Vanesha Prescilla: Milea itu Tegas, Ayudia Menyenangkan

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Vanesha Prescilla akan beradu akting dengan Adipati Dolken dalam film keduanya, Teman Tapi Menikah, yang menceritakan kisah cinta Ayudia Bing Slamet dengan Ditto Percusion. instagram.com/vaneshaass

    Vanesha Prescilla akan beradu akting dengan Adipati Dolken dalam film keduanya, Teman Tapi Menikah, yang menceritakan kisah cinta Ayudia Bing Slamet dengan Ditto Percusion. instagram.com/vaneshaass

    TEMPO.CO, Jakarta -Karier Vanesha Prescilla dalam industri perfilman sedang bersinar. Debutnya di film Dilan 1990 menuai pujian. Film tersebut merupakan adaptasi dari novel Dilan: Dia adalah Dilanku tahun 1990 karya Pidi Baiq.

    Dalam film berlatar 1990 ini, Vanesha berperan sebagai Milea, kekasih Dilan. Keduanya saat itu digambarkan sebagai siswa kelas II sebuah sekolah menengah atas di Bandung. Sebagai penulis novel, Pidi Baiq berperan sangat besar, termasuk soal memilih para pemeran dalam novel.

    Pertemuan Vanesha dengan Ayah--sapaan akrab Pidi Baiq--terjadi dengan cara unik. Suatu malam, Ayah, yang merupakan juru kunci Kantin Rumah The Panas Dalam, melihat dua perempuan sedang bercengkerama di kantinnya. Salah satunya adalah Vanesha. Pidi Baiq terpana melihat Vanesha karena menurut dia mirip dengan Milea. "Kamu Lia?" Pertanyaan terdiri atas dua kata inilah yang kelak membawa Vanesha ke industri film.

    Sukses membintangi satu film membuat perempuan yang baru saja lulus SMA ini dilirik untuk membintangi film Teman Tapi Menikah. Di film yang diadaptasi dari novel Ayudia Bing Slamet tersebut, dia memerankan tokoh Ayudia. Film ini mengisahkan lika-liku perjalanan cinta Ayudia dan Ditto, suaminya. Dari persahabatan mereka sejak SMP hingga ke pelaminan.

    Perannya sebagai Ayudia juga menuai pujian. Bahkan Vanesha sampai menangis saat premiere karena aktingnya dipuji oleh Ayudia Bing Slamet. "Aku senang melihat Kak Ditto sama Kak Ayu suka film ini," kata dia.

    Peran keluarga sangat besar dalam memuluskan aktingnya. Perempuan berusia 18 tahun ini adalah adik dari aktris Sissy Prescillia yang lebih dulu tenar sebagai Milly dalam film Ada Apa Dengan Cinta? dan sudah membintangi banyak film. Kakak laki-lakinya, Jevin Julian, menapaki dunia hiburan Tanah Air sebagai produser musik, mengikuti jejak sang ibu, Ida Farida Hanas, seorang penyanyi era 1980 yang terkenal lewat judul album Sejuta Harapku.

    Vanesha mengaku dibesarkan dalam keluarga yang berkecimpung di dunia hiburan memberikan banyak keuntungan, terutama untuk berkarier di industri film. Tapi tidak berarti dia tak perlu bekerja keras. Dia memulai karier dengan menjadi model majalah, lalu merambah ke iklan. "Keluarga sangat mendukung, itu kunci sukses utama saya," kata dia.

    Kepada Tempo,dia menceritakan peran-perannya sebagai Ayudia dan Milea, serta bagaimana peran keluarganya dalam membentuk kariernya di industri film Tanah Air. Berikut ini petikan wawancara Vanesha dengan Tempo yang pernah dimuat di Koran tempo, 7 April 2018.

    Apa yang membuat Anda tertarik memerankan Ayudia dalam film terbaru?

    Jalan ceritanya yang menarik serta karakter Kak Ayu yang seru. Karakter Ayudia dalam film ini cuek tapi artsy. Meski demikian, dia sangat bertanggung jawab atas pekerjaannya, profesional, tapi tetap menyenangkan dalam waktu bersamaan.

