Hadapi Era Musik Digital, Kementerian Pariwisata Gelar Seminar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI), Tantowi Yahya (2 kiri) di dampingi Penyanyi Titiek Puspa (kiri),  Ketua Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI) Dharma Oratmangun (2kanan) dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif UkusKuswara (kanan) saat syukuran Hari Musik Nasional di Jakarta, Selasa (12/3). ANTARA/Teresia May

    Ketua Umum Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI), Tantowi Yahya (2 kiri) di dampingi Penyanyi Titiek Puspa (kiri), Ketua Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI) Dharma Oratmangun (2kanan) dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif UkusKuswara (kanan) saat syukuran Hari Musik Nasional di Jakarta, Selasa (12/3). ANTARA/Teresia May

    TEMPO.CO, Jakarta -  Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (Pappri) dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan menggelar roadshow seminar mengenai peluang distribusi digital di Indonesia.

    Rencana ini terkait dengan perubahan era industri musik Indonesia dari penjualan kaset dan CD (compact disc) menjadi era digital.

    Ketua Pappri Tantowi Yahya mengatakan serangkaian seminar nasional ini merupakan bagian dari perayaan Hari Musik Nasional, yang diawali dengan seminar di Jakarta.

    Roadshow seminar tersebut akan dilaksanakan di Surabaya pada 22 September 2014, kemudian dilanjutkan di Bandung pada 29 September 2014.

    "Seminar ini diharapkan dapat memberikan pengertian kepada para pelaku industri musik untuk memanfaatkan peluang dari distribusi karya secara digital," katanya di Hotel Ibis Tamarin, Rabu, 17 September 2014.(Baca : Google Bikin Toko Musik Online )

    Dalam seminar tersebut akan dihadirkan praktisi industri digital dan musik, di antaranya, Andy Ayunir, J. Wendy, Edmond Makarim, Agus Sardjono, Rummy Aziez, Rahayu Kertawiguna, Dian Farida, dan Aldo Sianturi.

    "Saat ini distribusi digital menjadi mayoritas, semua musisi dan pemangku kepetingan di industri musik harus memahami hal itu, termasuk bagaimana melindungi karyanya dari pembajakan melalui internet," kata Tantowi.

    Direktur Pengembangan Seni dan Industri Musik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Juju Masunah menyatakan kemajuan teknologi digital sudah tak bisa dihindari. Perkembangan ini diawali oleh adanya tren ring back tone yang meningkat pada 2000-an.

    "Kami dan Pappri mencoba mencari jalan tengah untuk menguntungkan pelaku musik dan industri," katanya. Hal ini dilakukan untuk memecahkan masalah hak cipta, pembajakan, dan pengunduhan ilegal.

    Tantowi mengatakan perkiraan produk rekaman ilegal mencapai angka spektakuler, yakni 95 persen baik di dunia maya maupun dunia fisik. "Potential loss dari tindakan download ilegal mencapai angka Rp 12 triliun per tahun menurut data ASIRI pada Oktober 2010," katanya.

    Ia berharap, dengan adanya presiden baru yang cinta musik, yakni Jokowi, kelak industri musik bisa mengalami perbaikan.

    EVIETA FADJAR

    Berita Terpopuler
    The Maze Runner: Mengejar Misteri di Balik Labirin
    Merasa Kurang Diperhatikan, Pelukis Tunadaksa Demo 
    Sheila on 7 Sukses Ajak Penonton Berdendang
    Penonton Konser /rif dan Sheila On 7 Minim
    Pameran Keramik Kontemporer di Galeri Nasional  


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Obat Sakit Perut Alami

    Berikut bahan alami yang kamu perlukan untuk membuat obat sakit perut alami di rumah.