Film Si Juki Diharapkan Jadi Lokomotif Industri Animasi

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Faza Ibnu Ubaidillah. Dok. TEMPO

    Faza Ibnu Ubaidillah. Dok. TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Sukses dengan Si Juki The Movie: Panitia Hari Akhir, Falcon Pictures bersama Faza Meonk akan menghadirkan lagi petualangan Si Juki ke layar lebar.

    Menurut Produser dari Si Juki The Movie, Frederica, ini adalah usaha dari Falcon untuk terus menghadirkan film animasi di Indonesia. Kalau live action sudah memiliki konsistensi sendiri di dunia perfilman, tapi untuk animasi sebenarnya jarang sekali, karena prosesnya tidak mudah,” ujar Frederica dalam konferensi pers di Teater Salihara Pasar Minggu.

    Film ini melibatkan 75 animator dalam proses produksinya. Apa yang disajikan kelak menurut Faza sedikit berbeda dengan film yang terdahulu. Selain ada penambahan karakter, komedi yang disajikan juga dikemas lebih sederhana agar dapat dinikmati keluarga.

    “Targetnya supaya film ini bisa diterima semua kalangan, karena belajar dari film sebelumnya memang ceritanya kita bikin jokesnya berlayer, ada yang dewasa banget ada yang anak – anak banget. Tapi sekarang kita bikin sangat sederhana supaya bisa dicerna sama semua kalangan,” ujar penulis sekaligus sutradara film ini.

    Menurut Faza, perkembangan industri animasi di Indonesia yang terbilang lambat alah satunya disebabkan pendanaan yang besar. Produksi sebuah film animasi tentu memakan biaya yang tidak sedikit dan belum banyak produser yang mau mendanai film animasi.

    Tim produksi Si Juki The Movie berharap, film ini nantinya dapat mendorong pertumbuhan industri animasi di Indonesia. “Harapannya lewat si Juki The Movie, Si Juki ini dapet menjadi lokomotif untuk animasi Indonesia sehingga makin banyak produser yang berani investasi ke animasi,” ucap Faza.

    AULIA ZITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.