    Apa tantangan yang paling besar untuk mendalami karakter Ayudia?

    Tantangan yang sebenarnya adalah sosok Ayudia itu sendiri yang sudah dikenal banyak orang. Ada kekhawatiran nantinya saya akan dibanding-bandingkan dengan sosok Kak Ayu. Padahal perlu digarisbawahi di sini bahwa saya sebenarnya sedang berperan. Saya hanya menceritakan kisah Ayudia dan Ditto melalui peran saya sebagai Ayu, bukan menjadi seperti Kak Ayu.

    Ada persiapan tertentu untuk memerankan karakter Ayudia dengan pas?

    Saya banyak mengobrol dengan Kak Ayu. Dari situ saya mempelajari karakternya, bagaimana dia bersikap, mencerna sebuah hal. Itu yang utama. Selain itu, ada sesi workshop sebelum syuting. Itu sangat membantu saya memahami karakter Ayu dalam film ini.

    Menurut Anda, adakah karakter Ayudia yang menarik yang tidak banyak orang tahu?Menurut saya, selama mengenal dia dan memerankan kisahnya, dia itu tomboi. Kak Ayu pernah cerita bahwa ada sebuah masa di mana dia pernah merasa menjadi bagian dari laki-laki. Selebihnya yang saya tahu, dia apa adanya banget. Dapat dilihat dari keluarga mereka yang tampil natural saja, tidak dibuat-buat.

    Selama proses syuting film TTM ini, seberapa intens Ayudia mengawal?

    Tidak setiap kali syuting dia datang, tapi beberapa kali dia ada, datang saat syuting, melihat prosesnya.

    Butuh waktu berapa lama untuk loncat mendalami karakter Ayudia setelah lebih dulu memerankan Milea?

    Saya membutuhkan waktu kurang-lebih satu bulan, selama proses reading. Sebetulnya yang dilakukan adalah melepaskan kebiasaan Vanesha untuk kemudian masuk ke dalam karakter Ayudia. Ini semua memang harus dibuat kebiasaan.

    Di antara karakter Ayudia dan Milea, mana yang lebih menantang untuk diperankan?

    Masing-masing karakter itu memiliki keunikan sendiri dan cukup menantang buat saya. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, karakter Ayudia itu cuek, profesional, tapi menyenangkan dalam waktu bersamaan. Sementara karakter Milea, Milea itu sangat tegas, mandiri, dan punya prinsip yang teguh.

    Soal pertemuan dengan Pidi Baiq yang unik, butuh waktu berapa lama buat Anda mempertimbangkan dan menerima pinangan tersebut?

    Tidak lama, karena keluarga mengetahui siapa itu Ayah Pidi Baiq dan semua keluarga mendukung saya untuk menerima tawarannya. Saat itu, saya mendiskusikannya dengan keluarga. Alhamdulillah sangat didukung.

    Saat itu Anda belum pernah terlibat dalam produksi film panjang. Lalu apa yang jadi pertimbangan untuk menerima tawaran memerankan Milea?

    Saya merasa ini kesempatan yang sangat baik, jadi kenapa tidak saya coba. Toh, keluarga mendukung sekali.

    Banyak orang yang masih penasaran, apakah sosok Milea ini betulan ada?

    Menurut Ayah Pidi Baiq, ada.

    Pernah bertemu langsung dengan Milea?Belum jadi ketemu. Pernah ada rencana, sudah direncanakan, tapi belum jadi, sehingga pertemuan tersebut belum terlaksana.

    Apakah betul akun Twitter mama lia yang kerap berbalas tweet dengan Pidi Baiq merupakan sosok asli Milea?

    Saya kurang tahu soal ini.

    Apakah ada karakter Milea yang spesial yang membuat perubahan dalam diri Anda setelah memerankannya?

    Kayaknya tidak ada, ya. Saya merasa masih menjadi Vanesha yang biasa, Vanesha yang dikenal oleh keluarga dan orang-orang terdekat sebelum saya memerankan Milea. Tidak ada yang berubah, saya tetap menjadi diri saya sendiri, karena Milea kan hanya karakter yang saya perankan he-he-he... .

