Nyanyian Legenda untuk Lingkungan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ruth Sahanayafoto: TEMPO/Ramdani

    Ruth Sahanayafoto: TEMPO/Ramdani

    TEMPO Interaktif, Jakarta:Global warming. Istilah itu begitu populer. Beberapa tahun terakhir, kampanye antipemanasan global gencar dikumandangkan. Kamis malam lalu, tema ini kembali menggema dalam konser Road to Indonesian Earth Festival 2008 di panggung live Rolling Stone Indonesia di Kemang, Jakarta Selatan.

    Konser terbatas yang dipersiapkan oleh Glenn Fredly dan kawan-kawan itu menghadirkan para legenda musik, seperti The Rollies, Koes Plus, dan God Bless. Ini konser pemanasan buat Indonesian Earth Festival 2008, yang digelar pada November mendatang.

    Acara dibuka dengan penampilan Efek Rumah Kaca; Zeke and the Popo, yang tampil ngerock; serta Lake Three, yang lebih santai dengan jazznya. Sedangkan Glenn hadir dengan kelompok barunya, Lake Three, yang seakan ingin menegaskan tema acara ini. Kekuatan rock, jazz, dan pop hadir dalam acara selama hampir empat jam itu.

    Suasana mulai hangat saat lagu-lagu Bing Slamet disisipi dalam acara ini. Bing, yang selama ini dikenal sebagai pelawak, dikenalkan malam itu sebagai penyanyi dan penggubah lagu. "Bahkan lagu Terang Bulan menjadi lagu kebangsaan Malaysia (yang berjudul Negaraku)," ujar Denny Syakrie, kritikus musik Indonesia.

    Lagu-lagu Bing, seperti Belaian Sayang, Nurlela, dan Payung Fantasi, berturut-turut ditampilkan Oppie Andaresta, Matthew Sayers, dan Ruth Sahanaya. Semua lagu Bing itu aslinya adalah lagu pop, tapi digubah dengan gaya jazz dan pop.

    Malam itu, Bing diberi penghargaan khusus oleh Green Music Consortium. Ini adalah lembaga yang dibentuk Glenn dengan menggandeng beberapa pihak, seperti Andy F. Noya bersama Rolling Stone Indonesia, Rajawali Duta Perkasa, dan Adrie Subono, serta beberapa profesional lainnya.

    Proyeknya ini, menurut Glenn, untuk menyatukan para musisi supaya tak cuma bicara soal royalti dan hak cipta. "Kami juga bisa ngomong soal sosial kok," katanya. Salah satunya, ya, itu tadi, soal pemanasan global. Menurut dia, efek pemanasan global seharusnya sudah menjadi perhatian musisi juga, lantaran membuat golongan ekonomi yang bergantung pada alam semakin miskin.

    Sayangnya, dalam acara itu, tidak banyak respons yang muncul dari hadirin yang memenuhi taman belakang kantor majalah franchise itu. Tayangan soal tanah sawah yang kering, hutan yang gundul, dan laut yang tak lagi memberi ikan tak banyak mendapat reaksi dari peserta, yang sebagian besar anak muda.

    Hanya musiknya yang menyihir penonton, khususnya kala The Rollies mulai hadir dengan Bimbi sampai Kemarau. Entakan drum Jimmy Manopo, dan terompet Benny Likumahua masih memberi ciri khas rock 'n roll para musisi gaek itu. Apalagi saat Koes Plus, yang sengaja disimpan Glenn untuk penampilan puncak, tampil. Sembilan lagu dinyanyikan Yok Koeswoyo, personel Koes Plus berusia 68 tahun.

    Acara musik dengan tema lingkungan ini disiapkan Glenn hanya dua bulan dengan kru cuma 25 orang. Ia tak peduli walau tak banyak yang merespons isu pemanasan global yang disampaikannya dalam acara itu. "Nggak bisa disalahkan juga. Selama ini istilah itu kan masih bersifat teknis, orang mau (memberi) kontribusi apa?"

    YOPHIANDI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.