Seniman Bandung Merasa Dicekal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Bandung: Sejumlah seniman Kota Bandung kecewa karena Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) Bandung menolak memberikan izin gelaran Performing Art dalam pembukaan acara peluncuran Buku "Jeihan: Ambang Waras dan Gila" karya Jakob Soemardjo di Auditorium CCF Bandung Kamis (27/9). "Ini pencekalan kebebasan berekspresi," kata Konseptor performing art berjudul "Jeihan Awang Uwung Suwung" itu, Fathul A. Husen di CCF Bandung, Kamis (27/9). Fathul mengaku mengetahui soal penolakan itu Senin malam (24/9). Alasannya, kata Fathul, Direktur CCF Laurent Vergain merasa tidak menerima informasi sebelumnya tentang rencana digelarnya performing art. Padahal, rincian acara yang akan digelar sudah disampaikan lengkap dalam proposal sewa ruangan dari pihak Studio Jeihan selaku penyelenggara ke CCF dua minggu lalu. Namun begitu, Fathul melanjutkan, ternyata CCF menganggap acara performing art yang sudah dipersiapkan matang selama dua minggu itu sekadar acara sisipan yang bisa dibatalkan begitu saja. "Padahal agenda acara performing art itu juga kan sudah dipublikasikan luas ke masyarakat Bandung," katanya. Kekecewaan juga datang dari seniman Herry Dim. "Itu nggak bener, acaranya kan sudah dipublikasikan, saya jadi merasa melakukan dusta publik karena acara dibatalkan sepihak," katanya. Menurut Herry, CCF harusnya sejak awal memberitahukan pembatalan acara kepada seniman yang terlibat langsung dan sudah matang-matang mempersiapkan performing art. "Ini kan acara tinggal satu-dua hari digelar baru ada informasi pembatalan," katanya. Hal senada diungkapkan dramawan senior Mohamad Sunjaya. Dia menilai Direktur CCF kali ini tidak akomodatif terhadap seniman. Sementara itu, saat pembukaan acara Peluncuran "Jeihan: Ambang Waras dan Gila" Kamis siang (27/9), Direktur CCF, Laurent Vergain, sudah menyampaikan permohonan atas pembatalan acara performing art. "Saya mohon maaf seharusnya ada acara performing art seperti tercantum dalam di poster (publikasi) tapi terpaksa ditiadakan karena ada masalah miskomunikasi," katanya di depan hadirin acara peluncuran buku tentang Jeihan. Adapun Staf Hubungan Masyarakat Dina Matayas menyatakan, pembatalan tersebut merupakan kesalahan CCF. "Kami kurang jeli membaca sehingga menilai proposal sewa dari studio Jeihan sebagai proposal kerja sama biasa," katanya. Akibatnya, kata dia, CCF menilai acara performing art tersebut sekadar sisipan dalam acara utama peluncuran dan diskusi buku. "Status penggunaan auditorium dalam acara ini (saat peluncuran dan diskusi buku digelar) sekarang juga adalah kerja sama bukan sewa ruangan yang harus membayar sewa." Dina juga mengaku sejauh ini pihak CCF belum mengetahui konsep peroforming art yang akan digelar Fathul dan kawan-kawan. "Kami tidak sempat membacanya," katanya. Performing art berjudul "Jeihan Awang Uwung Suwung" sedianya akan melibatkan Fathul A. Husen (konsep), Herry Dim (artistik), Ine Arini (gerak), Tony Broer (gerak), Dudi Rasidin (gerak), Suhendi (musik), Yadi Mulyadi (multimedia0 dan Yayat (lighting). ERICK PRIBERKAH HARDI

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.