    Memerankan Ayudia yang sosoknya betul-betul ada dengan memerankan Milea yang sosoknya masih abu-abu, apa plus-minusnya?

    Saat memerankan sosok Ayu di film Teman Tapi Menikah, sumber eksplorasinya jelas karena saya bisa bertukar ide, mengobrol langsung dengan orangnya. Bisa mempelajari karakternya secara langsung. Sedangkan ketika memerankan Milea, sumber pengetahuan mengenai sosok Milea hanya berasal dari novel dan Ayah Pidi Baiq, karena saya belum pernah bertemu langsung. Jadi, saya sangat mengandalkan arahan dari Ayah Pidi dan novelnya. Menurut saya, itu saja perbedaan sekaligus tantangannya.

    Punya cara-cara tertentu untuk membantu mendalami karakter yang diperankan?

    Saya memaksimalkan proses reading dan sesi workshop untuk lebih banyak menggali tentang karakter yang akan saya perankan.

    Tumbuh di lingkungan keluarga yang menggeluti dunia hiburan Indonesia sejak lama, apa saja keuntungannya?

    Banyak sekali sisi positifnya yang membantu saya berkarier di industri film. Pengalaman mereka, terutama kakak-kakak saya, bisa saya pelajari. Mereka juga sangat mengerti dan menghargai apa yang saat ini sedang saya kerjakan. Jadinya, saya merasa sangat didukung oleh keluarga. Seneng banget.

    Sering mendapat masukan dari keluarga untuk membantu berakting?

    Saya sering sekali berdiskusi dengan Kak Sissy. Itu bentuk dukungan luar biasa untuk saya yang baru saja menapaki karier di dunia peran.

    Sering didampingi juga saat syuting?

    Iya. Keluarga saya beberapa kali datang ke lokasi syuting untuk melihat dan menemani. Tapi tidak setiap hari, cuma kalau ada waktu saja.

    Saat melihat Anda berakting, sering dikritik oleh keluarga?

    Mereka lebih sering kasih masukan aja, sih. Sisanya mereka percayakan kepada tim dan sutradara yang terlibat di proyek film yang sedang saya kerjakan.

    Pernah ada perasaan khawatir atau minder bakal dibandingkan dengan kakak yang lebih dulu terjun ke film?

    Sejauh ini enggak ada. Saya percaya masing-masing memiliki karakternya yang berbeda, punya kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri.

    Apa tantangan yang Anda hadapi ketika pertama kali berakting?

    Kenyamanan itu penting. Jadi, di awal dulu, saya melakukan berbagai penyesuaian diri, mencoba mengenali situasi supaya saya nyaman dengan tim yang terlibat. Itu saja yang jadi challenge buat saya.

    Apa saja yang jadi pertimbangan ketika memutuskan menerima tawaran bermain film?

    Banyak hal yang jadi pertimbangan. Tapi yang paling utama buat saya adalah ceritanya itu sendiri, siapa saja yang terlibat di dalamnya, bagaimana karakter yang akan diperankan. Waktu juga jadi salah satu pertimbangan.

    Sudah bermain di dua film, sudah punya ciri khas dalam berakting?

    Apa, ya? Sejauh ini sebisa mungkin saya ingin sekali membawakan semua karakter, semua peran, apa pun perannya, dengan baik. Semoga bisa, ya....

    Jadi aktris adalah cita-cita sejak kecil?

    Dulu pernah kepikiran, sebetulnya. Jadi, saya kan sering melihat kakak-kakak yang berkecimpung di dunia hiburan kayaknya enak, ya. Jadi kepengen setelah melihat mereka.

    Mantap untuk menekuni karier di dunia film, berarti?

    Iya. Saya malah sudah merencanakan untuk melanjutkan pendidikan yang ada kaitannya dengan film. Harapannya, bisa semakin memantapkan saya untuk berkarya di industri ini. Semoga bisa diwujudkan segera, ya...


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.