Kue Apem Sebagai Tolak Bala  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Cirebon - Pagi itu, kesibukan telah menggeliat di sebuah sudut di Gedung DPRD Kota Cirebon, Jawa Barat. Kuwadi, salah satu anggota Satpol PP yang ditugaskan berjaga di gedung dewan itu, tampak sibuk memindahkan kue apem berwarna putih dari cetakan ke sebuah piring. Dengan menggunakan kinca, gula merah yang dicairkan dan menggunakan daun pandan sebagai pewangi, kue apem yang masih menguarkan hawa panas itu pun siap disantap. “Sudah tradisi di wilayah Cirebon, setiap bulan Safar pasti saling bertukar kue apem,” kata Kuwadi.


    Kuwadi sendiri mengaku sudah membuat kue apem di rumahnya di Desa Sambeng, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, dengan menghabiskan 25 kg tepung beras. Kue-kue apem itu dibagikan kepada tetangga-tetangganya. Namun karena ia sendiri bekerja di Gedung DPRD Kota Cirebon, maka ia pun membawa adonan kue apem untuk dimasak dan dimakan bersama-sama dengan seluruh pegawai termasuk anggota dewan.


    Kue apem dibuat dari adonan tepung beras, tapioka, kelapa parut, tape, dan bibit roti. Karena dikonsumsi untuk pagi hari, sejak pukul 19.00 WIB, Kuwadi sudah membuat adonannya. “Dibiarkan mengembang dahulu,” ujarnya.


    Paginya baru dicampur dengan kelapa parut dan siap untuk dimasak. Dengan berbagai campuran itu kue apem pun berasa gurih dan empuk. Untuk memasak di gedung dewan, Kuwadi menyiapkan hingga 5 kg tepung beras.


    Membuat kue apem sudah merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Cirebon setiap bulan Safar. Tidak hanya satu rumah, hampir semua rumah membuat kue apem ini. Kue apem itu kemudian dibagi-bagikan ke tetangga. Tujuannya selain berbagi, juga dipercaya untuk tolak bala. Karena Safar merupakan bulan untuk pembersihan diri menjelang bulan maulud dimana umat Islam merayakan Maulud Nabi Muhammad SAW.


    Tidak hanya Kuwadi, Nasrudin Azis, ketua DPRD Kota Cirebon pun melakukan hal yang sama. “Saya di rumah pun membuat kue apem,” katanya. Kue apem itu pun dibagi-bagikan kepada tetangganya, bahkan ia sendiri menerima kue apem dari tetanggannya.


    Tradisi ini, tutur Nasrudin, sangat baik. Karena intinya adalah berbagi dengan sesama. “Selain itu, bulan Safar pun menjelang bulan Maulud, sehingga waktunya membersihkan diri dengan beramal dan memberikan shodaqoh kepada sesama,” ujarnya.


    Menurut Nurdin M. Noer, seorang budayawan Cirebon, sebenarnya ada 3 tradisi setiap bulan Safar. Yaitu tawurji, memberikan sedekah kepada sesama, membuat kue apem serta mandi rebo wekasan atau mandi di hari rabu terakhir bulan Safar. “Kue apem sendiri merupakan simbol dari Al Qowiyyu, atau meminta diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk tetap beramal saleh di jalan yang benar dan diridhai,” katanya menjelaskan.



    IVANSYAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?