyek yang dibidik adalah tempat-tempat publik. Seperti seloroh yang diucapkan Profesor Toety Heraty dalam orasi budaya saat pembukaan pameran, Kamis pekan lalu. "Saya menangkap ada tiga obyek besar yang memenuhi sketsa Romo Mudji. Salju, pohon, dan perahu. Tak ada manusia. Apakah ia membenci manusia?" ujar Toety seraya tertawa. “Tapi seorang Romo tak mungkin membenci sesama.”

Bagi Toety, sketsa-sketsa Romo Mudji boleh jadi menggambarkan dunia pada masa mendatang. Gambaran ketika manusia lenyap seperti halnya saat dunia diciptakan, benda hadir lebih dulu sebelum manusia ada.

Membubuhkan manusia, bagi Romo, adalah upaya mengobyekkannya. Ia lebih sering menggambar manusia dalam bentuk metafora. Seperti gambar buah pir yang ternyata, jika diperhatikan dengan saksama, akan merujuk pada bentuk rahim perempuan.

Menurut Romo Mudji, kesunyian dalam sketsa-sketsa itu memang disengaja. "Bagi kami, kaum rohaniwan selalu mendambakan topo ngrame. Hening dalam keramaian. Tetap kontemplatif dalam bekerja," ujarnya.

ISMI WAHID

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Selasar Sunaryo Art Space Gelar Pameran Seni Rupa 10 Seniman Perempuan

51 hari lalu

Perupa Fiametta Gabriela membuat lukisan langsung berjudul Innerforce pada pameran Titicara Meruah di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Jawa Barat, 17 Mei 2024. Pameran ini melibatkan sembilan perupa lintas generasi dimana sebagian besar adalah perupa muda dengan kurator generasi muda. TEMPO/Prima mulia
Selasar Sunaryo Art Space Gelar Pameran Seni Rupa 10 Seniman Perempuan

Sepuluh seniman perempuan menggelar pameran seni rupa dan pertunjukan dari karya mereka di Selasar Sunaryo Art Spaces.


Mengenal Voice Against Reason, Pameran Seni Rupa Kontemporer dari 24 Perupa

23 Maret 2024

Pameran Voice Against Reason. Foto: Museum Macam.
Mengenal Voice Against Reason, Pameran Seni Rupa Kontemporer dari 24 Perupa

Pameran seni rupa ini diikuti perupa dari Australia, Bangladesh, India, Jepang, Singapura, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Indonesia.


Grey Art Gallery Bandung Gelar Pameran Seni Rupa Islami Karya 75 Seniman

17 Maret 2024

Pameran seni rupa Islami berjudul Bulan Terbit  sejak 15 Maret hingga 14 April 2024 di Grey Art Gallery Bandung. (Dok.Grey)
Grey Art Gallery Bandung Gelar Pameran Seni Rupa Islami Karya 75 Seniman

Pameran seni rupa Islami ini menampilkan 85 karya 75 seniman yang membawa kesadaran bagaimana memaknai nilai-nilai Islam.


Belasan Seniman Gen Z dari 3 Kampus di Bandung Gelar Pameran Seni Rupa Equivocal

16 Oktober 2023

Karya instalasi buatan Michelle Jovita berjudul Massa Manusa. (Dok.pameran).
Belasan Seniman Gen Z dari 3 Kampus di Bandung Gelar Pameran Seni Rupa Equivocal

Gen Z menggelar pameran seni rupa yang berisi karya digital art, seni instalasi, gambar atau drawing, lukisan, seni grafis, patung, juga performance


Selasar Sunaryo Gelar Pameran Lengan Terkembang Karya Belasan Seniman Difabel

23 September 2023

Pameran Lengan Terkembang: Ruas Lintas - Abilitas di Bale Tonggoh Selasar Sunaryo Art Space Bandung melibatkan belasan peserta seniman difabel.  Foto: TEMPO| ANWAR SISWADI.
Selasar Sunaryo Gelar Pameran Lengan Terkembang Karya Belasan Seniman Difabel

Program itu dilatari oleh kenyataan bahwa pameran seni rupa di Indonesia selama ini belum menjadi ruang khalayak yang inklusif.


Pameran Seni Rupa Artsiafrica#2 di Bandung Tampilkan 170 Gambar

19 September 2023

Pameran Artsiafrica#2 di Galeri Pusat Kebudayaan Bandung berlangsung 16 - 30 September 2023. Foto: Dok.Galeri.
Pameran Seni Rupa Artsiafrica#2 di Bandung Tampilkan 170 Gambar

Pameran seni rupa bertajuk Artsiafrica menampilkan sosok warga Asia dan Afrika lewat muka hingga balutan budayanya di negara masing-masing.


Kelompok Ambari dari Alumni ITB Gelar Pameran Prismeu di Galeri Orbital Dago Bandung

4 September 2023

Pameran kelompok Ambari di Galeri Orbital Dago Bandung hingga 17 September 2023. (TEMPO/ANWAR SISWADI)
Kelompok Ambari dari Alumni ITB Gelar Pameran Prismeu di Galeri Orbital Dago Bandung

Karya yang ditampilkan 9 anggota dari kelompok Ambari dalam pameran Prismeu adalah perwujudan dari benda atau alam sekitar yang nyata di keseharian.


Fenomena Alam dan Sosial di Pameran Tunggal Iwan Suastika

20 Agustus 2023

Lukisan karya Iwan Suastika berjudul Beauty in a Chaotic Rhythm. Dok. D Gallerie
Fenomena Alam dan Sosial di Pameran Tunggal Iwan Suastika

Pameran tunggal Iwan Suastika diharapkan dapat membangun diskusi bersama tentang nilai-nilai kemanusiaan dengan perubahan alam.


Lato-lato dan Rumus Fisika di Pameran Seni Rupa Ruang Dini Bandung

19 Juni 2023

Karya Dionisius Caraka berjudul Tumbukan Lato-lato di Galeri Ruang Dini Bandung. TEMPO/ANWAR SISWADI
Lato-lato dan Rumus Fisika di Pameran Seni Rupa Ruang Dini Bandung

Pameran Seni Rupa yang berlangsung di Galeri Ruang Dini, Bandung itu banyak menggunakan media papan kayu.


Galeri NuArt di Bandung Gelar Pameran Mekanisme Pertahanan Manusia

21 Mei 2023

Karya Isa Perkasa berjudul Masker 2024. (Dok.Pribadi)
Galeri NuArt di Bandung Gelar Pameran Mekanisme Pertahanan Manusia

Ada cara yang dinyatakan oleh para seniman dalam pameran seni rupa ini, seperti mengenali ulang apa yang terlihat sebagai realitas keseharian.