Dunia Hantu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Kaki kanannya mulai terangkat dan mengambang. Dengan susah payah mereka berusaha dipijakkan kembali ke lantai. Empat gadis muda itu tengah dicabut nyawanya. Dengan tubuh yang bergetar kencang, mereka seolah menentang kuasa sang pencabut nyawa. Namun, akhirnya tubuh para penari itu terempas. Mereka mati. Tak enak jadi hantu. Tidak punya tubuh, ringan, dan sering teringat masa lalu. Empat penari dengan pakaian modern itu bangkit. Dalam sekat ruang yang tidak terlihat, mereka saling bertabrakan. Tak jarang tubuh yang satu dengan lainnya terempas. Kepanikan pun terjadi ketika mereka terdesak antara ruang manusia dan dunia arwah. Tari kontemporer garapan koreografer asal Singapura, Angela Liong dan Elysa Wendi, itu dipentaskan pada Art Summit V di Taman Ismail Marzuki, Jumat dan Sabtu malam lalu. Karya kelompok The Arts Fission Co. bertajuk Gosh Exchange seri II berdurasi 75 menit ini menceritakan tentang hantu dan perubahannya dari zaman ke zaman. Dalam pertunjukan itu, mereka turut pula dibantu penari Indonesia, yakni Muslimin Bagus Pranowo. Ia melakonkan orang kesurupan. Dengan dada telanjang, ia berputar-putar. Matanya membidik sesuatu. Ia sedang melihat hantu. Sesaat kemudian tubuhnya menggeliat Dan tangannya memberontak tak tentu arah. Muslimin sedang kesurupan. "Hantu akan masuk ke ruang yang kosong," ujarnya. Orang Cina percaya, bila barang duniawi berbahan kertas dibakar, barang tersebut akan sampai pada sang arwah. Seperti telepon seluler yang digunakan hantu ini ketika tiba-tiba pintu panggung yang semuanya berlatar hitam itu terbuka. Tampak sesosok hantu yang tengah menggunakannya. Ia sedang bercakap tanpa suara. Kepalanya mengangguk-angguk seperti mengerti sesuatu yang dibicarakan. Kemudian semua mendadak gelap. Bahkan aura ketakutan penonton pun terasa di tiap sudut bangku. Dua bidik cahaya merah menyala di panggung. Tampak Bobbi Chen, Wu Yi Xin, dan Yan Xiang Yi keluar dengan gaun putih selutut. Dalam bagian yang berjudul In Transition ini dikisahkan perjalanan arwah menuju alam baka. Para penari dengan mata yang hampa itu berusaha memberontak manakala kepalanya tertancap di lantai. Segala usaha dilakukannya agar dapat kembali berdiri. Usaha yang sia-sia karena takdir tidak dapat dielakkan. Kepasrahan itu ditandai dengan munculnya perempuan membawa payung bambu khas Cina. Ia memayungi para arwah menuju pintu akhirat yang telah terbuka di belakang panggung. Tarian berciri kekinian ini diakhiri dengan berkumpulnya para arwah yang tengah membuka kotak besar di depan mereka. Enam penari berkumpul membuka kotak kehidupan mereka. Ternyata kotak itu berisi perhiasan dan aksesori dunia yang pernah mereka kenakan. Ada minyak wangi, ikat pinggang, kotak kaset, kalung, gelang, bros bunga, dan jenis lainnya. Dalam gelas dan piring plastik warna merah, mereka bersulang. Kemudian masing-masing sibuk mengambil bagiannya dan saling bertukar. Tarian Angela kali ini diiringi dengan dialog antarbahasa, seperti bahasa Indonesia, Cina, dan Inggris, yang sengaja dibuat sebagai pengiring musik alunan Philip Tan, Alexina Louie, dan Henryk Mikolaj. Pertunjukan hantu ini merupakan seri keduanya, setelah tampil perdana dalam TranzDanz pada 2006 di Hungaria. Arts Fission asuhan Angela ini memilih tema hantu untuk menjembatani keragaman kepercayaan akan hal itu. "Hantu sangat unik dan takkan pernah habis diceritakan," ujar Elysa Wendi, asisten koreografi Angela, di belakang panggung. AGUSLIA HIDAYAH

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.