Puisi Kanvas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alangkah menarik mengawinkan puisi dengan goresan cat minyak di atas kanvas. Dari perspektif beragam dimensi, lukisan campur puisi bebas diekspresikan. Entah itu berarti lukisan di atas puisi, entah puisi di atas lukisan, tidak penting dipersoalkan. Pemilik lukisan sekaligus syair ini adalah Lukman Sh. Karyanya itu dipamerkan di Galeri Elcanna, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sejak tanggal 23-29 Februari 2008, dalam tajuk "Lukisan Puisi". Tak hanya aliran ekspresionis, karya-karya beraliran lain diguratnya. Ini pertama kalinya Lukman menggabungkan dua kesenian yang sebelumnya digeluti secara terpisah.Lalu apa yang lebih berperan: puisi ataukah lukisan? Tentulah kedua-duanya. Puisi memberikan nyawa sebagai identitas si lukisan, sedangkan lukisan mampu menyampaikan makna isi puisi. Keduanya saling terkait. Lihatlah sebuah lukisan berlatar hitam pekat. Di sana muncul kontur garis-garis putih tipis tegas, yang membentuk sebuah bayangan seorang perempuan berdiri memanggul beban di belakang batang pohon besar yang tumbang. Lukman memberi judul lukisan itu Perempuan yang Menembus Malam. Judul ini sama dengan puisi yang tertera di sisi kiri kanvas. Bunyinya:Perempuan yang menembus malam memanggul daun jati/ berjalan tersaruk-saruk (beban hidup menumpuk?)/ di tepi jalan aspal menuju ke pasar/ menenteng lentera minyak kelapaBoleh dibilang sebagian besar lukisan-puisi Lukman menarik garis kerakyatan dan lingkungan. Ia menyinggung persoalan rakyat yang tertindas dan kehidupan yang keras. Seperti pada lukisan yang dinamainya Berjuta Keluarga Tak Berumah, Ibu kota, Kali, dan Lafal. Ada juga peristiwa lumpur Sidoarjo yang diabadikan dalam lukisan dan puisi bertajuk Lumpur. Koleksi Lukman diawali dari puisi. Ia gemar merangkai kata sejak 1977, tapi baru menyentuh dunia seni rupa pada 1994. "Jadi, dalam prosesnya, saya membuat puisi dulu, barulah lukisannya," ujar Lukman. Namun, ada juga yang dibuat lukisannya dulu. Kurator pameran, Ipong Purnama Sidhi, menganggap Lukman sebagai pelukis ekspresionis. Lukman lebih menangkap simbol dan hakikat dengan cara yang tak realistis. Ia bermain dengan perasaan. "Warna pilihannya acap kali memberat, merah kecokelatan, abu-abu, dan hitam," dia menuliskan dalam katalog. Rupa dan kata karya Lukman menarik karena dua bentuk ekspresi tersebut saling mendukung. Latar belakang pendidikan perupa ini ternyata tak sejalan dengan apa yang kini digelutinya. Lukman adalah lulusan pendidikan teknik penyehatan lingkungan dari Institut Teknologi Bandung pada 1981. Ia tak pernah mendapat ilmu formal untuk melukis. Pergulatannya dengan para senimanlah yang mengasah ketajaman ujung jarinya untuk menjadi seorang pelukis sekaligus penulis puisi. AGUSLIA HIDAYAH

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?