Djudjuk Srimulat Melestarikan Kesenian Ketoprak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Djujuk Djuariah, pelawak dan primadona Srimulat, di Solo, Jawa Tengah, 1992. Selain Djudjuk, sejumlah anggota Srimulat telah lebih dulu tutup usia, seperti Mamiek Prakoso pada 2014, akibat sakit lambung, lalu Basuki, pada 2007, akibat serangan jantung. Dok TEMPO/Kastoyo Ramelan

    Djujuk Djuariah, pelawak dan primadona Srimulat, di Solo, Jawa Tengah, 1992. Selain Djudjuk, sejumlah anggota Srimulat telah lebih dulu tutup usia, seperti Mamiek Prakoso pada 2014, akibat sakit lambung, lalu Basuki, pada 2007, akibat serangan jantung. Dok TEMPO/Kastoyo Ramelan

    TEMPO.CO , Solo: Pelawak Djudjuk Djuwariah telah tutup usia. Selama hidupnya, Djudjuk memiliki peran cukup penting untuk membuat masyarakat Indonesia tetap bisa tersenyum dan tertawa melalui kelompok Srimulat. Bukan hanya itu, Djudjuk juga memiliki andil untuk memperkenalkan kesenian ketoprak kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

    Bersama salah satu anaknya, Djudjuk berhasil membuat ketoprak menjadi salah satu acara yang ditunggu-tunggu oleh penonton televisi. "Saat itu kelompok ketoprak Sri Budaya milik anak Bu Djudjuk mendapat kontrak di televisi," kata salah satu koleganya, Endah Laras yang ditemui saat melayat, Sabtu, 7 Februari 2015.

    Dalam sajiannya, kelompok ketoprak Sri Budoyo menggarap drama tradisional tersebut dalam konsep ketoprak humor. Tentu saja konsep itu tidak lepas dari garapan Srimulat yang puluhan tahun dikelolanya. "Selain itu, konsep ketoprak humor bisa menarik minat generasi muda dalam mengenal budayanya," kata Endah yang juga penyanyi keroncong tersebut.

    Selama mengelola Sri Budoyo, Djudjuk sering mengajak seniman muda dari berbagai cabang seni untuk ikut berlatih. "Saya yang berawal dari dunia keroncong juga sempat dilatih di kelompok tersebut," kata Endah. Dia juga sempat bergabung dan pentas di layar kaca bersama Sri Budoyo.

    Menurut Endah, Djudjuk selalu berhasil memancing seniman muda dari berbagai cabang seni untuk ikut mengenyam panggung ketoprak. "Bagi kami, beliau menjadi seorang sahabat sekaligus guru," katanya.

    Djudjuk meninggal di RS dr Sardjito Yogyakarta pada Jumat lalu setelah menjalani perawatan selama lima hari. Djudjuk akhirnya menyerah dengan penyakit kanker stadium empat yang dideritanya.

    Djudjuk dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Bonoloyo, Solo, Sabtu siang, 7 Februari 2015. Jenazah diberangkatkan dari rumah duka sekitar pukul 12.45 WIB.

    AHMAD RAFIQ


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.