Selasa, 16 Oktober 2018

Dana Terbatas, Hadiah Sastra Rancage Dipangkas

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menyalami sastrawan, Ajip Rosidi di perpustakaan Ajip Rosidi di Bandung, Jawa Barat, 31 Januari 2018. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-80, Ajip juga mengumumkan hadiah Sastra Rancage 2018 untuk karya sastra Sunda, Jawa, Bali, Batak, Lampung, dan Banjarmasin, yang selama ini konsisten menerbitkan buku karya sastra berbahasa ibu. TEMPO/Prima Mulia

    Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menyalami sastrawan, Ajip Rosidi di perpustakaan Ajip Rosidi di Bandung, Jawa Barat, 31 Januari 2018. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-80, Ajip juga mengumumkan hadiah Sastra Rancage 2018 untuk karya sastra Sunda, Jawa, Bali, Batak, Lampung, dan Banjarmasin, yang selama ini konsisten menerbitkan buku karya sastra berbahasa ibu. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Penerima penghargaan Hadiah Sastra Rancagé pada tahun ini berkurang. Sebabnya karena Yayasan Kebudayaan Rancagé memangkas hadiah uang. Sekarang hanya penulis karya terbaik saja yang mendapat penghargaan.

    Biasanya, Rancagé juga memberi penghargaan hadiah uang kepada para tokoh sastra daerah atas kiprah dan jasanya. "Karena bagi Yayasan Rancagé terlalu berat kalau setiap tahun harus memberikan belasan hadiah," kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi lewat keterangan tertulis, Rabu, 31 Januari 2018. Hadiah uang bagi pemenang karya dan jasa masing-masing Rp 5 juta.

    Menurut Ajip yang kini berusia 80 tahun, keputusan memangkas jumlah penerima hadiah itu ditetapkan 2017. Tahun lalu para pemenang sempat mendapat uang hadiah hingga dua kali lipat atau Rp 10 juta. Tambahan uangnya berasal dari Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar.

    Yayasan Kebudayaan Rancage mulai memberikan hadiah sejak 1989. Mereka hanya menilai kualitas sastra berbahasa daerah dalam bentuk buku yang diterbitkan. Saat itu, kata Ajip, tidak banyak pengarang yang menulis dalam bahasa ibu. Itu pun dalam bahasa Jawa dan Sunda.

    Dua tahun kemudian baru ada yang menulis dan menerbitkan buku dalam bahasa Bali. "Orang Bali setelah karyanya dihargai, sangat kelihatan gairahnya menulis," ujarnya.

    Sejak itu setiap tahun buku yang terbit bertambah dengan cepat. Pengarang muda pun bermunculan dan memperkarya kesusasteraan Bali. Kini ada enam sastra daerah yang masuk ke yayasan untuk dinilai. Selain Sunda, Jawa, dan Bali, ada sastra berbahasa Lampung, Batak, dan Banjarmasin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    David Platt di FIFA 1993 hingga Cristiano Ronaldo di FIFA 19

    Inilah deretan cover permainan EA Sport FIFA 1993 yang bersampul David Platt hingga FIFA 19 yang dibungkus gambar Cristiano Ronaldo.