Kembali ke Barcelona

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, : "Ya, inilah generasi Munaf berikutnya, yang bandelnya sama kayak gue dan pintar, he-he-he...." Kata-kata itu meluncur dari mulut Fariz Roestam Munaf di atas panggung di Rolling Stone Live Venue, Jalan Ampera, Jakarta Selatan, Jumat malam pekan lalu. Orang yang disebut sebagai generasi Munaf tersebut adalah Sherina Munaf, keponakannya, yang menjadi bintang tamu pada konsernya malam itu. Mereka lalu berduet.Dalam acara bertajuk "Fariz RM: The Anthology in Concert" itu, pria kelahiran Jakarta, 5 Januari 1959, ini membius seratusan penonton yang duduk atau berdiri di sela-sela ruang kosong di taman kantor majalah Rolling Stone Indonesia tersebut. "Sebetulnya agak beban juga dengan judul antologi karena berarti ini memberikan perjalanan seorang Fariz," ujarnya diakhiri tawa kecil. Dibuka dengan Sungguh, suara Fariz lebih mirip rocker. Suaranya baru mulai stabil pada lagu ketiga, Suzie Bhelel. Pembuktian kekuatan suara itu disaksikan hadirin saat Fariz berduet dengan Sherina--membawakan Hasrat dan Cinta serta Nada Kasih. Tampil dengan keyboard-nya, pria ramping ini seperti tak mau kalah oleh penyanyi muda itu. Sebanyak 6 dari 14 hit dibawakan Fariz berdua dengan penyanyi generasi sekarang. Hasilnya, penampilan penuh tenaga, meletup-letup layaknya seorang Fariz, dengan iringan band yang berbeda-beda, seperti White Shoes and The Couple Company dan Koil. Dengan gebukan Eddy Syahroni pada drum dan betotan bas Adi Darmawan, Fariz betul-betul hidup. Sama sekali berbeda dengan edisi Unplugged, comeback-nya lewat cakram yang menjadi bonus yang disisipkan di majalah Rolling Stone edisi Juli ini. White Shoes dipuji Fariz bisa mendatangkan ciri retro 1970-an akhir dan 1980-an yang dominan dalam Selangkah ke Seberang. "Karena gue tahu masa kini sulit membayangkan bagaimana kenangan masa itu," katanya lagi-lagi diakhiri tawa kecilnya. Adapun Koil dipilih Fariz karena dianggap sebagai jelmaan Fariz pada saat awal dia muncul bersama grupnya, The Symphony. Namun, penonton tampak kurang komunikatif dengan Fariz. Misalnya ketika Fariz melempar celetukan: "Malam ini gue jadi pemain keyboard Koil" atau "Ternyata gue tua juga, ya?". Itu disambut dingin. Tak banyak penonton yang merespons. Memang malam itu penonton kebanyakan anak muda yang berusia jauh di bawah Fariz. Selain karena lebih banyak penonton anak muda ketimbang yang setengah tua, di beberapa lagu, kualitas sound system terganggu. "Sayang, sih. Tapi, di luar itu, Fariz is amazing!" ujar Giring, vokalis Nidji, yang datang ingin mengenal musik Fariz. "Power-nya itu, sambil main alat musik lagi." Namun, syukurlah, ketika Fariz menyanyikan hit yang menjadi 150 lagu terbaik di majalah Rolling Stone Indonesia, Sakura, atau hit lainnya (Barcelona dan Nada Kasih) tak ada gangguan. Penonton pun mengentakkan kaki atau bergoyang. Penampilan perdana setelah "Pagelaran Zaman Emas Fariz RM" di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, pada 2003, boleh disebut sebagai comeback Fariz. Meskipun begitu, sebenarnya Fariz tak absen betul di dunia musik. Ia, misalnya, ikut menjadi bagian dari aktor di belakang layar pembentukan Sherina dan menjadi produser. Malam itu, konser yang juga dihadiri Ikang Fawzi dan Ridho Slank tersebut ditutup dengan lagu Barcelona dengan iringan gitar flamenco Donny Suhendra. Lagu itu seperti menyiratkan pesan: Fariz akan kembali muncul di dunia musik Indonesia.... Mungkin esok ku kan pergi... Tapi kuberjanji, pasti diriku kembali.... YOPHIANDI

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.