Mantan Menteri Agama Lukman: Djaduk Ferianto Guru Toleransi

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Djaduk Ferianto di Padepokan Seni Bagong Kussudiarja, Yogyakarta. Dok. TEMPO/Suryo Wibowo.

    Djaduk Ferianto di Padepokan Seni Bagong Kussudiarja, Yogyakarta. Dok. TEMPO/Suryo Wibowo.

    TEMPO.CO, Bantul - Seniman Djaduk Ferianto selalu mengajarkan toleransi dalam berbagai kesempatan saat menampilkan pertunjukan musik. Hal ini diungkapkan mantan menteri agama Lukman Hakim Saifuddin yang datang saat prosesi misa di Padepokan Bagong Kussudiardja, Bantul, Yogyakarta, Rabu, 13 November 2019. Setelah misa, Djaduk dimakamkan di pemakaman keluarga di Dusun Sembungan, tak jauh dari padepokan.

    Romo Gregorius Budi Subanar memimpin prosesi misa tersebut. Jenazah Djaduk kemudian diiringi lagu puji-pujian sebelum dihantar ke pemakaman. Mantan Menteri Agama, Lukman kemudian didapuk untuk membagikan pengalamannya mengenal Djaduk.

    Menurut Lukman, dia belajar kepada Djaduk tentang arti toleransi dalam kehidupan keseharian. Ingatan Lukman tertuju pada acara penggalangan dana untuk aktivis Hak Asasi Manusia Munir Said Thalib tahun 2012 di Malang. Waktu itu, Djaduk datang bersama Kua Etnika, kelompok musik yang ia pimpin.

    Suasana pemakaman seniman Djaduk Ferianto di Padepokan Bagong Kussudiardja Bantul, Yogyakarta. TEMPO/Shinta Maharani

    Djaduk mendengar suara pujian menjelang salat Dzuhur dari arah masjid tak jauh dari panggung pertunjukan. Sesaat kemudian, Djaduk yang tampil menghentikan pentas musiknya. Kepada Djaduk, wali kota Malang saat itu memintanya untuk terus melanjutkan pertunjukan musik. Tapi, Djaduk tidak mau. "Mas Djaduk tidak sampai hati melanjutkan pertunjukan karena seakan menyaingi suara puji-pujian dari masjid," kata Lukman.

    Dari situlah, Lukman belajar bagaimana Djaduk menjalankan prinsip-prinsip toleransi. Lukman menyatakan duka dan kehilangan mendalam. Dia kemudian mengakhiri kisah tentang Djaduk dengan mengucapkan Assalamualaikum dan salam sejahtera.

    Djaduk meninggal karena serangan jantung pada Rabu, 13 November 2019 pukul 02.30. Ia sempat mengeluhkan kesemutan dan sesak dada selepas pulang untuk menyiapkan Ngayogjazz, pentas musik jazz yang digelar setiap tahun.

    Sedianya Djaduk akan menggelar jumpa pers Ngayogjazz 2019 bertajuk Satu Nusa, Satu Jazznya. Pentas musik jazz ini akan digelar di Dusun Kwagon, Sidorejo, Godean, Kabupaten Sleman pada Sabtu, 16 November.

    SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.