Sentilan Tajam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Figur-figur bermata besar dengan anatomi wadak mirip wayang itu berkacak pinggang. Salah satu di antaranya menyemburkan api dari mulutnya menghadap sesosok warna cokelat yang di kepalanya melintas Superman mini. Figur ketiga, di kepalanya ada senter dan berkaki roda. Mulut mereka menganga. Itulah lukisan Try to Find the New King (2007) yang mengolok polemik perlombaan calon presiden yang diisi tokoh itu-itu saja. Lukisan lain menampakkan kemeriahan sebuah festival. Tapi Komedi Putar Bahagia Indonesia (2006) ini justru menunjukkan teror korban kekejaman rezim sebuah orde. Keluarga penguasa asyik berpesta, sementara rakyat, yang berupa kepala, hanya melihat dari jauh. Dua lukisan itu karya perupa kontemporer Heri Dono, 47 tahun, dalam pameran tunggal di Nadi Gallery, Puri Indah, Jakarta Barat. Berlangsung 28 Januari hingga 11 Februari 2008, pameran yang bertajuk "The Dying King & I" menghadirkan sentilan-sentilan tajam sekaligus nakal. Pameran yang dipersiapkan sejak tahun lalu itu--sangat kebetulan bila berdekatan meninggalnya mantan presiden Soeharto--mengukuhkan pijakan Heri Dono pada dunia aktual. Misalnya lukisan Komedi Putar Bahagia Indonesia dengan versi Soeharto, yang justru bangga mengenakan baju bertuliskan "freedom".Sentilan dengan kekonyolan di sana-sini sering mengalir dalam pameran Heri Dono. Selain lukisan, lihatlah instalasi Puppet Watching Puppets berupa 15 topeng yang berdiri di dua kawat dengan mata melotot dan hidung panjang. Di depannya sesosok maneken langsing merentang tangan. Punya sayap mirip Gatotkaca, figur feminin itu, maaf, penisnya berupa canting. Instalasi lain yang berupa belasan patung dinosaurus. Makhluk-makhluk mirip komodo dengan kaki tak wajar itu di dadanya tertempel papan komponen elektronik. Ekspresi mereka antara gelisah dan menanti sesuatu. Menurut kurator pameran, Enin Supriyanto, kosmologi seni rupa "animisme" Heri Dono--yang menerima dan memperlakukan hidup sebagai unsur yang selalu ada dan tersebar (omnipresence)--tampaknya sejalan dengan pandangan Foucaultian tentang kekuasaan. Yang terakhir ini beranggapan bahwa kekuasaan, kuasa, serta power juga hadir secara pervasive dan omnipresence di berbagai sudut ruang sosial. Enin menunjuk Salah Tangkap Pangeran Diponegoro (2007). Inilah parodi lukisan terkenal Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857) karya maestro Raden Saleh. Heri menghadirkan cara pandang lain soal pengadilan atau penangkapan (rekaan) terhadap Soeharto. Digambarkan para politisi bersimpuh menangisi atau protes atas "salah tangkap" ini. Tokoh yang ditangkap, Soeharto, tampak digiring seorang polisi. Sementara itu, Pangeran Diponegoro, yang justru lolos dari penangkapan itu, ada di atap gedung, menertawai, dan mengejek kejadian "salah tangkap" tersebut. Ada hal relevan setelah 20-an tahun dia berkiprah di berbagai kegiatan seni rupa kontemporer di dalam ataupun luar negeri. Khususnya dalam lukisan, boleh jadi banyak orang menilai dia sudah pada tahap "hanya mengulang". Menurut Enin, hal itu muncul karena orang tidak berusaha memahami gagasan pokok yang menjadi energi utamanya. Dalam suatu kesempatan, Heri pernah bilang, "Ya, saya punya teori tentang lukisan (saya). Lukisan itu sama esensinya dengan surat pribadi. Seni lukis adalah media ekspresi individual, dikerjakan secara individual, serta tidak mengharapkan orang lain untuk terlibat, baik menggores maupun memberikan ide-ide." Jadi nikmati saja Reformasi Mahabharata (2006) atau bahkan Kuda Troya (2006). Begitulah karya Heri Dono yang tajam sekaligus nakal, atau nakal tapi tajam. DWI ARJANTO

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.