Arti Merdeka Bagi Ipang BIP: Tak Ada Aturan yang Membelenggu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Vokalis band BIP, Ipang. TEMPO/Fahmi Ali

    Vokalis band BIP, Ipang. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Tentang perayaan kemerdekaan RI ke-70, setiap orang mempunyai obsesi dan pendapat sendiri-sendiri. Vokalis grup band BIP, Ipang, misalnya. Ia merasakan Hari Ulang Tahun RI ke 70 telah membuat diriya meredeka.

    Ipang sudah sangat merdeka dalam berkarya. "Gue sangat merdeka sekali menentukan apa yang mau gue tulis, apa yang mau gue bikin," ujar Ipang saat ditemui di Hangover Kitchen & Bar, Kemang, Jakarta, pada Rabu malam, 12 Agustus 2015. "Tak ada penjajah lagi."

    Penjajah yang dimaksud Ipang dalam bermusik adalah label yang mengekang kreativitas musikus dengan berbagai macam aturan-aturan. Menurut Ipang, banyak musikus lokal yang dijajah berbagai  aturan yang membuat  mereka terbelenggu dalam membuat karya.

    "Akibatnya, karya yang dihasilkan tidak sesuai dengan hati nuraninya," kata Ipang. Hal ini diketahui Ipang melalui obrolan kecil bersama sesama musikus, saat mengadakan kolaborasi. Dari obrolan tersebut, kata Ipang, musikus tersebut cenderung mengungkapkan sisi yang berbeda dengan yang terlihat di televisi.

    "Kelihatan kok, musikus yang bikin lagunya lebih bebas dan merdeka. Yang merdeka, pasti lagunya lebih jujur, lebih kena, ketimbang orang yang bikin lagu terpaksa, gak ada kemerdekaan dalam dirinya,” ujar pria berambut gimbal ini.  “Tapi itu pilihan sih, lu boleh pilih dijajah atau lu boleh pilih merdeka.”

    Meskipun begitu, kemerdekaan tidak serta merta melegalkan seseorang untuk berbuat apa yang dikehendakinya tanpa memikirkan dampaknya. Menurut Ipang, kemerdekaan, baik sebagai musikus atau bukan, harus disertai tanggung jawab. Menurutnya tidak ada kemerdekaan yang mutlak. “Makanya harus berhati-hati mengambil sikap," kata Ipang.

    LUHUR TRI PAMBUDI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.